mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Sya’ban Telah Tiba’ (Edisi 102, 11 Sya’ban 1447 H).
Naskah selengkapnya:
‘SYA’BAN TELAH TIBA‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam hidup kita di dunia ini, waktu adalah karunia dan nikmat Allah yang paling cepat pergi dan menghilang. Rasanya baru saja kita duduk seperti ini pada Jum’at yang lalu, dan tiba-tiba tanpa terasa hari ini Jum’at datang menjelang, dan kita kembali berkumpul dan bersimpuh di sini.
Semoga hari-hari yang baru saja berlalu bisa menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah Ta’ala di Hari Akhir nanti.
Karena itu, marilah pada sisa-sisa usia kit aini, kita senantiasa menjaga konsistensi ketakwaan kita kepada Allah, dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Karena takwa itulah sebaik-baik bekal hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kembali lagi tentang nikmat waktu yang Allah berikan kepada kita. Sayangnya, di antara nikmat terbesar yang sering kita lalaikan justru adalah nikmat waktu. Allah memperjalankan hari demi hari, bulan demi bulan, sebagai ladang ujian dan ladang amal bagi hamba-hamba-Nya. Dan di antara bulan-bulan yang Allah muliakan, dan sering terlewat tanpa perhatian serius dari kaum muslimin, adalah bulan Sya’ban.
Sya’ban bukan sekadar “bulan biasa” di antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan persiapan, bulan pemanasan ruhani, dan bulan pembuktian kesungguhan iman. Sya’ban adalah jembatan menuju Ramadhan. Barang siapa menyia-nyiakan jembatan, dikhawatirkan ia akan tergelincir sebelum sampai ke tujuan.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sunnah Nabi ﷺ di bulan Sya’ban yang paling menonjol adalah memperbanyak puasa sunnah. Bahkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فيِ شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah dibandingkan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun perlu dipahami dengan benar, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Salaf, bahwa puasa Nabi ﷺ di bulan Sya’ban bukanlah puasa penuh satu bulan, tapi beliau berpuasa pada mayoritas hari bulan Sya’ban. Ini untuk membantah dua sikap yang keliru: yang pertama, orang yang meremehkan Sya’ban sama sekali; dan yang kedua, orang yang berlebihan hingga menganggap Sya’ban seperti Ramadhan kedua.
Karena itu, jamaah sekalian, para Salaf memanfaatkan Sya’ban sebagai momentum latihan ibadah, agar ketika Ramadhan datang, hati sudah lentur dan terbiasa dengan ketaatan. Sebagaimana perkataan sebagian ulama yang mengatakan: “Puasa di bulan Sya’ban seperti latihan shalat sunnah sebelum shalat wajib.”
Jika diibaratkan sebuah pertandingan besar yang menyiapkan hadiah berlimpah, maka bulan Ramadhan itulah bulan pertandingannya, dan bulan Sya’ban adalah bulan latihan dan persiapannya. Maka sangat keliru jika menganggap bulan Ramadhan sebagai “bulan latihan”. Bulan Ramadhan justru bulan pertandingannya.
Itulah barangkali rahasia kegagalan kita di bulan Ramadhan, karena kita justru baru berlatih pada saat pertandingan sudah dimulai. Padahal latihan dan persiapan seharusnya jauh-jauh hari dilakukan. Bahkan sebagian ulama Salaf sudah menyiapkan diri untuk Ramadhan 6 bulan sebelum Ramadhan itu tiba!.
Maka siapa yang ingin Ramadhannya hidup, Ramadhannya berhasil, maka hendaknya ia mulai menghidupkan bulan Sya’bannya ini dengan memperbaiki ibadah-ibadahnya kepada Allah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Selain puasa, Sya’ban juga menjadi momentum membersihkan hati dan memperbaiki taubat kita kepada Allah. Sebagian penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya yang menyebutkan bahwa pada bulan ini amalan-amalan diangkat kepada Allah.
Maka ini adalah waktu yang sangat tepat untuk muhasabah:
Bagaimana shalat kita?
Bagaimana kejujuran kita?
Bagaimana hubungan kita dengan keluarga, dengan sesama muslim?
Bagaimana amanah kita sebagai pemimpin dan pejabat?
Bagaimana harta kita: sudah bersih, atau masih bercampur harta korupsi?
