mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jangan Menunda’ (Edisi 127, 10 Safar 1448 H).
Naskah selengkapnya:
‘JANGAN MENUNDA’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa yang membuat hati kita tunduk, lisan kita terjaga, langkah kita berhati-hati, dan hidup kita tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Sebab hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kelalaian, terlalu mahal untuk ditukar dengan kegelisahan yang tidak perlu, dan terlalu mulia untuk dipenjara oleh pikiran-pikiran yang menjauhkan kita dari Allah.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita berbicara tentang satu keadaan yang banyak menimpa manusia, bahkan boleh jadi menimpa diri kita sendiri. Keadaan itu adalah hidup yang menunda.
Banyak orang yang berada di tengah keluarganya, di tengah pekerjaannya, di tengah nikmat yang Allah berikan, tetapi pikirannya terus berlari ke masa depan yang belum pasti. Ia berkata dalam hatinya, “Nanti aku akan bahagia kalau sudah punya ini. Nanti aku akan tenang kalau masalah itu selesai. Nanti aku akan dekat kepada Allah kalau keadaan sudah lebih lapang.”
Akhirnya, ia tidak benar-benar hidup di hari ini. Ia menunda syukur, menunda taubat, menunda ibadah, menunda berbakti kepada orang tua, menunda memperbaiki hubungan dengan pasangan dan keluarga, bahkan menunda untuk merasa bahagia dengan nikmat yang telah Allah berikan.
Padahal, saudara-saudaraku, umur tidak pernah menunggu kesiapan kita. Waktu terus berjalan. Hari berganti. Kesempatan datang lalu pergi. Dan manusia sering baru sadar terhadap nikmat ketika nikmat itu telah diangkat oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11).
Para ulama menjelaskan bahwa di antara makna petunjuk hati dalam ayat ini adalah Allah menenangkan hati seorang mukmin. Ia sadar bahwa apa yang menimpanya tidak terjadi tanpa ilmu Allah, tanpa hikmah Allah, dan tanpa kehendak Allah. Maka hatinya tidak tenggelam dalam penyesalan yang merusak, tidak larut dalam keluhan yang melemahkan, dan tidak hidup dalam prasangka buruk kepada Rabb-nya.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Banyak manusia sesungguhnya tidak hanya lelah karena beratnya kehidupan, tetapi juga lelah karena cara ia memikirkan kehidupan. Ia membawa beban masa lalu yang seharusnya sudah ia serahkan kepada Allah. Ia mengulang-ulang luka lama, kegagalan lama, ucapan orang lain yang menyakitkan, kekecewaan yang pernah terjadi, seolah-olah dengan memutarnya setiap hari, ia akan sembuh. Padahal yang terjadi sebaliknya: hatinya semakin sempit, dadanya semakin berat, dan hidupnya semakin terasa gelap.
Ada orang yang setiap hari berkata kepada dirinya sendiri, “Aku gagal. Aku tidak beruntung. Aku tidak mungkin berubah. Aku tidak akan bahagia.” Kalimat-kalimat seperti ini, jika terus diulang, bisa menjadi penjara tanpa dinding. Tidak tampak oleh manusia, tetapi sangat kuat mengikat hati.
Maka Islam datang membimbing hati kita. Islam tidak mengajarkan kita mengingkari kenyataan. Islam tidak mengatakan bahwa dunia ini tanpa ujian. Tetapi Islam mengajarkan kita bahwa di balik ujian ada hikmah, bersama kesulitan ada kemudahan, dan di atas semua keadaan ada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui.
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Perhatikanlah, Allah tidak mengatakan bahwa hati menjadi tenang semata-mata karena harta, jabatan, popularitas, pujian manusia, rumah yang luas, atau keadaan dunia yang selalu sesuai keinginan. Semua itu bisa menjadi nikmat jika disyukuri, tetapi ia bukan sumber ketenangan yang hakiki. Ketenangan yang sejati lahir dari hati yang mengenal Allah, mengingat Allah, ridha kepada Allah, dan kembali kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Inilah cara pandang iman.
