mim.or.id – Kezaliman merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah karena bertentangan dengan nilai-nilai keadilan yang menjadi dasar kehidupan manusia.
Kezaliman tidak hanya berupa tindakan yang merugikan orang lain, tetapi juga dapat berupa ketidakadilan terhadap diri sendiri, seperti mengabaikan kewajiban kepada Allah atau melakukan perbuatan yang mendatangkan dosa.
Keharaman Kezaliman dan Keadilan Mutlak Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas menyatakan bahwa Dia mengharamkan sifat zalim (menganiaya) bagi diri-Nya sendiri dan menjadikannya haram di antara sesama manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak mungkin berbuat zalim kepada hamba-Nya. Keadilan Allah tercermin dalam balasan amal, di mana setiap kebaikan sekecil apa pun akan mendapatkan balasan, begitu pula dengan kejahatan.
Bahkan, Allah menunjukkan rahmat-Nya yang luas dengan melipatgandakan pahala kebaikan hingga sepuluh kali lipat, sementara perbuatan jahat hanya dibalas setimpal dengan apa yang dikerjakan.
Baca Juga: Keteguhan Akidah dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Orang beriman tidak perlu khawatir akan perlakuan tidak adil atau pengurangan hak atas amal saleh yang telah mereka lakukan di akhirat kelak.
Ketergantungan Mutlak Hamba kepada Sang Pencipta
Allah menggambarkan posisi manusia sebagai makhluk yang sangat membutuhkan-Nya dalam segala aspek.
Manusia pada hakikatnya adalah tersesat, lapar, dan telanjang, kecuali bagi mereka yang diberikan petunjuk, makanan, dan pakaian oleh Allah.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk selalu Memohon petunjuk agar tidak tersesat dan Memohon rezeki (makanan dan pakaian) sebagai pemenuhan kebutuhan fisik.
Kemudian selalu Memohon ampunan, karena manusia senantiasa berbuat kesalahan siang dan malam, sedangkan hanya Allah yang dapat mengampuni segala dosa.
Kemahakayaan Allah dan Pertanggungjawaban Amal
Allah menegaskan bahwa Dia adalah Zat yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.
Segala bentuk ketaatan dari seluruh manusia dan jin tidak akan menambah keagungan kerajaan-Nya sedikit pun, begitu pula kemaksiatan tidak akan menguranginya.
Baca Juga: PAUDQU MIM Gelar Bimtek Sistem Monitoring dan Asesmen Santri Berbasis Digital
Allah juga memberikan perumpamaan bahwa jika seluruh makhluk meminta sesuatu dan Allah mengabulkan semuanya, hal itu tidak akan mengurangi kekayaan-Nya, melainkan hanya seperti setetes air yang melekat pada jarum yang dicelupkan ke dalam laut.
Pada akhirnya, setiap manusia bertanggung jawab penuh atas apa yang ia kerjakan. Allah mencatat semua amalan tersebut dan memberikan balasannya secara adil.
Jika seseorang mendapatkan kebaikan dalam catatannya, hendaknya ia memuji Allah, dan jika mendapatkan selain itu, hendaknya ia tidak menyesali kecuali dirinya sendiri.
