mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jangan Putus Asa!’ (Edisi 074, 23 Muharram 1447H).
Naskah selengkapnya:
‘JANGAN PUTUS ASA!’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang selalu membukakan pintu harapan kepada kita untuk memperbaiki diri, untuk meluruskan perjalanan hidup yang tersesat. Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala yang selalu memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertaubat dan melabuhkan hati serta seluruh diri kita hanya kepadaNya.
Shalawat dan salam tak henti-hentinya terucap untuk kekasih hati kita, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang selalu setiap pesannya, setiap haditsnya, setiap sunnahnya, adalah bentuk kasih sayangnya kepada kita, untuk keselamatan kita di dunia ini dan di akhirat nanti.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!
Beberapa waktu belakangan ini, kita cukup sering dikejutkan dengan terjadinya kasus-kasus bunuh diri yang sebelumnya sangat jarang terdengar di negeri kita ini. Jika dulu, kasus bunuh diri hanya sering kita dengarkan dari negara-negara lain, seperti Jepang dan Korea Selatan misalnya, namun belakangan kasus semacam itu semakin sering kita dengarkan di negeri tercinta ini. Wallahul Musta’aan…
Bunuh diri sesungguhnya adalah salah satu bentuk ekstrim keputusasaan dan kehilangan harapan kepada Allah Ta’ala. Semuanya adalah perkara-perkara yang terlarang bagi seorang muslim dan muslimah.
Allah Ta’ala mengatakan dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُن مِّنَ الْقَانِطِينَ . قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
Artinya:
“Mereka berkata: ‘Kami memberimu kabar gembira dengan kebenaran, maka janganlah menjadi orang yang berputus asa.’ (Ibrahim) berkata: ‘Dan orang yang putus asa dari Rahmat Allah itu tidak lain adalah orang-orang yang sesat.” (Surah al-Hijr: 55-56).
Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa keputusasaan dan kehilangan harapan dari Allah Ta’ala adalah sifat dan karakter orang-orang yang tersesat, yang jauh dari Allah Ta’ala. Dengan kata lain, jika kita berada pada titik keputusasaan dan kehilangan harapan, maka itu adalah indikator bahwa kita mungkin sedang jauh atau menjauh dari Allah Ta’ala. Kita mungkin telah sengaja menjatuhkan diri dalam kegelapan dosa, hingga lupa bahwa rahmat dan ampunan Allah Ta’ala begitu luasnya!.
Itulah sebabnya, manusia yang membiarkan dirinya tenggelam dalam putus asa hingga mengakhiri hidupnya berarti telah melakukan dosa besar di sisi Allah. Dan hukumannya di Akhirat sangat pedih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ومَن قَتَلَ نَفْسَهُ بشيءٍ في الدُّنْيا عُذِّبَ به يَومَ القِيامَةِ
Artinya:
“Dan siapa yang membunuh dirinya dengan suatu (alat/cara) di dunia ini, ia akan diadzab dengan (alat/cara) itu di Akhirat.” (HR. al-Tirmidzi).
Jika ia bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari ketinggian, maka seperti itulah adzabnya di dalam Neraka Allah. Jika ia meminum racun atau menusuk dirinya, maka seperti itulah adzab yang akan berulang-ulang dirasakannya di dalam Neraka Allah. Wal ‘iyadzu bilLah…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Kehidupan dunia ini memang diciptakan dengan masalah yang memenuhi setiap relungnya. Dunia ini memang dihadirkan untuk kita dengan ujian dan kesulitan di setiap sisinya. Karena Allah Azza wa Jalla memang telah mengaturnya sebagai “Negeri Ujian”, bukan “Negeri Peristirahatan”.
Karena itu, bahkan manusia-manusia mulia sekalipun, para kekasih Allah, para Nabi dan Rasul, kehidupan mereka sejak lahir hingga meninggalkan dunia ini, sepenuhnya dipenuhi ujian, masalah, kesusahan dan kesulitan!.
Masalah dan ujian itu dihadirkan Allah Ta’ala untuk menguatkan jiwa kita dalam menghadapinya dengan kembali kepada Allah Ta’ala. Kembali bersujud dan tunduk pada SyariatNya. Lalu setelah itu, tibalah saatnya berprasangka baik kepada Allah Ta’ala; bahwa Allah tidak mungkin menyia-nyiakan hamba yang berusaha kembali kepadaNya.
