Home Khutbah Khutbah Jum’at: Lisanmu, Surga atau Neraka? (Edisi 142, 26 Jumadil Awal 1448...

Khutbah Jum’at: Lisanmu, Surga atau Neraka? (Edisi 142, 26 Jumadil Awal 1448 H)

0
Sampul Khutbah
Ilustrasi Sampul Khutbah Jum'at

mim.or.id – Kembali kami menyajikan sebuah Khutbah Jum’at terbaru dengan tema ‘Lisanmu, Surga atau Neraka?’ (Edisi 142, 26 Jumadil Awal 1448 H).

Untuk selengkapnya:

‘LISANMU: SURGA ATAU NERAKA?‘

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ  تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah yang kita kerjakan, seperti salat, puasa, dan sedekah, melainkan juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk bagaimana kita berbicara, menyampaikan pendapat, menanggapi kesalahan orang lain, dan menjaga kehormatan sesama manusia. Sebab, Islam mengajarkan bahwa keimanan yang benar seharusnya melahirkan akhlak yang baik, termasuk kehati-hatian dalam menggunakan lisan.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah.

Kita sedang hidup pada zaman ketika kata-kata bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Dahulu, seseorang berbicara di dalam rumah, suaranya mungkin hanya didengar oleh anggota keluarganya. Akan tetapi, keadaan sekarang telah berubah.

Melalui telepon genggam dan berbagai media sosial, sebuah perkataan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan manusia hanya dalam hitungan detik. Sesuatu yang awalnya ditulis sebagai komentar singkat dapat tersebar ke berbagai tempat, dibicarakan banyak orang, bahkan menimbulkan akibat yang tidak pernah dibayangkan oleh penulisnya.

Perubahan ini memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Kita dapat menyampaikan ilmu, memberikan nasihat, mempererat silaturahmi, dan menyebarkan berbagai bentuk kebaikan melalui sarana komunikasi yang tersedia. Namun, pada saat yang sama, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab yang semakin besar. Sebab, semakin mudah seseorang berbicara, semakin besar pula kemungkinan ia tergelincir ke dalam perkataan yang tidak dipertimbangkan dengan matang.

Tidak sedikit orang yang begitu berhati-hati ketika berbicara langsung di hadapan seseorang, tetapi berubah menjadi sangat berani ketika berada di balik layar telepon genggam. Ia dapat mengkritik dengan kasar, menghina tanpa merasa bersalah, menyebarkan tuduhan tanpa bukti, bahkan mempermalukan orang lain seolah-olah tidak ada akibat yang akan ditanggungnya.

Padahal, saudara-saudaraku, baik perkataan itu diucapkan secara langsung maupun disampaikan melalui tulisan, semuanya berada dalam pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu pun ucapan manusia yang tersembunyi dari pengawasan-Nya. Allah berfirman dalam surah Qaf ayat 18:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيد

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).

Ayat ini mengandung peringatan yang sangat mendalam bagi setiap orang yang beriman. Allah mengingatkan bahwa perkataan manusia tidak berlalu begitu saja setelah keluar dari mulutnya. Ada malaikat yang ditugaskan untuk mengawasi dan mencatat amal manusia.

Maka manusia seharusnya menyadari bahwa lisannya bukanlah sesuatu yang bebas digunakan tanpa pertanggungjawaban. Perkataan yang menurut kita ringan, bahkan mungkin sudah terlupakan, tetap berada dalam pengetahuan Allah dan termasuk perkara yang akan dihadapkan kepada manusia pada hari pembalasan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Sesungguhnya, lisan merupakan anggota tubuh yang kecil, tetapi akibat yang ditimbulkannya dapat sangat besar. Sebuah perkataan mampu menenangkan hati seseorang yang sedang menghadapi kesulitan, menguatkan orang yang hampir kehilangan harapan, atau mendamaikan dua orang yang sedang berselisih.

