Home Khutbah Khutbah Jum’at: ‘Jangan Ghuluw pada Orang Shalih!’ (Edisi 088, 2 Jumadil Awal...

Khutbah Jum’at: ‘Jangan Ghuluw pada Orang Shalih!’ (Edisi 088, 2 Jumadil Awal 1447)

0
Sampul Khutbah
Ilustrasi Sampul Khutbah Jum'at

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jangan Ghuluw pada Orang Shalih!’ (Edisi 088, 2 Jumadil Awal 1447).

JANGAN GHULUW PADA ORANG SHALIH!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla yang sekali lagi memberikan kesempatan pada kita untuk melewati episode kehidupan kita siang hari ini dengan beribadah kepadaNya, dengan duduk bersimpuh di hadapanNya. Inilah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba, yaitu nikmat kesempatan menjalani kehidupan dunia yang singkat ini dalam beribadah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala.

Kaum muslimin yang berbahagia!

Islam adalah satu-satunya agama dan pegangan hidup yang benar dan sempurna. Salah satu bentuk kesempurnaan Islam yang sangat istimewa adalah bahwa Islam adalah agama jalan pertengahan. Islam adalah agama keseimbangan, yang ajarannya selalu mengajak kita menempuh jalan pertengahan yang terbaik di antara ajaran-ajaran agama dan isme lain yang ekstrim dan berlebih-lebihan.

Di dalam Islam, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat.

Di dalam Islam, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara ikhtiar dan tawakkal pada Allah.

Di dalam Islam, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara berusaha dan beriman kepada takdir Allah.

Di dalam Islam, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara ilmu dan ibadah kita.

Di dalam Islam, kita diajarkan untuk menyeimbangkan antara sikap rahmat dan ketegasan.

Demikianlah seterusnya, jika kita menelusuri lebih dalam, Islam akan selalu dan selalu mengajak kita untuk bersikap seimbang dan pertengahan dalam segala aspek, karena sikap ekstrim dan berlebihan yang biasa dalam bahasa Arab disebut sebagai “Ghuluw” itu selalu membawa bencana dalam keberislaman kita.

Karena itu-jamaah Jum’at yang berbahagia-, dalam konteks kita mencintai seseorang, dalam konteks kita menghormati seseorang, entah itu seorang ahli ibadah, ulama, kyai, ustadz, bahkan seorang Rasul mulia seperti Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun; kita kaum muslimin ini selalu diingatkan untuk jangan berlebihan, jangan over dosis, jangan kebablasan.

Kenapa? Karena berlebihan mencintai, berlebihan menghormati, over dosis mengagumi dan menyanjung seseorang-siapapun itu-pasti akan mendatangkan bencana dalam keberislaman kita.

Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak 14 abad yang lalu sudah mengingatkan bahaya sikap ghuluw, sikap berlebih-lebihan dalam beragama; termasuk menghormati dan memuliakan orang-orang tertentu atas alasan agama. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إيَّاكم والغُلُوَّ في الدِّينِ؛ فإنَّما أهلَكَ من كان قَبْلَكم الغُلُوُّ في الدِّينِ

Artinya:

“Jauhilah oleh kalian semua sikap berlebihan dalam beragama, karena tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian selain sikap berlebihan mereka dalam beragama.” (HR. al-Nasa’i dan Ahmad)

Jamaah sekalian, apakah pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini masih kurang tegas terdengar di telinga kita?

Apakah kita masih perlu penjelasan terhadap peringatan beliau bahwa: “…tidak ada yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian selain sikap berlebihan mereka dalam beragama”?

Orang-orang yang berlebihan dalam beragama itu cenderung mencari pembenaran, dan bukan kebenaran. Mereka akan sibuk mencari pembenaran untuk pemahaman dan pengamalan mereka. Mereka akan sibuk mengais-ngais dalil dan argumentasi, untuk sekadar memberikan legalitas bahwa yang mereka yakini dan kerjakan juga terkesan ada dalilnya. Meskipun dalil itu hanya menjadi dalil yang dipaksakan, atau sekadar sebuah cocokologi!

