Home Khutbah Khutbah Jum’at: Jangan Zhalimi Bumi! (Edisi 095, 21 Jumadil Akhir 1447)

Khutbah Jum’at: Jangan Zhalimi Bumi! (Edisi 095, 21 Jumadil Akhir 1447)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah Jum'at Edisi 095

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jangan Zhalimi Bumi!’ (Edisi 095, 21 Jumadil Akhir 1447).

Naskah selengkapnya:

‘JANGAN ZHALIMI BUMI!’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Kami berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah semua untuk bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang menghadirkan rasa malu kepada-Nya ketika tangan kita hendak melakukan kerusakan, ketika keputusan-keputusan hidup kita mengabaikan kemaslahatan orang banyak, dan ketika kita memperlakukan bumi seakan ia adalah benda tak bernyawa yang tidak memiliki hak.

Ketahuilah, bumi ini bukan benda mati. Bumi adalah ciptaan Allah yang taat kepada-Nya, yang mengemban amanah-Nya, dan yang akan berbicara pada hari ketika manusia tidak lagi mampu berbicara.

Mari kita baca dan dengarkan kembali pelan-pelan gambaran Allah tentang saat-saat itu dalam Surah al-Zalzalah:

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ ۝١

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,”

وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ ۝

“bumi (saat itu) mengeluarkan isi perutnya,”

وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ ۝٣

“dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi dengannya (bumi)?”

Lalu Allah Ta’ala menjawab pertanyaan manusia itu dengan mengatakan:

يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ ۝٤

“Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya)”

بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَاۗ ۝٥

“karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.”

يَوْمَىِٕذٍ يَّصْدُرُ النَّاسُ اَشْتَاتًا ەۙ لِّيُرَوْا اَعْمَالَهُمْۗ ۝٦

“Pada hari itu manusia keluar (dari kuburnya) dalam keadaan terpencar untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatan mereka.”

Begitulah, jamaah sekalian, pada hari bumi akan menceritakan apa yang dilakukan manusia di atasnya—kebaikan ataukah kerusakan? Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan secara lebih detil bahwa “cerita bumi” itu adalah:

أَنْ تَشْهَدَ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلَى ظَهْرِهَا، تَقُوْلُ: عَمِلَ يَوْمَ كَذَا كَذَا وَكَذَا

“…ketika bumi menjadi saksi atas setiap hamba pria maupun wanita tentang apa saja yang telah dilakukannya di atas muka bumi. (Bumi) akan berkata: ‘Dia telah melakukan ini dan ini pada hari ini!’.”  (HR. al-Tirmidzi).

Maka tanyakanlah pada diri kita hari ini: kira-kira kelak pada Hari Kiamat itu apa yang akan diceritakan bumi tentang kita? Apakah itu adalah cerita tentang keshalihan kita, atau sebaliknya: semuanya tentang kemaksiatan dan keserakahan kita di muka bumi ini?

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Hari-hari ini, Sumatra kembali menangis. Banjir bandang merendam desa, tanah longsor menggulung rumah, anak-anak kehilangan orang tua, para petani kehilangan sawah yang menjadi sumber hidup mereka.

Tidak sedikit musibah itu yang terjadi di daerah-daerah yang sebelumnya ditopang oleh hutan lebat, pepohonan besar, akar-akar kuat yang memegang tanah seperti tangan seorang ibu memeluk anaknya. Namun hari ini, pelukan itu hilang. Hutan-hutan ditebang dengan rakus. Tanah dibuka tanpa etika. Sungai digeser demi proyek yang tidak pernah bertanya apakah alam sanggup memikulnya.

Allah telah memperingatkan kita:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41).

Kerusakan itu tampak dalam bentuk tradisi kesyirikan yang merajalela,  beragam kemelut sosial, wabah penyakit, bencana alam, kekacauan, atau hancurnya ekosistem akibat ketamakan manusia.

Ketika alam kehilangan keseimbangan, maka musibah turun bukan hanya kepada pelaku kerusakan, tetapi kepada siapa pun yang tinggal di negeri itu, sebagai ujian, sebagai teguran, dan sebagai pelajaran bagi mereka yang masih memiliki hati.

Padahal, manusia dihadirkan ke muka bumi dengan satu Amanah besar, yaitu menunjukkan dan membuktikan penghambaannya kepada Allah Ta’ala, salah satunya dengan cara mematuhi aturan-aturan Allah (SunnatuLlah) yang telah ditetapkan untuk menjaga keseimbangan, kedamaian dan kelestarian ekosistem. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dialah yang menciptakan kalian dari bumi dan meminta kalian memakmurkannya.” (QS. Hud: 61).

Rasulullah ﷺ mempertegas amanah ini:

إِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِي الأَرْضِ فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya Allah mempergilirkan kalian di muka bumi ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat (di muka bumi ini).” (HR. Muslim).

Maka tugas memakmurkan bumi tidak mungkin terwujud kecuali dengan menjaga, merawat, mempertahankan keseimbangan, dan mengelolanya dengan amanah. Bukan dengan merampas, merusak, dan mengeksploitasinya penuh serakah.

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!

Banyak orang menyangka bahwa menjaga lingkungan adalah isu dan tema modern. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengajarkannya sejak 14 abad yang lalu. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan bumi:

Beliau misalnya mengukuhkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan umum adalah salah satu cabang keimanan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman itu lebih dari 70  atau 60 cabang, cabang paling utamanya adalah ucapan ‘La ilaha illaLlah’, dan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”  (HR. Muslim).

