Home Artikel Sirah Bukti Keimanan Sejati Melalui Kisah Wahsyi bin Harb

Bukti Keimanan Sejati Melalui Kisah Wahsyi bin Harb

0
Jalan
Ilustrasi jalan dan langit/Unplash

mim.or.id – Sebuah kisah bukti keimanan sejati melalui Kisah Wahsyi bin Harb, meskipun dosa kita telah menggunung dan kesalahan-kesalahan kita sudah tak terhitung, hal tersebut tidak menjadi alasan untuk kita jauh dari Allah subhanahu wa taala dan tidak kembali kepada-Nya. 

Pelajaran berharga tentang tobat dan keistiqamahan ini dapat kita ambil dari kisah seorang sahabat, Wahsyi bin Harb.

Kisah Tobat Seorang Pendosa

Kisah Wahsyi bin Harb dimulai dengan tindak keji yang dilakukannya pada Perang Uhud. Wahsyi bin Harb adalah seorang budak berkulit hitam dari negeri Ethiopia, yang terkenal sebagai pelempar tombak yang ulung, hampir setiap lemparannya tepat sasaran. 

Tuannya, Zubair bin Mu’tim, yang menaruh dendam besar kepada paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu anhu, menjanjikan kemerdekaan kepada Wahsyi jika ia berhasil membunuh Hamzah. 

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang sahabat yang gagah berani dan mendapat gelar singanya Allah. Karena tertarik untuk dibebaskan dan dimerdekakan, Wahsyi mencari kesempatan. 

Ketika Hamzah bin Abdul Muthalib lengah dari perhatiannya, Wahsyi melemparkan tombaknya dan tepat mengenai dada Hamzah, sehingga Hamzah pun menemui syahidnya.

Setelah Fathu Makkah, di mana umat Islam meraih kemenangan yang luar biasa, Wahsyi bin Harb kabur menuju Thaif. Ia khawatir Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan membalaskan dendam atas kematian paman yang begitu dicintai-Nya.

Baca Juga: Muhasabah Diri: Mengingat Hakikat Tujuan Penciptaan

Namun, setelah tinggal di Thaif, hidayah perlahan mulai masuk ke dalam hatinya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk masuk Islam dan bertemu dengan Rasulullah di Madinah.

Sayangnya, apa yang didapatkan Wahsyi setelah keislamannya tidak sesuai dengan harapannya. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjanji setia, Rasulullah mengatakan kepadanya:

“Jika engkau mampu untuk tidak memunculkan wajahmu di hadapanku maka lakukanlah”. 

Kalimat tersebut membuat Wahsyi bin Harb sangat sedih, sebab orang yang bertobat berharap bertemu seseorang yang bisa membimbingnya untuk kembali ke jalan yang benar dan membimbingnya agar istiqamah. 

Meskipun Rasulullah meminta dirinya untuk menjauhi beliau, Wahsyi bin Harb tidak lantas keluar dari Islam. Ia membuktikan bahwa ia tetap istiqamah dengan keimanan dan keislamannya, sekalipun dalam hati ia selalu berharap bisa bertemu dengan Rasulullah.

Di sisa usianya, Wahsyi bin Harb membuktikan keimanannya dan menjawab tantangan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Ia menutupi dosa masa lalunya dengan kebaikan yang ia lakukan pada Perang Yamamah. 

Dalam perang tersebut, Wahsyi bin Harb berhasil membunuh Musailamah al-Kadzab, seorang nabi palsu, dengan tombak yang sama yang dulu ia gunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib.

Wahsyi kemudian mengatakan, “Sungguh dengan tombak ini aku telah membunuh sebaik-baik orang [Hamzah] maka aku berharapkan ampunan dari Allah subhanahu wa taala dengan tombak ini aku membunuh seburuk-buruk orang [Musailamah]”.

Kisah ini mengajarkan bahwa setiap orang, sebesar apapun dosa yang telah ia lakukan, masih selalu ada kesempatan untuknya memperbaiki diri.

Tiga Prinsip Muslim Sejati

Jika seseorang mendengarkan panggilan Allah namun tidak memenuhinya, atau ada perintah Allah yang tidak dilaksanakan, atau larangan Allah yang masih didekati, itu bukanlah muslim sejati.

Menurut ulama, Islam dibangun atas tiga prinsip utama sebagai seorang muslim sejati yang harus kita pegang dan lakukan:

Pertama, mentauhidkan Allah subhanahu wa taala dalam segala hal. Ini berarti kita beribadah hanya kepada Allah dan beriman bahwa tidak ada tuhan yang menciptakan alam semesta ini kecuali Allah. 

Seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah hanyalah milik Allah, dan kita betul-betul berserah diri kepada-Nya dengan mentauhidkan-Nya. Manusia tidak diperintahkan kecuali hanya untuk ibadah kepada Allah, dengan ikhlas hanya karena Allah.

Baca Juga: Salat yang Terlupa: Kewajiban Qadha dalam Islam

Kedua, Taat kepada Allah dan rasul-Nya. Siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka dia telah mendapatkan kemenangan yang begitu agung. 

Mari memanfaatkan kesempatan yang masih ada untuk menjadikan diri kita taat kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ketiga, Menjauhi segala perbuatan kesyirikan. Ini mencakup baik itu syirik kecil maupun syirik besar.. Betapapun beratnya hijrah atau kembali kepada Allah, jangan sampai melunturkan semangat sedikit pun.

Karena kita bisa membalas masa lalu yang kelam dengan masa depan yang begitu cemerlang, terutama pahala besar di akhirat kelak. Buang jauh-jauh pikiran bahwa kita sudah tidak layak lagi kembali atau tidak layak lagi mendapatkan ampunan Allah karena dosa yang begitu banyak.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version