mim.or.id – Saatul Usrah secara harfiah berarti saat-saat yang sangat berat. Saatul Usrah terdapat Pelajaran Agung dari Perang Tabuk. Momentum yang dimaksudkan juga disebutkan dalam Al-Qur’an.
Kondisi yang Sangat Berat
Perang Tabuk merupakan perang di mana kaum Muslimin akan menghadapi pasukan Romawi di wilayah bernama Tabuk.
Perjalanan menuju Tabuk dari Madinah menempuh jarak sekitar 600 hingga 700 kilometer. Bayangkan, perjalanan sejauh itu ditempuh tanpa adanya bus atau truk, melainkan hanya dengan menaiki unta atau kuda.
Selain tantangan jarak dan transportasi, Perang Tabuk terjadi ketika kaum Muslimin di Madinah sedang menghadapi kondisi paceklik dan situasi ekonomi yang sangat-sangat berat.
Kondisi inilah yang membuat Perang Tabuk pantas disebut sebagai Saatul Usrah (momentum yang sangat sulit).
Perlombaan dalam Berkorban
Baca Juga: Menyikapi Perbedaan: Pelajaran dari Sirah Nabi Muhammad
Meskipun dalam kondisi sulit, Rasulullah memerintahkan persiapan perang, dan para Sahabat pun menyiapkan diri. Nabi memberikan motivasi agar para Sahabat berinfak dan bersedekah untuk persiapan tersebut.
Di tengah kesulitan itu, semangat pengorbanan Sahabat menjadi cerminan keimanan yang luar biasa:
Kisah Utsman bin Affan: Beliau menjadi orang pertama yang menyumbangkan 100 ekor unta lengkap dengan perlengkapannya. Tidak hanya itu, beliau memberikan tambahan 200 ekor unta lagi, dan kemudian 100 ekor unta lagi.
Bahkan, dalam satu riwayat disebutkan bahwa total sumbangan Utsman bin Affan dalam Perang Tabuk mencapai 900 ekor unta. Selain hewan, beliau juga memberikan 4.000 Dinar.
Kisahm Abu Bakar Ash-Shiddiq: Dalam peristiwa ini, Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya kepada Nabi . Ketika ditanya oleh Nabi apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, ia menjawab:
“Saya tinggalkan untuk mereka Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya”.
Kisah sahabat Miskin: Sahabat-sahabat yang tidak memiliki banyak harta juga berlomba-lomba berinfak. Mereka menyumbangkan apa yang mereka miliki, seperti satu gantang kurma atau dua gantang kurma.
Sumbangan sekecil itu mungkin cukup untuk memberi makan seorang Mujahid (pejuang) di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kisah Al-Bakaun
Baca Juga: Hijrah: Pekerjaan Seumur Hidup dan Berkelanjutan
Ada sekelompok Sahabat yang lebih miskin lagi, yang datang menemui Nabi meminta izin untuk ikut berjihad, namun Nabi tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan kendaraan bagi mereka.
Sahabat-sahabat yang tidak mampu berangkat ini pulang dalam keadaan menangis. Mereka kemudian dikenal sebagai Al-Bakaun (para Sahabat yang menangis).
Salah satu Sahabat yang tidak punya apa-apa untuk disumbangkan (bahkan kurma pun tidak ada), menunjukkan pengorbanan yang ekstrem.
Ia berkata kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa ia tidak memiliki apa-apa, dan sebagai gantinya, ia menyumbangkan kehormatannya. Ia mengatakan bahwa siapapun yang berbuat zalim kepadanya, maka ia maafkan. Ini adalah sumbangan yang hanya ia miliki.
Pelajaran bagi Masa Kini
Saatul Usrah mengajarkan kita tentang pengorbanan total di masa-masa tersulit. Mengambil pelajaran dari Perang Tabuk, umat Muslim saat ini pun didorong untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan meskipun kecil.
Seperti 1.000 atau 10.000 Rupiah untuk mendukung perjuangan yang sedang berlangsung (misalnya pertempuran di Gaza), ditambah dengan doa yang tidak terputus-putus.