Bayangkan, jamaah sekalian, ternyata semua bentuk usaha dan upaya membersihkan dan menjaga jalan dari semua bentuk gangguan dan halangan kecil adalah salah satu bagian penting dari bangunan keimanan seorang muslim!.

Itu artinya, ketika kita berusaha menjaga agar kepentingan-kepentingan umum manusia dari hal-hal yang mengganggu dan merusak, sebenarnya kita sedang menunaikan konsekwensi keimanan kita kepada Allah Ta’ala. Kita sedang menunaikan sebuah amal shalih yang luar biasa.

Sebaliknya, seorang muslim yang menebarkan gangguan bahkan merusak tatanan kehidupan dan ekosistemnya berarti telah mencederai keimanannya sendiri, dan melakukan sebuah kemaksiatan yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan para sahabatnya:

اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ

“Jauhilah 2 hal yang mengundang laknat!”.

Lalu saat para Sahabat bertanya apa 2 hal itu, beliau menjawab:

الذي يَتَخَلَّى في طَرِيقِ النَّاسِ، أَوْ في ظِلِّهِمْ

(Yaitu) orang yang buang hajat di jalan (umum) manusia, atau di tempat mereka biasa berteduh.”  (HR. Muslim).

Bayangkan, jamaah sekalian, jika sekadar buang hajat sembarangan di fasilitas umum saja bisa mengundang laknat, lalu bagaimana dengan mereka yang menyebabkan desa dan pemukiman rakyat hancur lebur akibat penebangan hutan yang mereka lakukan?

Bisa dibayangkan betapa berlimpah-limpahnya laknat itu ditimpakan kepada para pengusaha dan pejabat yang terlibat dalam kongkalikong keji seperti itu!

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!

Bahkan dalam konteks jihad misalnya, kita juga menemukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berbagai bentuk perusakan lingkungan.

Beliau melarang pasukan kaum muslimin: membunuh hewan ternak tanpa kebutuhan, menebang pohon, merusak tanaman, atau mengeringkan sumber air. Semua itu menunjukkan bahwa menjaga kehidupan lebih utama daripada ambisi kemenangan.

Jamaah sekalian,

Kerusakan alam yang kita lihat hari ini bukan hanya ulah individu. Ia telah menjadi bagian dari sistem ekonomi dunia yang menjadikan keuntungan sebagai tuhan, dan bumi sebagai korban.

Di banyak daerah—di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi—hutan-hutan dibuka demi perluasan perkebunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Sungai-sungai tercemar limbah industri. Pegunungan dikeruk untuk tambang, sehingga desa-desa di sekitarnya kehilangan perlindungan alamiah dari longsor. Lahan yang dulu menjadi sumber makanan lokal kini berubah menjadi area produksi masif yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Di kota-kota besar, manusia hidup dalam budaya konsumsi berlebihan, memproduksi sampah yang tak tertampung oleh bumi.

Semua ini adalah bentuk upaya perusakan yang Allah larang.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Allah tidak mencintai para pelaku kerusakan.” (Surah al-Maidah: 64).

Dan betapa gelapnya hidup seseorang yang dibenci oleh Allah.

Kerusakan ekologis bukan hanya masalah lingkungan. Ia adalah masalah keadilan sosial. Sebab yang paling menderita bukanlah para perusak itu sendiri, tetapi rakyat kecil: nelayan, petani, masyarakat adat, dan mereka yang tinggal di bantaran sungai dan kaki gunung.

Betapa banyak keluarga yang rumahnya terseret arus banjir bukan karena kesalahan mereka, tetapi karena gunung di atas mereka telah digunduli oleh tangan-tangan serakah.

Jamaah Jum’at yang berbahagia!

Bumi ini adalah amanah Allah di pundak kita umat manusia. Jika kita merusaknya, maka kita telah mengkhianati Amanah yang dititipkan Allah kepada kita.

Maka berhentilah berbuat zhalim kepada bumi ini. Berhentilah berbuat zhalim kepada makhluk-makhluk Allah yang ada di muka bumi ini. Karena kezhaliman di dunia ini kelak akan menjadi kegelapan bagi pelakunya di Akhirat nanti.

Marilah kita kembali menjadi hamba yang lembut dan hangat kepada bumi, karena kelembutan dan kehangatan pada bumi adalah ciri orang beriman.

Allah Ta’ala berfirman tentang para ‘Ibadurrahman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

“Dan hamba-hamba Ar-Rahman adalah mereka yang berjalan di bumi dengan lembut.” (QS. Al-Furqan: 63).

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Takwa adalah pelita yang menuntun manusia untuk tidak hanya berbuat baik kepada sesama, tetapi juga kepada bumi yang menjadi tempat kita sujud kepada Allah.

Bumilah yang dengan izin Allah menyediakan kita makanan, air, dan udara.

Bumilah yang Allah bentangkan agar kita hidup di atasnya.

Bumilah yang kelak menjadi saksi amal-amal kita.

Maka siapa yang berusaha menjaga bumi, maka ia sedang menjaga masa depannya sendiri.
Dan siapa merusaknya, sungguh ia telah menabur kesengsaraan yang mungkin akan kembali menimpanya di dunia ini, atau di Akhirat nanti.

Hari ini, marilah kita berdoa untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatra. Kita doakan agar Allah mengganti kesedihan mereka dengan ketenangan, kehilangan mereka dengan karunia, dan musibah mereka dengan ampunan dan rahmat.

Mintalah agar Allah menjaga iman kita, menjaga keluarga kita, menjaga ketenangan negeri kita, dan menjaga seluruh nikmat yang kita genggam hari ini.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version