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!

Maka sekali lagi, sikap ekstrim atau ghuluw dalam beragama itu pasti menghancurkan siapapun, sebagaimana pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.

Mungkin secara fisik, pelakunya tidak hancur. Tapi cara berpikir dan memandangnya sudah hancur, hilang kewarasan dan sikap objektifnya, lantaran dikuasai oleh sikap ekstrimnya terhadap sesuatu.

Karena terlalu cinta dan hormat kepada gurunya, ustadznya, ulamanya atau kyainya; sehingga patokan kebenarannya sudah bergeser dan kehilangan panduan objektifnya. Kebenaran bukan lagi berdasarkan wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah, kebenaran bukan lagi pada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Salaf yang shalih; tapi pada apa kata guru dan kyainya meskipun menyelisihi apa kata Allah dan Rasul-Nya.

Karena terlalu hormat dan cinta kepada orang shalih, kepada wali Allah, akhirnya mereka kehilangan pegangan ilmu yang valid dan shahih. Mereka kehilangan nalar yang lurus, yang sebenarnya selalu sejalan dengan wahyu Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga pada puncaknya, mereka terjebak pada pengkultusan dan pemujaan orang-orang shalih dengan cara dan model yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh para Sahabat dan para Salaf yang shalih kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan pola seperti inilah yang akan terus dan selalu berulang dalam Sejarah manusia sepanjang masa. Sikap berlebihan dan ekstrim memuliakan orang-orang yang dianggap shalih, dianggap wali itu rumusnya akan selalu berujung pada dosa yang paling tidak terampunkan di sisi Allah Ta’ala, yaitu dosa syirik. Wal ‘iyadzu billah…

Jamaah sekalian yang berbahagia!

Kita semua tentu mengetahui bahwa dosa syirik yang pertama kali terjadi dalam Sejarah umat manusia adalah yang terjadi di zaman rasul yang paling pertama, Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Awal mulanya terlihat sangat sederhana. Ada sejumlah orang shalih, ahli ibadah, yang sangat mereka muliakan, sangat mereka cintai dan teladani. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Sayangnya, ketika kelima orang shalih ini meninggal dunia, sebagaimana diceritakan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Syetan pun datang memberikan sebuah ide beragama kepada mereka agar lebih termotivasi dalam beribadah. Ide apa gerangan?

Syetan mendorong mereka untuk memvisualisasikan “kelima orang shalih yang sudah wafat” itu dalam wujud patung. Bukan untuk disembah. Bukan untuk dimintai doa. Bukan untuk diambil berkahnya. Bukan untuk itu semua. “Tujuannya hanya untuk memotivasi kalian untuk meneladani ibadah mereka saat kalian melihat kembali patung-patung mereka,” kira-kira begitu kamuflase Syetan pada mereka pada mulanya.

Jadi pada mulanya, patung-patung orang shalih itu belum diapa-apakan. Belum disembah. Belum diziarahi. Belum diberikan persembahan. Belum dicari berkahnya.

Tapi saat generasi awal penggagas patung orang shalih itu satu per satu meninggal dunia, digantikan oleh generasi baru mereka, barulah terjadi pergeseran secara perlahan. Ketika ilmu agama yang valid dan shahih mulai diabaikan, dalil-dalil yang shahih mulai diremehkan, bahkan katanya: “Tidak semuanya harus ada dalilnya”, para pemberi nasihat mulai dituduh dengan tuduhan-tuduhan aneh; pada saat itulah Syetan melancarkan strategi demi strategi barunya kepada generasi baru yang abai dan anti pada ilmu agama yang valid dan shahih itu.

Begitulah seterusnya, hingga pada puncaknya, orang-orang shalih yang dianggap wali itu tidak lagi sekadar menjadi “pemberi motivasi beribadah”, tapi sudah menjelma dan dijadikan sebagai “tuhan=tuhan yang disembah”!

