mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Asyura dan Ahlul Bait’ (Edisi 122, 4 Muharram 1448 H).
Naskah selengkapnya:
‘ASYURA DAN AHLUL BAIT‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang bukan sekadar terucap di lisan, tetapi hadir dalam hati, membimbing pilihan hidup, menjaga lisan dari celaan, menahan tangan dari kezaliman, dan menuntun ibadah agar tetap di atas Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Saat ini kita berada dalam bulan yang agung, bulan Muharram, salah satu dari empat bulan haram yang Allah muliakan. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36).
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kita agar tidak menzalimi diri sendiri, terlebih pada bulan-bulan yang dimuliakan. Zalim kepada diri bukan hanya dengan dosa besar yang tampak di mata manusia. Zalim kepada diri juga terjadi ketika hati lalai dari Allah, ketika lisan mudah menyakiti saudara Muslim, ketika ibadah dicampuri riya, ketika cinta kepada orang saleh berubah menjadi sikap berlebih-lebihan yang melanggar tauhid.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa bulan-bulan haram itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Disebut dalam hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram: tiga berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang berada antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Muharram disebut pula sebagai Syahrullah, bulan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).
Penyandaran bulan ini kepada Allah adalah penyandaran pemuliaan. Maka hendaknya seorang Muslim memperbanyak amal saleh di dalamnya, memperbanyak istighfar, menjaga diri dari dosa, memperbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, dan saudara seiman.
Jamaat Jum’at yang dirahmati Allah,
Di antara hari yang agung dalam bulan Muharram adalah hari Asyura, yaitu hari kesepuluh Muharram. Hari ini bukan hari yang kita isi dengan ratapan tahunan, bukan pula dengan perbuatan menyakiti diri, bukan dengan ritual yang tidak diajarkan Nabi ﷺ sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Syiah yang mengklaim cinta Ahlul Bait.
Hari Asyura dalam tuntunan Rasulullah ﷺ adalah hari untuk bersyukur kepada Allah.
Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Ini hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”.
Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa. Dalam riwayat Muslim, ketika disebut bahwa hari itu diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani, Nabi ﷺ bersabda:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.”.
Namun sebelum tahun berikutnya datang, Rasulullah ﷺ wafat. Karena itu, banyak ulama menganjurkan puasa tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, agar kita mengikuti Nabi ﷺ dan menyelisihi cara khas Ahli Kitab dalam mengagungkan hari tersebut.
Inilah jalan kita Ahlus Sunnah: jalan ittiba’, bukan ibtida’; mengikuti Sunnah Nabi, bukan mengada-adakan.
Kita mencintai Allah dengan cara yang Allah syariatkan. Kita mencintai Rasulullah ﷺ dengan cara mengikuti sunnahnya. Kita mencintai Ahlul Bait dengan cara memuliakan mereka, mendoakan mereka, mengikuti kebaikan mereka, dan menjaga tauhid yang mereka perjuangkan. Bukan sebaliknya, justru melakukan ragam ritual syirik atas nama cinta Ahlul Bait.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Pada hari Asyura, sejarah juga mengingatkan kita pada peristiwa yang sangat menyedihkan: terbunuhnya cucu Rasulullah ﷺ, Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Tidak ada seorang Muslim yang hatinya lurus kecuali ia mencintai Al-Husain. Tidak ada seorang Muslim yang mengenal kedudukan keluarga Nabi ﷺ kecuali ia bersedih atas kezaliman yang menimpa beliau.
Al-Husain radhiyallahu ‘anhu adalah putra Ali bin Abi Thalib dan Fathimah radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah ﷺ, termasuk pemuka pemuda penghuni surga. Terbunuhnya beliau adalah musibah besar, peristiwa yang menyayat hati kaum Muslimin.
Namun kesedihan dalam Islam tetap dibimbing oleh wahyu. Air mata boleh menetes, hati boleh sedih, tetapi lisan tidak boleh menentang takdir Allah, tangan tidak boleh melakukan kemungkaran, dan ibadah tidak boleh berubah menjadi ritual yang tidak dicontohkan.
Kakek al-Husain sendiri, Rasulullah ﷺ telah melarang ratapan jahiliah. Beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, mencintai Al-Husain bukan dengan menyakiti diri.
Mencintai Al-Husain bukan dengan mencela para sahabat.
Mencintai Al-Husain bukan dengan mengangkat kedudukannya selayaknya dia adalah tuhan.
Cinta yang benar adalah cinta yang tunduk kepada Allah, mengikuti Rasulullah ﷺ, dan menjaga adab terhadap semua hamba pilihan Allah.
Ahlussunnah meyakini bahwa Ahlul Bait memiliki kedudukan agung dalam Islam. Rasulullah ﷺ berwasiat:
أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
“Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku.” (HR. Muslim).
Tentang Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin. Semoga Allah mendamaikan melalui dirinya dua kelompok besar dari kaum Muslimin.” (HR. Bukhari).
Dan beliau ﷺ berdoa untuk Al-Hasan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ، وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُ
“Ya Allah, aku mencintainya, maka cintailah dia, dan cintailah orang yang mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah aqidah kita: mencintai Nabi ﷺ, mencintai istri-istri beliau, mencintai keturunan beliau, mencintai kerabat beliau yang beriman dan bertakwa, serta mencintai para sahabat beliau.
Kita tidak mempertentangkan cinta kepada Ahlul Bait dengan cinta kepada sahabat. Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Fathimah, Al-Hasan, Al-Husain, para istri Nabi, para Muhajirin dan Anshar; mereka semua memiliki kedudukan sesuai dengan dalil yang shahih.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100).
Coba kita renungkan sejenak, jamaah sekalian…
Betapa sering manusia mengaku cinta, tetapi cintanya tidak membawanya kepada ketaatan.