Seorang mukmin tidak selalu dapat memilih semua peristiwa yang datang dalam hidupnya, tetapi ia dapat memilih bagaimana menyikapinya dengan bimbingan iman. Ketika diberi nikmat, ia tidak sombong. Ketika diuji, ia tidak putus asa. Ketika berhasil, ia bersyukur. Ketika gagal, ia mengambil pelajaran. Ketika kehilangan, ia berkata, “إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.” Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Betapa banyak orang yang menunda hidupnya.
Seorang pemuda berkata, “Nanti kalau sudah mapan, aku akan lebih serius beribadah.”
Seorang pekerja berkata, “Nanti kalau keuangan sudah stabil, aku akan lebih berbakti kepada orang tua.”
Seorang suami berkata, “Nanti kalau pekerjaan tidak terlalu sibuk, aku akan lebih perhatian kepada istri dan anak.”
Seorang istri berkata, “Nanti kalau keadaan lebih tenang, aku akan lebih lembut kepada keluarga.”
Ada lagi yang berkata, “Nanti kalau masalahku selesai, aku akan mulai membaca Al-Qur’an, memperbaiki shalat, dan kembali kepada Allah.”
Namun, siapa yang menjamin bahwa “nanti” itu akan datang? Siapa yang menjamin bahwa umur masih tersisa? Siapa yang menjamin bahwa orang tua masih ada ketika kita merasa sudah siap berbakti? Siapa yang menjamin bahwa hati keluarga masih hangat setelah sekian lama diabaikan? Siapa yang menjamin bahwa hati kita masih lembut jika terus menunda taubat?
Karena itu, jangan menunggu hidup sempurna untuk mulai taat. Jangan menunggu hati tanpa luka untuk mulai bersyukur. Jangan menunggu semua urusan selesai untuk mulai dekat kepada Allah. Mulailah dari hari ini, dari keadaan yang ada, dari kemampuan yang kita miliki.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim).
Hadits ini mengajarkan keseimbangan yang indah. Seorang mukmin tidak hanya pasrah tanpa ikhtiar. Ia berusaha. Ia memperbaiki diri. Ia mengambil sebab. Tetapi ia juga tidak bersandar kepada dirinya sendiri. Ia meminta pertolongan kepada Allah. Ia tidak berkata, “Aku pasti bisa karena aku kuat.” Tetapi ia berkata, “Aku berusaha, dan kepada Allah aku memohon pertolongan.”
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Di antara sebab hati menjadi sempit adalah terlalu sering melihat orang yang berada di atas kita dalam urusan dunia. Kita melihat rumah orang lain, kendaraan orang lain, pekerjaan orang lain, keluarga orang lain, pencapaian orang lain, lalu kita lupa melihat nikmat yang Allah letakkan di tangan kita sendiri.
Di zaman ini, perbandingan semakin mudah masuk ke hati. Melalui layar kecil di tangan kita, kita melihat kehidupan orang lain yang tampak indah, tertata, bahagia, dan sempurna. Padahal yang kita lihat sering hanya bagian luar, hanya potongan kecil, hanya sisi yang ingin ditampilkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan obat yang sangat agung:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Sebab hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini bukan melarang kita memiliki cita-cita. Bukan melarang kita bekerja keras. Tetapi hadits ini mengajarkan agar hati tidak rusak oleh perbandingan.
Sebab orang yang selalu melihat ke atas dalam urusan dunia akan mudah merasa kurang, padahal ia sedang tenggelam dalam nikmat. Ia punya kesehatan, tetapi tidak melihatnya. Ia punya keluarga, tetapi tidak mensyukurinya. Ia punya iman, tetapi kurang menjaganya. Ia punya waktu, tetapi menyia-nyiakannya.
Marilah kita belajar melihat nikmat yang dekat. Udara yang masih kita hirup. Mata yang masih melihat. Telinga yang masih mendengar. Lisan yang masih bisa berdzikir. Kaki yang masih bisa melangkah ke masjid. Hati yang masih bisa tersentuh oleh nasihat. Semua itu adalah nikmat besar.
Maka hiduplah hari ini dengan iman. Jangan terus-menerus hidup di masa lalu yang telah pergi. Jangan pula tenggelam dalam kecemasan terhadap masa depan yang belum datang. Ambil pelajaran dari masa lalu. Siapkan bekal untuk masa depan. Tetapi jangan rusak hari ini dengan pikiran yang tidak membawa manfaat.