Allah Azza wa Jalla mengabadikan statement generasi baru itu dengan mengatakan:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا 

Artinya:

“Mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr.’” (Surah Nuh: 23).

Dari mana ini semua bermula?

Dari pengkultusan yang over dosis, dari penghormatan yang berlebih-lebihan, dari rasa cinta yang keterlaluan, dari adab berlebihan yang bahkan melanggar batas adab itu sendiri. Wallahul Musta’an.

Dan pola beragama seperti ini menjadi salah satu model beragama yang selalu berulang. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam mengingatkan:

أولئك قومٌ إذا مات فيهم العَبدُ الصَّالحُ أو الرَّجُلُ الصَّالحُ بَنَوا على قَبْرِه مَسجِدًا، وصَوَّروا فيه تلك الصُّوَرَ، أولئك شِرارُ الخَلْقِ عندَ اللهِ

Artinya:

“…Mereka itu adalah kaum yang ketika ada hamba atau pria yang shalih yang meninggal di tengah mereka, mereka akan membangun masjid/tempat beribadah di atas kuburannya, lalu mereka akan membuatkan gambar-gambar untuknya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.”  (HR. al-Bukhari).

Renungkanlah kalimat Baginda Rasul itu: “…Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah…”. Jadi bukan kelompok bernama “Wahabi”, bukan kelompok bernama “Salafi”, yang menyebut para pengabdi dan pemuja kuburan orang shalih sebagai makhluk terburuk di sisi Allah, tapi yang menyebutnya adalah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, kaum Muslimin yang berbahagia…

Cintailah guru-guru kita dengan sewajarnya.

Cintailah kyai-kyai kita dengan sewajarnya.

Cintailah ulama-ulama kita dengan sewajarnya.

Muliakanlah para kekasih dan wali Allah dengan sewajarnya.

Muliakanlah orang-orang shalih dengan sewajarnya.

Tapi semua ada batasan-batasannya. Dan itulah tujuan diturunkannya al-Qur’an serta disampaikannya hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu untuk memberikan kita batasan yang tidak boleh kita langgar. Karena ketika batasan itu telah dilanggar, maka pasti dan pasti kita akan jatuh dalam sikap ekstrimisme dalam berIslam.

Mereka para guru, para kyai, para ulama dan orang-orang shalih itu, bagaimanapun juga tetaplah manusia biasa. Dengan semua keilmuan dan keshalihannya, mereka tetaplah manusia biasa, yang punya peluang melakukan kesalahan, bahkan dosa.

Sekali lagi, Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita semua:

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ

Artinya:

“Janganlah kalian berlebihan dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan atas (nama) Allah kecuali kebenaran…”  (Surah al-Nisa’: 171).

Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga para ulama kita, para kyai kita, para guru dan ustadz kita, dan kita semua dari sikap ghuluw dan melampaui batas dalam beragama.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari-hari ini, kita tidak bosan-bosannya terus mengingatkan untuk: Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, meskipun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata, tapi perjuangan membebaskan bumi al-Aqsha sama sekali belum selesai! Karena penjajahan kaum Zionis Yahudi masih tetap eksis di sana entah sampai kapan.

Maka, kita tidak boleh lupa, bahwa keberadaan mereka di bumi jihad Palestina itu lebih dari sekadar mempertahankan negara mereka yang bernama Palestina, tapi lebih dari itu, mereka sedang mewakili kita kaum muslimin untuk mempertahankan dan mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka salah satu jihad kita umat Islam di negeri ini terhadap Palestina adalah memberikan dukungan dalam berbagai bentuknya untuk saudara-saudara kita para pejuang dan umat Islam di Gaza dan Palestina. Jangan putus berdoa untuk mereka dalam setiap kesempatan yang Allah berikan untuk berdoa.

Semoga dukungan kita untuk Gaza juga bisa menjadi sebuah jejak kebaikan yang Allah catatkan dalam lembaran amal kita, insya Allah.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version