Home Artikel Aqidah Selalu Meminta Hidayah: Tidak Ada yang Aman dari Godaan Setan

Selalu Meminta Hidayah: Tidak Ada yang Aman dari Godaan Setan

0
Berdoa
Ilustrasi sedang berdoa/Unplash

mim.or.id – Setiap Muslim, dianjurkan selalu meminta hidayah karena tidak ada yang aman dari godaan setan dan memanjatkan doa memohon petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan membaca:

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus”. Permintaan ini bukan tanpa alasan, melainkan didorong oleh dua sebab utama yang menegaskan kerentanan iman manusia selama masih hidup di dunia ini.

Selama Hidup, Tiada Jaminan Keselamatan

Alasan pertama mengapa kita harus terus-menerus meminta petunjuk adalah karena selama kita masih hidup, belum ada jaminan bahwasanya kita sudah selamat dan pasti masuk surga. Sesaleh apa pun seseorang terlihat, jaminan tersebut belum ada.

Sebagaimana perkataan Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu anhu, barang siapa yang ingin mengambil contoh (qudwah), hendaknya ia menjadikan orang-orang saleh yang telah meninggal sebagai contoh. Ini karena orang yang masih hidup “tidak aman fitnah baginya”.

Oleh karena itu, ketika kita mengagumi seorang alim atau orang saleh, doa terbaik untuk anak kita seharusnya ditingkatkan, yaitu berharap anak kita bisa lebih baik dari dia, bukan hanya “seperti dia”. 

Sebab, selama hayat masih dikandung badan, setan tidak pernah angkat tangan dan tidak pernah menyerah. Iblis telah memproklamirkan di hadapan Allah bahwa ia akan menyesatkan anak cucu Adam.

Baca Juga: Tadabbur Alam: Membangun Ukhuwah dan Kemandirian Santri

Senjata Pamungkas Iblis di Akhir Hayat

Ketidakamanan ini berlangsung hingga detik-detik terakhir kehidupan. Senjata pemungkas iblis dilancarkan pada saat seseorang hendak meninggalkan dunia ini, tujuannya adalah agar ia menutup hidupnya dengan suul khatimah (akhir yang buruk).

Kisah Al Imam Ahmad ibn Hanbal rahimahullah menjadi bukti nyata hal ini. Ketika beliau sakit keras sakit yang membawa kematian beliau dan anaknya menuntun (mentalkin) beliau untuk mengucapkan kalimat tauhid Lailahaillallah.

Beliau justru memberi isyarat atau mengatakan, ‘belum, belum, belum’. Setelah beliau sadar, beliau menjelaskan bahwa setan datang kepadanya. Setan berkata:

‘Engkau sudah bebas wahai Ahmad, saya tidak bisa lagi menggodamu wahai Ahmad’. Setan ingin Imam Ahmad tertipu dan merasa dirinya sudah aman. Padahal, andai Imam Ahmad tertipu, perkataan iblis itu bisa membahayakan keistiqamahan dan hidayah yang telah beliau dapatkan selama ini. 

Inilah mengapa Imam Ahmad menjawab “belum”. Selama nyawa masih dikandung badan, tidak ada yang dibiarkan oleh setan berjalan sendiri tanpa digelincirkan, terutama di akhir-akhir hidup seseorang.

Hati Berada di Genggaman Allah

Alasan kedua mengapa kita harus selalu meminta Hidayah adalah karena sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140].

Oleh karena itu, salah satu doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan hendaknya kita juga banyak mengamalkannya adalah: ‘(Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu)’.

Ketika sahabat bertanya mengapa Nabi sering membaca doa tersebut padahal mereka sudah beriman, Nabi menegaskan kembali bahwa hati hamba ada di antara jari jemari Allah subhanahu wa ta’ala.

Bersegera Sebelum Fitnah Datang

Baca Juga: Sujud dan Mendekatlah: Kunci Meraih Kemuliaan di Sisi Allah

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan agar kita bersegera memperbanyak amalan-amalan saleh sebelum datang fitnah (ujian) seperti malam yang gelap gulita. 

Fitnah sedemikian rupa bisa menyebabkan seseorang beriman di waktu pagi, namun telah kafir di waktu sore; atau beriman di waktu sore, namun kafir di waktu pagi. Bahkan, ada yang sampai menjual agamanya hanya untuk mendapatkan sedikit dari keuntungan duniawiah, yang mana hal ini nyata terlihat di akhir zaman sekarang.

Untuk menjaga keistiqamahan, kita juga dianjurkan membaca doa yang diajarkan Allah dalam Surah Ali Imran Surat Ali ‘Imran Ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Artinya: (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version