mim.or.id – Persaudaraan atau Ukhuwah Islamiyah dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial, melainkan ikatan yang lahir dari iman dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dalam Surat Al-Hujurat Ayat 10, Allah berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Baca Juga: Di Balik Ujian, Ada Doa: Jejak Keteguhan Para Nabi
Persaudaraan ini menekankan bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk memelihara hubungan dengan sesama, menjaga kehormatan, dan mencegah permusuhan.
Sejarah Ukhuwah: Muhajirin dan Anshar
Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau membangun ukhuwah antara kaum Muhajirin dan Anshar.
Kaum Anshar menunjukkan teladan kebaikan dengan mengutamakan saudara mereka, meskipun dalam keadaan kekurangan.
Selain itu, Rasulullah juga mendamaikan suku Aus dan Khasraj yang sering bertikai. Sebelum kedatangannya ke Madinah, sehingga terciptalah persaudaraan yang harmonis di bawah naungan Islam.
Ancaman Perpecahan dan Adu Domba
Islam sangat menekankan menjaga persaudaraan. Perpecahan, perselisihan, dan adu domba merupakan strategi syaithan untuk merusak hubungan sesama Muslim.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قد أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ في جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ في التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).
Baca Juga: Gemilang, Albani Sabet 8 Medali dalam ‘Ajang Angin Mammiri Championship Seri 3 Tahun 2026’
Rasulullah sendiri berperan aktif mendamaikan sahabat yang berselisih, bahkan rela menunda sholat demi mengutamakan perdamaian. Tabayyun, atau klarifikasi terhadap berita buruk, menjadi prinsip penting agar ukhuwah tetap terjaga.
Integritas Hati dan Amal untuk Surga
Islam mengajarkan bahwa membersihkan hati dari dendam dan kebencian kepada saudara seiman adalah karakter penghuni surga.
Sebaliknya, menyebarkan namimah (adu domba) termasuk dosa besar dan merupakan warisan sifat syaithan.
Dengan demikian, persaudaraan bukan hanya soal hubungan sosial, tetapi menjadi jalan menuju pahala dan ridha Allah, baik di dunia maupun akhirat.