Namun, perkataan yang sama juga dapat menghancurkan kepercayaan, merusak persahabatan, menimbulkan permusuhan, dan meninggalkan luka batin yang berlangsung bertahun-tahun. Tidak sedikit pertengkaran besar bermula dari kalimat yang sebenarnya dapat dihindari. Tidak sedikit hubungan keluarga menjadi renggang karena seseorang tidak mampu menahan lidahnya ketika sedang marah.

Bayangkan seorang suami yang pulang ke rumah dalam keadaan lelah, kemudian melampiaskan kekesalannya kepada istri dengan kalimat yang merendahkan. Barangkali beberapa saat kemudian kemarahannya telah reda, tetapi istrinya masih mengingat perkataan itu.

Demikian pula seorang istri yang mengungkit-ungkit kekurangan suaminya dengan kata-kata yang melukai kehormatannya. Boleh jadi pertengkaran telah selesai, tetapi bekas luka dalam hati belum tentu segera hilang.

Bahkan, seorang anak yang berulang kali mendengar dirinya disebut bodoh, tidak berguna, atau selalu mengecewakan, dapat tumbuh dengan perasaan rendah diri karena perkataan orang-orang yang justru seharusnya memberikan perlindungan dan kasih sayang.

Persoalan yang sama dapat kita temukan dalam kehidupan sosial dan dunia digital. Kita menyaksikan bagaimana komentar yang merendahkan, ejekan terhadap penampilan fisik, serta penyebaran aib pribadi dapat berubah menjadi perundungan yang menyakitkan.

Seseorang mungkin menulis komentar hanya untuk mengundang tawa atau memperoleh perhatian, tetapi ia tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana keadaan orang yang menjadi sasaran perkataannya. Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak menganggap remeh perkataan hanya karena disampaikan dalam bentuk candaan atau melalui media sosial.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan betapa pentingnya menjaga lisan dalam meraih keselamatan akhirat. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ

“Barang siapa menjamin untukku apa yang berada di antara kedua rahangnya dan apa yang berada di antara kedua kakinya, aku menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6474).

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan kehormatan diri memiliki kedudukan yang sangat besar dalam agama. Apa yang berada di antara kedua rahang adalah lisan, sedangkan apa yang berada di antara kedua kaki adalah kemaluan. Keduanya merupakan anggota tubuh yang harus dijaga dari perkara yang diharamkan Allah.

Lisan harus dipelihara dari kebohongan, ghibah, fitnah, adu domba, penghinaan, dan berbagai perkataan yang mengandung kezaliman. Sementara itu, kehormatan diri harus dijaga dari perbuatan yang melanggar batas-batas syariat. Kesungguhan menjaga keduanya termasuk sebab penting untuk memperoleh surga dengan rahmat dan karunia Allah.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…

Dalam sebuah hadis yang sangat agung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasihat kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu. Ketika Mu’adz bertanya tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah menjelaskan berbagai kewajiban agama serta pintu-pintu kebaikan.

Beliau menerangkan tentang tauhid, salat, zakat, puasa, haji, serta amalan-amalan mulia lainnya. Kemudian, setelah menjelaskan perkara-perkara besar tersebut, beliau menunjukkan sesuatu yang sangat penting dalam menjaga keselamatan seorang hamba, yaitu lisannya sendiri. Rasulullah memegang lisan beliau dan bersabda:

كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا

“Tahanlah ini olehmu.”

Mu’adz merasa heran karena sebelumnya beliau telah menjelaskan berbagai amalan besar. Ia pun bertanya apakah manusia benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban atas perkataan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ -أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ- إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟

“Wahai Mu’adz, bukankah yang menjungkirbalikkan manusia ke dalam neraka di atas wajah mereka—atau di atas hidung mereka—tidak lain adalah hasil panen lisan mereka?” (HR. At-Tirmidzi, no. 2616; dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi).