Betapa sering manusia mengaku membela agama, tetapi lisannya dipenuhi celaan.
Betapa sering manusia mengaku memuliakan orang saleh, tetapi ia melupakan Rabb orang saleh itu.
Ahlul Bait Rasulullah itu adalah keluarga tauhid. Mereka mengajarkan kita untuk beribadah hanya kepada Allah, berdoa hanya kepada Allah, berharap hanya kepada Allah, dan takut hanya kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Maka cinta yang benar melahirkan ittiba’.
Cinta yang benar membuat kita berpuasa Asyura karena mengikuti Nabi ﷺ.
Cinta yang benar membuat kita memuliakan Ahlul Bait tanpa ghuluw.
Cinta yang benar membuat kita menjaga lisan terhadap sahabat Nabi.
Kisah hidup para Sahabat dan Ahlul Bait adalah kisah cinta dan kasih sayang dalam balutan ukhuwah/persaudaraan Islam, hingga datang para penggagas agama Syiah yang selalu ingin menggambarkan kebencian dan permusuhan antara para Sahabat Nabi dan Ahlul Bait beliau. Sebuah klaim yang terbantahkan bagi siapapun yang mau mempelajari sejarah dengan hati dan pikiran yang jernih!
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Pesan khutbah kita pada hari ini jelas: Muharram adalah bulan mulia. Asyura adalah hari syukur dan ibadah, bukan hari bid’ah dan permusuhan.
Ahlul Bait wajib kita cintai, muliakan, dan doakan. Tetapi kecintaan kepada mereka tidak boleh mengeluarkan kita dari tauhid, tidak boleh membuat kita berdoa kepada selain Allah, dan tidak boleh menjadikan kita mencela para sahabat Nabi ﷺ.
Sesungguhnya Ahlul Bait sendiri adalah manusia-manusia yang tunduk kepada Allah. Mereka tidak ridha bila dijadikan tandingan bagi Allah. Mereka tidak ridha bila nama mereka dipakai untuk membenarkan kesyirikan.
Mereka tidak ridha bila cinta kepada mereka dijadikan alasan untuk mencaci para sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka adalah keluarga ilmu, keluarga ibadah, keluarga keberanian, keluarga kesabaran, dan keluarga tauhid.
Kalau para nabi saja tidak mungkin mengajak manusia menyembah diri mereka, maka terlebih lagi keluarga Nabi ﷺ. Mereka tidak mengajarkan umat untuk meminta kepada kubur, meminta kepada orang yang telah wafat, atau meyakini bahwa makhluk mengetahui yang gaib secara mutlak. Mereka mengajarkan kita agar menjadi Rabbani: dekat kepada Allah dengan ilmu, amal, tauhid, dan ketundukan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Maka jagalah keseimbangan yang indah dalam agama Islam kita ini: cinta tanpa ghuluw/sikap berlebihan, hormat tanpa ibadah, sedih tanpa ratapan jahiliah, tegas dalam tauhid tanpa kasar kepada manusia. Jangan sampai kita mengaku membela keluarga Nabi, tetapi akhlak kita jauh dari akhlak Nabi.
Asyura seharusnya mengingatkan kita kepada syukur. Allah menyelamatkan Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya dari Fir’aun. Allah menolong kebenaran atas kebatilan. Maka setiap Muslim hendaknya yakin: kezaliman tidak akan abadi. Kesombongan tidak akan selamanya berdiri. Dunia mungkin memberi panggung kepada orang-orang zalim, tetapi akhir keputusan ada di tangan Allah.
Asyura juga mengingatkan kita kepada kesabaran. Al-Husain radhiyallahu ‘anhu wafat dalam keadaan dizalimi. Tetapi kemuliaan beliau tidak runtuh karena itu semua. Kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari panjang usia, banyak harta, atau kuatnya kedudukan. Kemuliaan diukur dari iman, tauhid, takwa, dan akhir hidup di atas ridha Allah.
Maka marilah kita jadikan momentum Muharram dan Asyura untuk memperbarui taubat. Bagi yang mampu, berpuasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram, atau setidaknya hari kesepuluh. Perbanyak amal saleh. Perbaiki hubungan keluarga. Doakan orang tua. Maafkan kesalahan saudara. Jaga lisan dari provokasi. Jangan mudah menyebarkan potongan berita yang membakar kebencian.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Marilah kita berdoa kepada Allah…
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin.
Ya Allah, teguhkan kami di atas tauhid. Jauhkan kami dari syirik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadikan hati kami bergantung hanya kepada-Mu. Jadikan lisan kami basah dengan dzikir dan istighfar. Jadikan akhir hidup kami husnul khatimah.
Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Nabi-Mu ﷺ, cinta kepada Ahlul Bait beliau, dan cinta kepada para sahabat beliau.
Ya Allah, perbaikilah keluarga kami. Jadikan rumah-rumah kami rumah yang mengenal shalat, Al-Qur’an, sunnah Nabi-Mu, dan akhlak yang mulia. Lindungi anak-anak kami dari fitnah syahwat dan syubhat, dari pergaulan buruk, dari tontonan yang merusak, dan dari jalan yang menjauhkan mereka dari-Mu.
Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin. Bimbinglah para pemimpin kami kepada keadilan dan kebaikan. Anugerahkan kepada mereka rasa takut kepada-Mu dalam mengurus rakyat. Jagalah negeri kami dari kerusakan, perpecahan, kezaliman, bencana, dan fitnah yang tampak maupun tersembunyi.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Lapangkan kesulitan mereka, sembuhkan yang sakit, beri makan yang lapar, lindungi yang lemah, dan turunkan pertolongan-Mu kepada mereka.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
