mim.or.id – Di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan banyak kisah para nabi yang senantiasa berdoa dan memohon kepada-Nya. Padahal mereka adalah manusia pilihan yang paling dekat dengan Rabb mereka.
Namun justru kedekatan itu semakin menjadikan mereka bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kisah-kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kaum beriman agar senantiasa kembali dan bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan.
Berikut tiga pelajaran utama tentang doa yang dapat kita ambil dari ayat-ayat dan hadits-hadits yang telah disebutkan.
Para Nabi Adalah Teladan dalam Kesabaran dan Doa di Tengah Ujian
Allah mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang diuji dengan penyakit berat dan kehilangan keluarga serta harta. Dalam kondisi tersebut beliau tidak berputus asa, melainkan berdoa dengan penuh adab:
Baca Juga: Gemilang, Albani Sabet 8 Medali dalam ‘Ajang Angin Mammiri Championship Seri 3 Tahun 2026’
وَاَيُّوۡبَ اِذۡ نَادٰى رَبَّهٗۤ اَنِّىۡ مَسَّنِىَ الضُّرُّ وَاَنۡتَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ ۖۚ
Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Karena kesabaran dan doanya, Allah mengabulkan permohonannya, mengangkat penyakitnya, dan mengembalikan keluarganya bahkan melipatgandakannya.
Demikian pula Nabi Yunus ‘alaihissalam ketika berada dalam tiga kegelapan: gelapnya malam, gelapnya lautan, dan gelapnya perut ikan. Dalam kondisi yang sangat sempit itu beliau berdoa dan Allah pun menyelamatkannya.
Nabi Zakaria ‘alaihissalam pun berdoa di usia senja ketika belum dikaruniai keturunan. Allah mengabadikan doanya dan mengabulkannya dengan menganugerahkan Nabi Yahya.
Pelajaran pentingnya adalah: jika para nabi yang paling dekat dengan Allah saja senantiasa berdoa, maka kita yang penuh kekurangan tentu lebih membutuhkan doa dalam setiap urusan.
Doa Adalah Ibadah dan Perintah Langsung dari Allah
Allah berfirman dalam Surat Al-Mu’min Ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.
Doa bukan sekadar permintaan, tetapi inti dari ibadah. Ketika seseorang berdoa, ia sedang menunjukkan kehinaan dirinya dan ketergantungannya kepada Allah. Sebaliknya, orang yang enggan berdoa menunjukkan kesombongan.
Doa juga tidak pernah sia-sia. Rasulullah menjelaskan bahwa doa seorang muslim akan mendapatkan salah satu dari tiga hal yaitu Dikabulkan sesuai permintaan, Dipalingkan dari keburukan yang semisal dan Disimpan sebagai pahala besar di akhirat.
Baca Juga: Bangga! Atlet MIM Archery Borong 3 Piala di ‘Festival Panahan Tradisional Sul-Sel 2026’
Bahkan doa dapat menjadi sebab tertolaknya bala. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan untuk berdoa dengan penuh keyakinan, tidak tergesa-gesa, serta berbaik sangka kepada Allah.
Adab dan Penghalang Terkabulnya Doa
Agar doa dikabulkan, ada adab yang perlu diperhatikan:
Pertama, Memulai dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Kedua, Berdoa dengan penuh keyakinan. Ketiga, Tidak mengatakan “jika Engkau mau”. Keempat, Menghadirkan hati dan tidak lalai.
Kelima, Tidak tergesa-gesa dan keenam, Memperbanyak doa di waktu lapang agar Allah menolong di waktu sempit.
Namun ada pula penghalang terkabulnya doa, di antaranya adalah mengonsumsi yang haram. Rasulullah menyebutkan tentang seseorang yang berdoa dengan penuh harap, namun makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram maka bagaimana doanya akan dikabulkan.