Ungkapan Rasulullah ini menggambarkan bahwa kehidupan manusia menyerupai seorang petani yang sedang menanam benih. Setiap hari petani menanam sesuatu di tanahnya, kemudian pada waktu yang telah ditentukan ia akan memanen hasilnya. Apabila ia menanam benih yang baik dan merawatnya dengan benar, dengan izin Allah ia akan memperoleh hasil yang baik.

Sebaliknya, jika ia menanam sesuatu yang buruk, ia harus menghadapi akibat dari apa yang telah ditanamnya. Demikian pula kehidupan manusia. Setiap perkataan yang keluar dari lisannya merupakan bagian dari amal yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri…

Apabila seluruh perkataan kita selama sepekan terakhir diperdengarkan kembali di hadapan keluarga, apakah kita akan merasa tenang? Apabila semua komentar yang pernah kita tulis di media sosial ditampilkan di hadapan orang-orang yang kita hormati, apakah kita akan merasa bangga?.

Apabila seluruh percakapan pribadi kita yang mengandung ejekan, kebohongan, atau pembicaraan tentang aib orang lain diperlihatkan kembali, apakah kita tidak akan merasa malu? Lalu, bagaimana jika semua itu dihadapkan kepada kita pada hari ketika manusia berdiri di hadapan Allah dan tidak ada satu pun perbuatannya yang tersembunyi?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan tanpa mempertimbangkannya, lalu karena perkataan itu ia tergelincir ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari, no. 6477; Muslim, no. 2988).

Hadis ini mengajarkan bahwa seseorang mungkin merasa hanya sedang bercanda, tetapi candaannya mengandung penghinaan terhadap agama. Seseorang mungkin menganggap dirinya sekadar menyampaikan informasi, padahal ia sedang menyebarkan tuduhan yang merusak kehormatan orang lain. Seseorang mungkin merasa sedang membela kebenaran, tetapi caranya dipenuhi kebohongan, celaan, dan ketidakadilan. Karena itu, semangat berbicara harus selalu disertai ilmu dan rasa takut kepada Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Di zaman digital, peringatan ini menjadi semakin penting. Banyak orang menganggap bahwa menulis komentar tidak sama dengan berbicara menggunakan lisan. Padahal, tulisan yang kita sebarkan juga merupakan bagian dari perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan.

Seseorang mungkin tidak bertemu langsung dengan orang yang dihina, tetapi penghinaan itu tetap dapat melukai. Ia mungkin tidak mengucapkan tuduhan dengan suara keras, tetapi tulisan yang disebarkannya tetap dapat merusak kehormatan. Bahkan, perkataan yang ditulis di media sosial sering kali lebih luas jangkauannya dan lebih lama bertahan daripada percakapan biasa.

Karena itu, sebelum menulis atau membagikan sesuatu, hendaknya kita memikirkan kebenaran dan manfaatnya. Jangan sampai keinginan memperoleh perhatian membuat kita mengabaikan kehormatan orang lain. Jangan sampai semangat membela kelompok membuat kita merasa boleh berdusta atau berlaku tidak adil. Jangan sampai perbedaan pendapat dalam urusan agama menjadi alasan untuk saling menghina.

Seorang Muslim harus mampu membedakan antara menjelaskan kesalahan dengan merendahkan orang yang melakukan kesalahan, antara menyampaikan kritik yang benar dengan menyebarkan kebencian, serta antara memberi nasihat dengan mempermalukan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pedoman yang sangat singkat, tetapi mencakup banyak persoalan kehidupan. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih).

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…

Pada akhirnya, persoalan menjaga lisan mengajak kita untuk memperhatikan keadaan hati. Sebab, perkataan yang keluar dari seseorang sering kali memperlihatkan sesuatu yang sedang tumbuh dalam dirinya. Hati yang dipenuhi kesombongan akan lebih mudah merendahkan orang lain. Hati yang dikuasai kedengkian akan sulit melihat kebaikan saudaranya.

