Home Artikel Tazkiyah Muhasabah Diri: Mengingat Hakikat Tujuan Penciptaan

Muhasabah Diri: Mengingat Hakikat Tujuan Penciptaan

0
Bermunajat
Ilustrasi seorang sedang Bermunajat/Unplash

mim.or.id – Memahami tujuan hakiki keberadaan manusia sangat penting bagi orang yang beriman agar senantiasa mengingat mengapa ia diciptakan di dunia yang fana ini. Allah telah menjawab dengan tegas dalam Surat Az-Zariyat Ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Kita harus menyadari bahwa kita tidak diciptakan hanya sekadar permainan, kebetulan, atau hanya untuk bersenda gurau. Kita hidup di dunia ini dengan tujuan mulia, yaitu semata-mata untuk menghambakan diri kita kepada Allah. 

Peringatan terhadap Kelalaian dan Hari Perhitungan

Salah satu hal yang dapat membinasakan manusia adalah ketika ia terlena, lalai, dan lupa kepada Allah saat hidup di dunia ini. Mereka memiliki hati namun tidak digunakan untuk memikirkan kebesaran Allah.

Memiliki mata namun tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, serta memiliki telinga namun tidak digunakan untuk mendengarkan peringatan dan nasihat dari Allah. 

Mereka hanyalah seperti binatang, bahkan Allah menyebutkan mereka lebih sesat dari binatang (balhum adzan). Merekalah orang-orang yang lalai. Hari perhitungan (hisabuum) semakin dekat, namun sangat disayangkan manusia semakin lalai dan berpaling dari peringatan Allah. 

Oleh karena itu, kita diingatkan melalui wasiat Umar Bin Khattab: “Perhitungkanlah diri-diri kalian sebelum kalian diperhitungkan di hadapan Allah” (hasibu anfusakum). Dunia ini hanyalah sementara, dan jatah umur kita singkat, berkisar antara 60 sampai 70 tahun.

Baca Juga: Saatul Usrah: Pelajaran Agung dari Perang Tabuk

Kita harus beriman dengan Hari Pembalasan (Al-Yaumul Akhirah). Orang yang beriman senantiasa mengontrol kehidupannya karena ia yakin segala perbuatannya dicatat. 

Tidak ada satu kalimat pun yang terlontar dari mulut kita melainkan ada malaikat yang mencatatnya, begitu pula pandangan mata, tangan, dan langkah kaki kita.

Penyesalan yang Terlambat dan Pentingnya Taubat

Orang-orang yang mengingkari Hari Pembalasan baru akan beriman pada dua kondisi, namun penyesalan itu telah terlambat:

Ketika Kematian Datang Menjemputnya: Pada saat sakaratul maut, segala yang menutupi akan disingkap, dan pada hari itu Pintu Taubat ditutup oleh Allah. Saat itu, barulah seseorang berkata: 

“Ya Rabb, kembalikan aku ke dunia sesaat saja untuk bersedekah atau mengerjakan amalan saleh”.

Ketika Dimasukkan ke dalam Neraka Jahanam: Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, kekal di dalamnya, dan azabnya tidak akan diringankan. Mereka berteriak memohon:

 “Ya Rabb, kembalikan kami sesaat ke dunia untuk mengerjakan amalan-amalan saleh,” namun kesempatan itu telah ditutup.

Baca Juga: Pentingnya Karakter Kuat Berlandaskan Tauhid!

Kesempatan yang diidam-idamkan oleh mereka yang telah meninggal (kembali ke dunia untuk beramal saleh) adalah kesempatan yang kita miliki saat ini. Selama nyawa masih dalam kandung badan, pintu taubat masih terbuka.

Kebahagiaan Hakiki dan Syariat

Syariat Allah diturunkan bukan untuk membatasi kebebasan atau hak asasi manusia, melainkan sebagai jaminan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat. 

Kebahagiaan hakiki terletak pada saat kita dekat dengan Allah, mengerjakan amalan-amalan saleh, tanpa memandang status sosial. 

Allah berjanji, bagi laki-laki atau perempuan yang mengerjakan amal saleh dan beriman, “maka kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik” (hayatau Thoyyibah) dan balasan yang lebih baik di hari kemudian.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version