Bagaimana mata kita, telinga kita, kemaluan kita: apa masih suka menerjang yang haram?
Dan ada banyak lagi yang harus kita audit dan muhasabah dari diri kita selama hidup di dunia ini.
Jamaah Jum’at yang berbahagia!
Bulan Sya’ban adalah bulan tashfiyah: yaitu membersihkan tauhid dari noda syirik, membersihkan ibadah dari bid’ah, dan membersihkan hati dari dengki serta kebencian. Ia juga bulan tarbiyah: bulan melatih diri agar siap menyambut madrasah Ramadhan.
Dan ia juga momentum menyadarkan kita bahwa banyak dari umat ini ingin berubah, tapi sering gagal karena tidak memulainya dari persiapan yang benar.
Maka jangan ulangi kesalahan kita yang selalu berulang setiap tahunnya: ketika Ramadhan datang, kita tanpa persiapan jiwa dan hati, lalu ibadah pun terasa berat. Bukan puasanya yang berat, tapi ibadah-ibadah yang lain yang seharusnya dijaga dan diperbanyak di bulan Ramadhan; seperti menjaga shalat 5 waktu, menjaga mata dan lisan, dan menjaga waktu agar tak terbuang sia-sia.
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,
Manfaatkanlah bulan Sya’ban dengan memperbanyak ibadah dan amal shalih yang disunnahkan, bukan dengan ritual-ritual yang tidak diajarkan Nabi ﷺ. Patut diingatkan bahwa sama sekali tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah Shallallahu ‘alaih wa sallam untuk misalnyamerayakan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah-ibadah tertentu secara berjamaah. Yang ada adalah memperbanyak amal shalih secara umum: puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, istighfar, sedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama hamba Allah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kembali saya wasiatkan kepada diri saya dan jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Takwa bukan hanya di lisan, tapi dalam kesungguhan memanfaatkan setiap kesempatan yang Allah berikan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Inti pesan khutbah hari ini sederhana namun sangat menentukan: Sya’ban adalah bulan persiapan, bukan bulan pelampiasan kelalaian. Barang siapa serius di Sya’ban, Allah mudahkan baginya Ramadhan. Barang siapa meremehkan Sya’ban, ia akan kelelahan di awal Ramadhan.
Mari kita jadikan Sya’ban sebagai bulan taubat sebelum Ramadhan datang. Taubat dari dosa yang tersembunyi maupun yang tampak. Taubat dari kebiasaan menunda-nunda kebaikan. Taubat dari ibadah yang setengah-setengah.
Mulailah dari hal yang realistis dan konsisten: puasa sunnah beberapa hari, membiasakan shalat tepat waktu, membuka mushaf setiap hari, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki niat. Ingatlah, Allah tidak menilai banyaknya amal, tapi keikhlasan dan kesesuaiannya dengan sunnah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita berdoa agar Allah menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan kesehatan, serta memberi taufik untuk memanfaatkan Sya’ban dengan sebaik-baiknya.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Hari-hari ini negeri kita ditimpa oleh begitu banyak bencana multi dimensi. Ada bencana tanah longsor di Jawa Barat. Ada pesawat jatuh di Maros. Ada kasus korupsi di mana-mana yang tak kenal henti; ada yang sudah tertangkap KPK dan masih banyak yang belum terungkap meski nyata terjadi. Ada kasus keracunan makanan MBG. Kasus pembunuhan, perzinahan dan perselingkuhan nyaris menjadi konsumsi sehari-hari.
Maka menjadi kewajiban kita semua kaum Muslimin untuk terus berisik dan menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang sebijak-bijaknya, agar yang mungkar dan maksiat harus tetap dipandang sebagai kemungkaran dan kemaksiatan. Bukan sesuatu yang dianggap normal dan wajar terjadi.
Selain itu, kita harus memperbanyak doa yang Ikhlas kepada Allah Ta’ala agar para pemimpin Negeri ini diberi hidayah, dibuka hatinya untuk memimpin negeri ini dengan keadilan, kepekaan jiwa dan rasa takut kepada Allah dan hisab di Hari Akhir nanti.
Semoga Allah memperbaiki pribadi-pribadi kita semua, memperbaiki Negeri ini dan seluruh negeri kaum Muslimin.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