Hati yang terbiasa memelihara prasangka buruk akan lebih mudah menerima dan menyebarkan berita negatif. Karena itu, memperbaiki lisan tidak cukup hanya dengan melatih cara berbicara, tetapi juga harus disertai usaha membersihkan hati melalui keimanan, ilmu yang bermanfaat, zikir, dan taubat yang sungguh-sungguh.

Marilah kita menjadikan khutbah ini sebagai kesempatan untuk melakukan muhasabah. Mungkin selama ini ada orang yang terluka karena perkataan kita. Mungkin ada anggota keluarga yang pernah kita rendahkan ketika sedang marah. Mungkin ada sahabat yang kehormatannya pernah kita bicarakan ketika ia tidak hadir.

Mungkin pula ada berita yang pernah kita sebarkan tanpa memastikan kebenarannya. Apabila demikian, janganlah kita menunda perbaikan. Bertaubatlah kepada Allah, hentikan kebiasaan buruk tersebut, dan berusahalah memperbaiki hak manusia yang telah kita langgar dengan cara yang bijaksana.

Sesungguhnya, selama seseorang masih hidup, Allah masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Lisan yang dahulu sering digunakan untuk membicarakan aib orang lain dapat diarahkan untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Tidak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah selama kita bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya.

Maka, marilah kita menjaga lisan sebelum datang hari ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan menarik kembali perkataan yang pernah diucapkan. Jangan sampai sesuatu yang begitu kecil pada tubuh kita justru menjadi penyebab datangnya penyesalan yang sangat besar di akhirat.

Sebaliknya, jadikanlah lisan sebagai sarana memperbanyak ketaatan, menolong sesama, menyampaikan kebenaran, dan mengingat Allah. Semoga setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi kebaikan yang tercatat dalam timbangan amal kita, serta menjadi sebab bagi kita untuk memperoleh surga dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Salah satu cara terbaik untuk menjaga lisan adalah dengan membiasakannya mengingat Allah. Seseorang yang berusaha memperbanyak zikir akan memiliki lebih banyak kesempatan menggunakan lisannya untuk kebaikan. Ketika ia sedang menunggu, berjalan, berkendara, atau beristirahat dari pekerjaannya, ia dapat mengisi waktu dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang dicintai Allah.

Bayangkan apabila seseorang mengatakan kepada kita bahwa setiap kata yang kita ucapkan akan berubah menjadi sejumlah uang yang masuk ke rekening kita. Barangkali kita akan bersemangat memperbanyak perkataan karena menganggapnya sebagai kesempatan memperoleh keuntungan.

Kita akan merasa sayang apabila ada waktu yang berlalu tanpa menghasilkan sesuatu. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa Allah telah membuka kesempatan memperoleh pahala melalui zikir yang nilainya jauh lebih mulia daripada seluruh keuntungan dunia? Harta yang kita kumpulkan suatu saat akan ditinggalkan, sedangkan amal saleh yang diterima Allah akan menjadi bekal ketika kita kembali kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian amalan yang paling baik, paling suci di sisi Raja kalian, paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian, lebih baik daripada menginfakkan emas dan perak, bahkan lebih baik daripada kalian bertemu musuh lalu saling memerangi?” Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Berzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3377; Ibnu Majah, no. 3790).

Zikir merupakan ibadah yang dapat dilakukan dalam banyak keadaan dan tidak memerlukan kekayaan atau kedudukan tertentu. Orang kaya maupun miskin, orang yang sehat maupun sakit, serta orang yang memiliki banyak pekerjaan sekalipun dapat memperoleh kesempatan untuk berdzikir mengingat Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah…

Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghargai keberhasilan yang tampak di hadapan manusia. Banyak orang berlomba mengumpulkan kekayaan, memperoleh kedudukan, membangun popularitas, dan mendapatkan pengakuan. Di dunia digital, keberhasilan bahkan sering diukur berdasarkan jumlah pengikut, banyaknya komentar, dan seberapa luas seseorang dikenal.

