mim.or.id – Ukhuwah Islamiyah merupakan konsep persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan kepada Allah. Ia bukan sekadar hubungan sosial, melainkan ikatan ruhani yang menembus batas suku, budaya, status sosial, bahkan perbedaan pandangan.
Dalam Islam, ukhuwah menjadi fondasi utama terciptanya kedamaian, persatuan, dan kekuatan umat. Pada Surat Al-Hujurat Ayat 10, Allah berfirman:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Memahami Perbedaan Pendapat sebagai Ruang Rahmat
Prinsip pertama yang harus ditanamkan adalah bahwa perbedaan pendapat dan pandangan merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihindarkan dalam Islam.
Sejarah mencatat bahwa sejak zaman para sahabat Nabi masih hidup, perbedaan pandangan pada kasus-kasus tertentu sudah terjadi. Umar bin Abdul Aziz bahkan menyatakan kegembiraannya atas adanya perbedaan pendapat di kalangan sahabat.
Baca Juga: Buah Keikhlasan: Kisah Imam Al-Bazzaz dan Kalung Permata
Alasannya sangat mendasar: jika para sahabat bersepakat (ijma’) pada semua persoalan teknis, seperti masalah fiqih, ibadah tertentu, atau muamalah, hal tersebut justru akan sangat memberatkan generasi belakangan.
Dengan adanya perbedaan pendapat, umat Islam memiliki fleksibilitas untuk memilih pendapat yang lebih cocok dengan situasi dan lokasi mereka masing-masing.
Ruang untuk berbeda pendapat ini merupakan salah satu nikmat Allah yang seharusnya tidak mencederai atau merusak prinsip ukhuwah islamiyah.
Urgensi Teladan dalam Membangun Jembatan Ukhuwah
Teori tentang ukhuwah tidak akan efektif tanpa adanya teladan nyata dari para ulama, ustadz, dan guru.
Jika seorang guru sering menyerang orang lain berdasarkan asumsi atau bersikap masam terhadap mereka yang berbeda, maka murid-muridnya akan meneladani perilaku negatif tersebut.
Sebaliknya, para tokoh besar telah memberikan contoh luar biasa tentang ta’awun (kerja sama):
Kisah Pendiri Universitas Islam Madinah: Meskipun berbasis di Arab Saudi, para pendirinya mengundang tokoh-tokoh besar dari berbagai latar belakang dunia Islam seperti Syekh Abul Hasan Ali An-Nadwi (India), Syekh Abul Ala Al-Maududi (Pakistan), dan Syekh Muhammad Natsir (Indonesia) untuk menjadi dewan penasehat.
Baca Juga: Ketika Dunia Menguasai Hati Manusia!
Hal ini menunjukkan bahwa kerja sama antar-Muslim sangat mungkin dilakukan dalam hal-hal yang tidak melanggar prinsip dasar manhaj masing-masing.
Menyikapi Ekstremisme dengan Kelapangan Hati
Fenomena ekstremisme, seperti merasa diri paling benar atau mudah menghukumi orang lain, akan selalu ada dalam sejarah agama. Namun, para pendahulu kita mengajarkan cara menyikapinya dengan mulia:
Dari Ali bin Abi Thalib tetap menyebut kaum Khawarij sebagai “saudara kita” meskipun mereka telah melakukan perbuatan melampaui batas.
Kemudian, Imam Ahmad menunjukkan kemuliaan hati dengan menganggap ulama yang menyudutkan dan memfitnahnya sebagai orang saleh yang sedang diuji oleh Allah melalui dirinya.
Dengan memiliki mentalitas yang lapang seperti ini, kehidupan seorang Muslim akan menjadi jauh lebih nikmat, santai, dan lapang.
Fokus energi umat tidak akan habis untuk pertikaian internal, melainkan dapat dialihkan untuk mengejar tujuan dan cita-cita tertinggi agama.
