mim.or.id – Ketenangan sejati tidak selalu ditemukan dalam banyaknya harta, kenyamanan dunia, atau kesenangan yang bersifat sementara.
Hati manusia membutuhkan tempat untuk kembali dan bersandar, dan salah satu jalan yang Allah berikan adalah shalat.
Melalui shalat, seorang hamba berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan untuk menghadap Allah, mengadukan segala kegelisahan, serta mengingat bahwa setiap persoalan berada dalam pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Bagaimana rasanya saat tiba-tiba lampu di ruangan ini padam? Ada sedikit kepanikan, udara mulai terasa pengap, dan kita meraba-raba mencari sumber cahaya.
Kejadian “mati lampu” di tengah taklim kita hari ini adalah teguran lembut dari Allah. Kita begitu khawatir dengan kegelapan yang hanya berlangsung sepuluh menit, namun seringkali abai terhadap kegelapan yang lebih pekat kegelapan alam kubur, kegelapan bid’ah, dan kegelapan maksiat.
Baca Juga: Hakikat Syukur: Ibrah Negeri Saba dan Peringatan Bencana
Manusia adalah makhluk yang fakir akan cahaya. Namun, cahaya yang kita butuhkan bukanlah sekadar pendar lampu emergency, melainkan cahaya iman yang Allah .
Masjid: Cahaya di Tengah Kelalaian Dunia
Dalam rangkaian tafsir Surah An-Nur, Allah menegaskan bahwa cahaya-Nya terpancar di rumah-rumah yang ditinggikan untuk menyebut nama-Nya: Fi buyutin adzinallahu an turfa.
Itulah masjid. Memakmurkan masjid bukan sekadar membangun menara yang menjulang, melainkan melalui dua jalur pertama Hissiah (Fisik) Membangun, merenovasi, dan menjaga kebersihannya.
Kedua, Maknawiah (Ibadah): Menghidupkan shalat, zikir, dan ilmu. Inilah “ruh” utama sebuah masjid. Allah berfirman dalam Surat At-Taubah Ayat 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ
Artinya: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Penghormatan bagi Penjaga Kebersihan
Dahulu, ada seorang wanita yang tugasnya hanya satu: menyapu dan membersihkan masjid Nabi. Di mata manusia, mungkin ia tidak terpandang.
Baca Juga: PQ Putra MIM Perkuat Kompetensi Guru melalui Pelatihan
Saat ia wafat di malam hari, para sahabat menguburkannya tanpa memberi tahu Rasulullah karena tidak ingin mengganggu istirahat beliau. Namun, Nabi merasa kehilangan.
Saat tahu ia telah wafat, Nabi mendatangi kuburnya dan menshalatinya secara khusus. Ini adalah bentuk ihtiram (penghormatan) luar biasa bagi siapa saja yang memuliakan rumah Allah, walau hanya dengan mengambil sepotong sampah kecil.
Perbandingan: Masjid vs. Pasar
Allah menjadikan masjid sebagai tempat yang paling dicintai, sementara pasar adalah tempat yang paling dibenci. Mengapa? Bukan karena jual belinya, melainkan karena potensi kelalaian yang ada di dalamnya.
Masjid Tempat Paling Dicintai tetapi Pasar Tempat Paling Dibenci. Di masjid Zikir dan mengingat Allah namun di Kelalaian, sumpah palsu, dan dunia.
Di masjid Ketenangan dan Cahaya Iman sebaliknya di Ghisy (kecurangan) dan ikhtilat
Perhatikanlah, pembangunan Mall seringkali selesai dalam hitungan bulan dengan kemegahan yang menyilaukan.
Namun, pembangunan Masjid sering tersendat bertahun-tahun dengan proposal yang beredar di jalanan. Sungguh benar sabda Nabi, surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai hawa nafsu (al-makarih).