Semua itu dapat membuat manusia sangat sibuk mengejar perhatian orang lain hingga lupa memikirkan bagaimana kedudukannya di sisi Allah. Padahal, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya bukan hanya apa yang berhasil kita kumpulkan selama hidup di dunia, melainkan juga apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan tentang orang-orang yang mendahului manusia lainnya dalam memperoleh keutamaan. Beliau bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ

Para sahabat bertanya:

وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ؟

Beliau menjawab:

الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Orang-orang al-Mufarridun telah mendahului.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laki-laki yang banyak mengingat Allah dan perempuan-perempuan yang banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim, no. 2676).

Hadis ini mengingatkan bahwa ada perlombaan yang jauh lebih penting daripada mengejar popularitas dan keuntungan dunia, yaitu perlombaan dalam ketaatan kepada Allah. Orang-orang yang banyak berzikir tidak selalu merupakan manusia yang terkenal di tengah masyarakat. Barangkali mereka hanyalah orang-orang sederhana yang menjalani kehidupan sehari-hari seperti kebanyakan manusia.

Mereka bekerja, mengurus keluarga, dan melaksanakan berbagai tanggung jawab. Namun, di tengah kesibukan tersebut, hati dan lisan mereka tetap berusaha mengingat Allah. Ketika memiliki kesempatan, mereka memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar. Mereka tidak membiarkan seluruh waktunya habis untuk percakapan yang tidak bermanfaat.

Pada akhirnya, saudara-saudaraku, kehidupan ini akan berakhir…

Akan datang suatu hari ketika lisan yang selama ini begitu mudah berbicara tidak lagi mampu mengucapkan apa pun atas kehendaknya sendiri. Kesempatan untuk memperbaiki perkataan dan memperbanyak amal akan terhenti ketika ajal tiba. Karena itu, selagi Allah masih memberikan umur dan kesehatan, marilah kita memanfaatkan nikmat lisan untuk memperbanyak kebaikan.

Semoga kata-kata yang kita ucapkan menjadi sebab datangnya rahmat Allah, bukan sebab penyesalan pada hari kiamat. Semoga Allah menjadikan lisan kita senantiasa basah dengan zikir, hati kita dipenuhi keimanan, dan seluruh kehidupan kita berada dalam ketaatan kepada-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56).

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa pasangan kami, anak-anak kami, keluarga kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang sejuk dengan iman, lisan yang basah dengan zikir, amal yang ikhlas, rezeki yang halal, dan kehidupan yang dipenuhi keberkahan.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَدْلِ وَالْحَقِّ، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami. Bimbinglah mereka untuk menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan melindungi hak-hak rakyat. Karuniakanlah kepada mereka penasihat yang jujur dan hati yang takut kepada-Mu. Jauhkanlah mereka dari godaan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan segala keputusan yang menimbulkan penderitaan bagi masyarakat.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

Ya Allah, turunkanlah keberkahan-Mu kepada negeri kami. Jauhkanlah negeri kami dari kekeringan, kebakaran, banjir, gempa bumi, wabah penyakit, kerusuhan, perpecahan, dan seluruh keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami. Bimbinglah mereka agar memimpin dengan adil, amanah, takut kepada-Mu, menyayangi rakyat, melindungi kaum lemah, menjaga agama, serta memelihara keamanan dan kebaikan negeri.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَارْزُقْهُمُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ.

Ya Allah, jagalah para ulama yang istiqamah di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Karuniakan kepada mereka keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kelembutan dalam membimbing umat.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. Berilah makan kepada yang kelaparan, pakaian kepada yang kekurangan, tempat tinggal kepada yang kehilangan rumah, obat kepada yang sakit, keamanan kepada yang ketakutan, dan kebebasan kepada yang dizalimi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version