mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Hisabnya Sungguh Berat’ (Edisi 100, 26 Rajab 1447 H).
Naskah selengkapnya:
‘HISABNYA SUNGGUH BERAT…’
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Azza wa Jalla dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik saat kita berdiri sendiri di hadapan Allah, pada hari yang tidak lagi berguna harta, jabatan, pengaruh, dan kekuasaan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, kita akan merenungi satu tema yang sangat berat, sangat serius, dan sangat menentukan: betapa beratnya hisab seorang pemimpin di akhirat kelak. Tema ini tidak ditujukan untuk menyudutkan atau merendahkan, tetapi untuk menghidupkan rasa takut kepada Allah, rasa tanggung jawab, dan muhasabah-baik bagi mereka yang memimpin, maupun bagi setiap kita yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban sesuai amanahnya.
Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah kehormatan, tetapi amanah. Bukan kemuliaan, tetapi beban. Bukan sebagai hak untuk dilayani, tetapi kewajiban untuk melayani dengan adil dan takut kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
“Wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau sebagai khalifah di bumi. Maka berilah keputusan di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah, bagi mereka azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shad: 26).
Perhatikan, wahai kaum muslimin…
Allah mengaitkan penyimpangan seorang pemimpin dengan lupa kepada hari hisab. Ketika pemimpin tidak lagi mengingat bahwa setiap keputusan akan ditanya, setiap kezaliman akan dibalas, dan setiap amanah akan diadili, saat itulah kehancuran dimulai.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dengan sangat tegas:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah memimpin rakyat, lalu ia meninggal dalam keadaan menipu dan menzalimi rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini, jamaah sekalian, bukan hadits yang mudah. Ini adalah ancaman yang sangat keras dan mengerikan. Surga diharamkan. Bukan karena shalatnya kurang, bukan karena puasanya kurang, tetapi karena pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan. Bukan karena zakatnya kurang, bukan karena haji dan umrahnya jarang, tapi karena jabatannya digunakan untuk merampas hak orang lain dan memperkaya diri sendiri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya kalian akan berambisi terhadap jabatan kepemimpinan, padahal ia akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari).
Penyesalan itu bukan tanpa sebab. Karena seorang pemimpin akan ditanya bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang rakyatnya: yang lapar, yang tertindas, yang dizalimi, yang tidak mendapatkan keadilan.
Maka siapapun yang menjadi pemimpin di Indonesia ini, berarti siap mempertanggungjawabkan nasib lebih dari 250 juta penduduk Indonesia. Termasuk mempertanggungjawabkan daratan, lautan dan udaranya. Mempertanggungjawabkan hutan-hutannya dan semua makhluk hidup yang ada dari Sabang sampai Merauke.
Karena itu, para salafus shalih memahami betul beratnya amanah ini. Maka, saat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dipilih sebagai khalifah, beliau berkata:
“Seandainya ada seekor keledai yang terperosok di Irak, niscaya aku khawatir Allah akan bertanya kepadaku: ‘Wahai Umar, mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya?’”
Lihatlah, wahai jamaah. Seekor keledai. Bukan manusia. Tapi Umar takut hisab Allah. Inilah rasa takut yang lahir dari iman yang hidup.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jangan lupa. Kepemimpinan sekecil apa pun akan dihisab. Ayah di rumah adalah pemimpin. Ibu adalah pemimpin. Kepala sekolah, pimpinan kantor, pengurus masjid, bahkan setiap kita adalah pemimpin atas dirinya sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka jangan pernah meremehkan amanah. Jangan merasa aman dari hisab. Jangan tertipu oleh tepuk tangan manusia, karena yang menentukan adalah penilaian Allah.
Marilah kita renungkan semua ini, kita istighfari dosa-dosa kita, kita perbaiki niat dan amanah kita sebelum datang hari yang tidak bisa ditunda.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita ringkas kembali pelajaran besar hari ini: hisab kepemimpinan adalah hisab yang paling berat. Semakin luas kekuasaan seseorang, semakin panjang pertanyaannya di hadapan Allah. Semakin besar wewenangnya, semakin besar pula potensi azab atau pahala baginya.
Karena itu, Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk mengagungkan jabatan, tetapi mengagungkan keadilan, amanah, dan rasa takut kepada Allah.
Bagi siapa pun yang hari ini memegang amanah-sekecil apa pun-hendaklah ia memperbanyak taubat, doa, dan keadilan. Jangan menunda taubat dengan alasan “nanti kalau sudah tidak menjabat”. Kematian tidak menunggu masa jabatan selesai.
Bagi rakyat dan masyarakat, Islam mengajarkan sikap yang lurus: mendoakan pemimpin agar diberi hidayah, keadilan, dan takut kepada Allah; serta menasihati dengan cara yang benar, bukan dengan kebencian dan fitnah.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:
“Seandainya aku memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya akan aku tujukan untuk pemimpin.”
Mengapa? Karena baiknya pemimpin membawa kebaikan bagi banyak orang, dan rusaknya pemimpin membawa kerusakan yang luas.
Mari kita akhiri khutbah ini dengan doa dan harapan, semoga Allah memperbaiki diri kita dan para pemimpin kaum muslimin, serta menyelamatkan kita dari hisab yang memberatkan.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Hari ini, marilah kita terus menjadi bagian mereka yang terus bekerja untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatra. Siapkan semua bentuk dukungan yang bis akita berikan. Kita doakan agar Allah mengganti kesedihan mereka dengan ketenangan, kehilangan mereka dengan karunia, dan musibah mereka dengan ampunan dan rahmat.
Hari-hari ini, kita juga tidak bosan-bosannya terus mengingatkan untuk: Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, meskipun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata, tapi perjuangan membebaskan bumi al-Aqsha sama sekali belum selesai! Karena penjajahan kaum Zionis Yahudi masih tetap eksis di sana entah sampai kapan.
Mintalah agar Allah menjaga iman kita, menjaga keluarga kita, menjaga ketenangan negeri kita, dan menjaga seluruh nikmat yang kita genggam hari ini.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
