mim.or.id – Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah ketika memperoleh nikmat, tetapi juga kesadaran hati bahwa seluruh karunia berasal dari Allah serta menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada-Nya.
Kisah Negeri Saba menjadi salah satu pelajaran penting tentang bagaimana sebuah kaum yang sebelumnya hidup
Hakikat Kehidupan sebagai Pergantian Peran (Sunatullah)
Sejarah manusia bukanlah sekadar deretan angka dan peristiwa yang berlalu tanpa makna. Di balik setiap peradaban yang bangkit dan runtuh, terdapat sebuah pola ketetapan Allah yang bersifat abadi atau Sunatullah.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah menjadikan kita sebagai khalaifa fil ardhi penerus yang hidup di bumi secara bergantian. Panggung dunia ini hanyalah pergiliran.
Baca Juga: PQ Putra MIM Perkuat Kompetensi Guru melalui Pelatihan
Para pelakonnya boleh silih berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya, namun hukum-hukum Allah yang mengatur sebab-akibat kejayaan dan kehancuran suatu bangsa tetaplah sama.
Kita harus menyadari bahwa stabilitas spiritual dan sosial kita tidak semata-mata dibangun di atas kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, melainkan pada dua variabel utama: syukur dan kufur.
Sejarah telah membuktikan bahwa nasib suatu negeri ditentukan oleh bagaimana penduduknya menyikapi nikmat Sang Pencipta.
Nikmat Makanan dan Keamanan: Dua Pilar Utama Eksistensi Manusia
Detik ini, saat kita menghirup udara dengan lega dalam dekapan ukhuwah, melaksanakan salat dengan tenang, dan menyerap tetesan ilmu tanpa rasa waswas, sesungguhnya kita sedang berada dalam puncak anugerah.
Namun, cobalah kita menoleh sejenak ke belahan dunia lain atau mungkin di sudut-sudut yang dekat dengan kita. Betapa banyak saudara kita yang terampas nikmat keamanannya; mereka terusir dari kampung halaman, nyawa senantiasa terancam, dan harta benda mereka ludes seketika.
Allah telah memuliakan anak cucu Adam dengan menundukkan (sakhara) segala yang ada di langit melalui hujan dan segala yang ada di bumi sebagai hamparan rezeki.
Bahkan, Allah menantang dengan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah: “Siapa gerangan yang berani mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah dari rezeki untuk hamba-hamba-Nya?” Segala kelezatan di dunia ini disediakan bagi orang beriman sebagai bentuk pemuliaan.
Baca Juga: Haflah Tasmi’ MIM: Santri Tuntaskan Hafalan 15 Juz
Namun, berhati-hatilah jika nikmat ini tidak dijaga dengan syukur. Al-Qur’an menggunakan metafora yang sangat dalam untuk menggambarkan puncak penderitaan akibat kekufuran: Libasul ju’i wal khauf (pakaian kelaparan dan ketakutan).
Ibrah Negeri Saba: Dari Kemakmuran “Baldatun Thayyibatun” Menuju Kehancuran
Salah satu studi kasus paling nyata mengenai dinamika nikmat adalah kisah Negeri Saba.
Bayangkan sebuah peradaban yang diberkati dengan Jannatani yaminin wa syimal dua hamparan kebun luas yang menghijau sepanjang mata memandang, yang dibelah oleh jalan utama yang rapi di tengahnya.
Saba adalah representasi ideal dari Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur sebuah negeri yang makmur secara material dan berada di bawah naungan ampunan serta rida Allah.
Namun, kemakmuran tanpa integritas spiritual adalah sebuah kerapuhan yang tersembunyi. Penduduk Saba mulai berpaling dan lupa diri, terjebak dalam tabiat buruk manusia yang cenderung menyombongkan diri saat merasa cukup (ar-ra’ustaghna).
Akibatnya, Allah mengirimkan Sailal Arim, banjir bandang dahsyat yang menghancurkan segalanya. Kebun-kebun produktif yang dulunya menjadi sumber kesejahteraan seketika digantikan oleh pohon-pohon berduri dan buah-buah yang pahit.
