mim.or.id – Keteguhan akidah merupakan fondasi utama yang harus dimiliki setiap muslim dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Seiring berjalannya waktu, perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan beragam pemikiran yang semakin kompleks menuntut umat Islam untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan sunah.
Kesabaran dan Sikap Terhadap Pemimpin yang Dzalim
Perlu dipahami bahwa kesabaran ketika menghadapi masa sulit atau pemimpin yang tidak adil, sebagaimana pesan Anas bin Malik kepada para tabi’in saat mereka mengeluhkan kekejaman Al Hajjaj bin Yusuf.
Dalam aqidah Ahlusunnah Wal Jama’ah, umat dilarang melakukan pemberontakan atau mengangkat senjata terhadap penguasa, terutama yang masih menerapkan syariat Islam, demi menjaga tumpahnya darah dan mencegah fitnah yang lebih besar.
Prinsip ini didasarkan pada pandangan bahwa keberadaan pemimpin yang dzalim masih lebih baik daripada kondisi tanpa pemimpin sama sekali (anarki) yang dapat menimbulkan kekacauan terus-menerus.
Baca Juga: PAUDQU MIM Gelar Bimtek Sistem Monitoring dan Asesmen Santri Berbasis Digital
Hakikat Penurunan Kualitas Zaman dan Hilangnya Ilmu
Rasulullah telah mengingatkan bahwa setiap zaman yang datang akan lebih buruk dari zaman sebelumnya hingga manusia menjumpai Allah.
Keburukan zaman ini bukan merujuk pada waktu itu sendiri, melainkan pada berkurangnya orang-orang berilmu (ulama) yang meninggal dunia dan semakin jauhnya jarak manusia dari tuntunan kenabian.
Meskipun pernah muncul masa keemasan seperti khalifah Umar bin Abdul Azis yang sangat adil, secara umum kualitas zaman tetap menurun karena hilangnya keberadaan para sahabat Nabi yang merupakan indikator kebaikan suatu masa.
Penjagaan Aqidah di Tengah Tantangan Toleransi
Terakhir, sekiranya sangat penting untuk menjaga kemurnian aqidah dari pengaruh pemikiran yang menyesatkan.
Baca Juga: Kunci Meraih Surga dengan Penuh Keselamatan
Untuk itu dicatat bahwa memperingatkan tentang munculnya “ulama buruk” yang memberikan fatwa tanpa ilmu demi kepentingan tertentu, termasuk mereka yang meremehkan urusan aqidah dengan dalih toleransi.
Islam memang mengajarkan toleransi dan berbuat baik kepada non-muslim dalam urusan duniawi (muamalah) dan sosial, namun sangat melarang keras ikut serta dalam syiar agama atau perayaan ibadah mereka.
Menjaga batasan antara toleransi sosial dan kompromi aqidah adalah kunci agar umat tetap berada di atas hidayah hingga akhir hayat.