Itulah yang terjadi misalnya dalam kisah Nabi Ibrahim alaihissalam dan istrinya, Hajar. Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam tunduk-patuh menjalankan perintah Allah yang sangat tidak mudah: meninggalkan istri dan anak bayinya di tengah padang pasir yang tandus dan tak berpenghuni di Mekkah. Tidak ada makanan, tidak ada sumber air, tidak ada teman pengusir sepi.
Tapi Hajar, istri yang jiwanya dipenuhi iman itu hanya perlu memastikan 1 hal:
آللَّهُ أَمَرَكَ بِهذَا؟
“Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”.
Dan seketika Nabi Ibrahim alaihissalam membenarkan hal itu, seketika itu juga, Hajar mengatakan:
إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا
“Kalau begitu, Dia takkan membiarkan kami begitu saja!” (HR. al-Bukhari).
Maka-jamaah Jumat yang berbahagia-, seharusnya tidak ada kamus “putus asa” dalam kehidupan seorang hamba yang beriman. Karena ia selalu dipenuhi optimisme dan keyakinan akan luasnya kasih sayang dan rahmat Allah Azza wa Jalla. Selama ia telah berusaha mematuhi garis petunjukNya, berusaha menjalankan setiap perintahNya, serta berusaha menjauhi setiap laranganNya; maka seorang mukmin seharusnya selalu penuh harap dan optimisme kepada Allah Ta’ala.
Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala juga mengingatkan:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ،
Artinya:
“Aku itu sesuai dengan prasangka hambaKu kepadaKu…” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Artinya apa yang kita prasangkakan, itulah yang akan Allah Ta’ala berikan kepada kita. Jika kita selalu berprasangka baik dan optimis, maka Allah akan karuniakan harapan, optimisme, semangat dan kekuatan hidup untuk kita. Sebaliknya, jika kita selalu berprasangka buruk kepada Allah, bahkan menantangNya, maka Allah akan berikan kegelapan, kemuraman, kehilangan harapan dan sikap pesimis menjalani hidup, wal ‘iyadzu biLlah.
Karena itu -Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah-, segeralah perbaiki jalan hidup kita yang tersisa ini dengan kembali kepada Allah Azza wa Jalla. Segeralah berhijrah meninggalkan kelalaian dan jalan gelap kemaksiatan. Segeralah berhijrah meninggalkan jalan yang menjauhkan kita dari Allah Ta’ala. Segeralah pulang untuk bernaung di bawah teduhnya ibadah dan ketaatan pada Allah Ta’ala. Segeralah perbaiki sisi-sisi kehidupan kita yang selama ini membuat kita terseret dalam kegalauan dan kehilangan harapan, karena kegalauan dan kehilangan harapan itu disukai oleh Syetan.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾ [آلِ عِمْرَانَ: 175]
Artinya:
“Itu semua tidak lain adalah Syetan yang selalu menakut-nakuti para kekasih Allah, maka janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku jika kalian memang beriman.” (Surah Ali Imran: 175).
Jadi, sumber kegalauan dan keputusasaan, sumber kehilangan harapan dan sikap pesimis itu adalah dari Syetan. Syetan selalu berusaha menjerumuskan kita ke situasi itu, sementara Allah Azza wa Jalla selalu membuka pintu harapan dan pintu taubatNya untuk kita.
Maka-sekali lagi-, segeralah kembali kepada Allah, mohon perlindungan padaNya dari kegalauan, kekhawatiran dan sikap pesimis menjalani hidup. Dan jangan lagi pernah berputus asa, seberat apapun ujian hidup yang hadir.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Di dalam Islam, Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap optimis, penuh harapan dan pro aktif terhadap kebaikan dunia dan akhirat. Kita diajarkan untuk selalu optimis setelah kita meminta pertolongan kepada Allah, dan menyerahkan eksekusi akhir semua rencana kebaikan itu hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
Artinya:
“Berusahalah (meraih) apa yang bermanfaay untukmu, dan meminta tolonglah kepada Allah, serta jangan pernah menjadi lemah.” (HR. Muslim).
Inilah rangkaian resep rahasia menghapuskan rasa putus asa dan sikap pesimis dalam hidup kita yang singkat ini. Berusaha mencari dan mendapatkan apa yang paling berguna untuk kehidupan dunia dan akhirat kita, lalu meminta pertolongan hanya kepada Allah, kemudian berusaha menguatkan diri untuk menjalaninya hingga selesai.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