Allah masih memberi kita waktu. Maka gunakan waktu itu untuk shalat dengan lebih khusyuk, meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti, memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, berbuat baik kepada orang tua, mendidik anak dengan lembut, menjaga pasangan dengan kasih sayang, dan memperbanyak dzikir kepada Allah.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Marilah kita berhati-hati dari tenggelam dalam pikiran yang berlebihan. Memikirkan masa lalu secara terus-menerus tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Mencemaskan masa depan secara berlebihan tidak akan membuat semua urusan menjadi pasti sesuai keinginan. Yang diperintahkan kepada kita adalah bertaubat dari masa lalu, mengambil pelajaran darinya, berikhtiar untuk masa depan, lalu bertawakal kepada Allah.
Jangan biarkan setan membuat kita putus asa. Jangan biarkan dosa masa lalu membuat kita merasa tidak pantas kembali kepada Allah. Pintu Allah tidak pernah tertutup bagi hamba yang ingin pulang.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini adalah panggilan yang lembut dari Allah kepada hamba-hamba yang berdosa. Allah tidak memanggil mereka dengan kalimat yang menjauhkan, tetapi dengan kalimat, “Wahai hamba-hamba-Ku.” Seakan-akan Allah membukakan pintu harapan: sebesar apa pun dosamu, jangan putus asa dari rahmat-Ku. Kembalilah kepada-Ku.
Maka jangan katakan, “Aku sudah terlalu jauh.” Jangan katakan, “Aku sudah terlambat.” Jangan katakan, “Hidupku tidak mungkin berubah.” Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, selama matahari belum terbit dari barat, pintu taubat masih terbuka.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Jika hati terasa sempit, bacalah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia.” (HR. Bukhari).
Perhatikanlah doa ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari beban batin dan beban kehidupan. Ini menunjukkan bahwa Islam memahami kelemahan manusia. Islam tidak mencela orang yang sedih. Islam tidak merendahkan orang yang gelisah. Tetapi Islam membimbing kesedihan itu agar kembali kepada Allah, bukan kepada keputusasaan.
Karena itu, jadikan Jumat ini sebagai awal yang baru. Katakan kepada diri sendiri: cukup sudah aku merusak hari ini dengan penyesalan yang tidak mendekatkanku kepada Allah. Cukup sudah aku menunda kebaikan. Cukup sudah aku menggantungkan ketenangan kepada sesuatu yang belum tentu datang. Mulai hari ini, aku akan bersyukur atas yang ada, memperbaiki yang mampu aku perbaiki, dan menyerahkan yang tidak aku kuasai kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sungguh Kami akan beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Inilah kehidupan yang kita cari: bukan hidup tanpa masalah, tetapi hidup yang baik bersama iman. Hidup yang hatinya tenang karena ridha. Hidup yang lisannya basah dengan dzikir. Hidup yang langkahnya terarah kepada akhirat. Hidup yang tidak menunggu dunia sempurna untuk mulai bersujud kepada Allah.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Marilah kita berdoa kepada Allah…
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, teguhkan kami di atas tauhid. Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan hati kami bergantung hanya kepada-Mu. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir dan istighfar. Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.
Ya Allah, lapangkanlah rezeki kaum muslimin. Berkahilah usaha mereka. Jauhkan mereka dari riba, judi, penipuan, korupsi, dan jalan-jalan haram. Ya Allah, siapa pun di antara kami yang sedang terlilit utang, mudahkanlah ia melunasinya. Siapa yang sedang kehilangan pekerjaan, bukakanlah baginya pintu rezeki yang halal. Siapa yang sedang sakit, sembuhkanlah ia. Siapa yang sedang cemas dan depresi, tenangkanlah hatinya dengan iman dan pertolongan-Mu.
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kami kepada keadilan dan kebaikan. Anugerahkan kepada mereka rasa takut kepada-Mu dalam mengurus rakyat. Jagalah negeri kami dari kerusakan, perpecahan, kezaliman, bencana, dan fitnah yang tampak maupun tersembunyi.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Lapangkan kesulitan mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi yang lemah, dan turunkan pertolongan-Mu kepada mereka.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
