mim.or.id – Setiap dari perbuatan yang dilakukan, pasti berharap ada Rahmat didalamnya (pahala). Namun perlu diketahui, ada sifat yang dapat menghanguskan semua itu yang disebut, hasad dan ini penyakit yang membakar pahala!.
Hasad dari Orang-orang Kafir
Orang-orang ahlul kitab atau orang-orang yahudi sangat berharap agar kalian meninggalkan agama kalian menjadi kafir seperti mereka dan ini disebabkan karena hasad yang ada pada hati-hati mereka padahal kebenaran itu telah nyata didepan mata mereka.
Mereka mengenal Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, mereka sudah membaca dalam kitab taurat Nabi yang diutus diakhir zaman. Banyak orang-orang yahudi yang hijrah ke Madinah menunggu kedatangan Nabi terakhir namun ternyata setelah melihat bukan dari keturunan mereka.
Mereka hasad dan tidak mau mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, jadi inilah bahayanya hasad bisa menghalangi seseorang dari kebenaran dan ini adalah penyakit yang paling berbahaya dan kita berlindung kepada Allah darinya, karena Rasulullah menegaskan:
“Jauhilah hasad karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu bakar”. Mengapa bisa demikian karena awal dosa yang lain berawal dari hasad, karena hasad seseorang bisa jatuh pada ghibah.
Selain itu, hasad seseorang bisa jatuh pada Namimah, karena hasad seseorang jatuh pada dusta, karena hasad seseorang mencari-cari kesalahan orang lain dan ini sangat berbahaya bukan hanya kepada orang awam bahkan sampai kepada ahli ilmu bahkan diantara Ahli hadist.
Baca Juga: Lawatan ke PPTQ Al-Imam Ashim Makassar, Direktur Utama MIM: Mempererat Ukhuwah dan Sinergitas
Tingkatan-tingkatan Sifat Hasad
”Ya Allah mengapa engkau memberkan keutamaan kepada fulan sedangkan saya tidak”, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah membagikan keutamaan itu kepada hamba-hambanya, kemudian ulama kita menyebutkan hasad itu bertingkat-tingkat.
Tingkatan pertama yaitu ketika seseorang berharap nikmat itu dicabut dari orang lain dia tidak senang saudaranya mendapatkan nikmat, baik dari sisi materi atau maknawi.
Tingkatan yang kedua yang kebih berbahaya yaitu dia tidak senang saudaranya mendapatkan nikmat dan ia berharap nikmat itu berpindah kepadanya, adapun jika hasad itu masih bisikan jiwa dan berusaha ia lawan maka belum dihukumi sebagai dosa.
Tingkatan ketiga yang merupakan jenis hasad yang paling buruk adalah ketika dirinya mendapatkan musibah atau keburukan maka dia berharap semua orang juga mendapatkan keburukan seperti dia,.
Sebagaimana Iblis karena hasad ia divonis keluar dari surga tetapi dia minta tangguh sampai hari kiamat bukan untuk bertaubat akan tetapi memiliki visi untuk menggelincirkan anak Adam. Olehnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:
”Hasad itu adalah sifat manusia yang sulit untuk dihindari tetapi orang yang mulia dia sembunyikan atau pendam dan berusaha untuk melawannya“.
Adapun orang yang buruk dia tampakkan melalui perkataannya, perbuatannya dan diantara cara melawan hasad yaitu dengan melawan bisikan jiwa yang buruk, jika misalkan ada kejelekan yang dibisikkan di dalam hati kita tentang saudara kita lawan kejelekan tersebut dan ucapkan kepadanya masyaAllah barakallah semoga Allah memberkahimu.
Jika seseorang hasad maka hatinya menjadi sakit kemudian hasad tidak akan mengubah takdir Allah bahkan hasad bisa menjadi sebab kebaikan yang dikerjakan menjadi sebagaimana api membakar kayu baka. Adapun jika mendoakan saudara kita maka hati kita menjadi tenang dan lapang, olehnya orang yang hidup tanpa hasad itulah orang yang bahagia.
Baca Juga: Mati Syahid: Jalan yang Mulia Menuju Surga-Nya
Meminta Perlindungan-Nya Dijauhkan dari Sifat Hasad
Olehnya kita belindung kepada Allah darinya bahkan disebutkan siapa yang bersih hatinya dari hasad maka dia sudah mewarisi dari sebagian sifat penghuni surga, orang yang hasad secara tidak langsung seaka-akan dia menolak dan tidak menerima takdir Allah.
Diantara salah satu tips jika ingin bahagia atau awet muda jangan pendam dalam hati kebencian sedikitpun kepada siapapun kaum muslimin maafkan saudara kita, Rasullullah berkata dalam hadist:
“Jangan saling membelakangi, jangan saling hasad, jangan saling membenci, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara“. Muslim yang satu dengan muslim yang lain itu bersaudara dan tidak pantas seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari 3 hari.
Jangan fikirkan nikmat yang Allah berikan kepada kita kecuali jika kita berharap nikmat itu berpindah atau hilang dari saudara kita maka disini ulama kita membagi: Jika dalam urusan dunia maka ini tercela tetapi dalam urusan akhirat tidak mengapa karena ini adalah hasad yang terpuji yang dalam bahasa agama disebut dengan Al Gittho dijelaskan dalam hadist Nabi:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).
