Home Khutbah Khutbah Jum’at: ‘Jejak Apa yang Kita Tinggalkan?’ (Edisi 089, 9 Jumadil Awal...

Khutbah Jum’at: ‘Jejak Apa yang Kita Tinggalkan?’ (Edisi 089, 9 Jumadil Awal 1447)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah Jum'at Edisi, 089

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Jejak Apa yang Kita Tinggalkan?’ (Edisi 089, 9 Jumadil Awal 1447).

‘JEJAK APA YANG KITA TINGGALKAN?’

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla yang sekali lagi memberikan kesempatan pada kita untuk melewati episode kehidupan kita siang hari ini dengan beribadah kepadaNya, dengan duduk bersimpuh di hadapanNya. Inilah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba, yaitu nikmat kesempatan menjalani kehidupan dunia yang singkat ini dalam beribadah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala.

Kamu muslimin yang berbahagia!

Pada akhirnya, kita semua akan menutup usia. Pada akhirnya, kita semua meninggalkan kehidupan dunia ini. Pada akhirnya, umur yang Allah karuniakan kepada kita akan bertemu juga dengan titik akhirnya yang bernama: ajal kematian.

Lalu apa sesudah itu? Apa yang terjadi saat ajal kematian itu tiba? Apakah semua jejak kita berakhir pada saat itu? Atau apakah jejak itu masih berlanjut, meski kita telah meninggalkan dunia ini? Apakah catatan amal kita akhirnya telah tertutup, sehingga tidak ada lagi kebaikan atau keburukan yang akan ditambahkan jejaknya di sana?

Untuk menjawab pertanyaan itu, maka sebagian ulama menjelaskan, bahwa saat kita manusia ini mati, maka kita akan menjadi 1 dari empat kategori manusia berikut ini:

Pertama, manusia yang mati dan semua kebaikan dan keburukannya sama-sama terputus, sehingga amal yang ia lakukan-baik maupun buruk-benar-benar hanya yang pernah ia lakukan semasa hidupnya saja.

Kedua, manusia yang mati, namun kebaikan dan keburukannya terus mengalirkan pahala dan dosa meski ia telah berada di alam kuburnya.

Ketiga, manusia yang mati, namun keburukannya telah terputus dan hanya kebaikan belaka yang terus mengalir untuknya di alam kuburnya.

Keempat, manusia yang mati, tapi kebaikannya pun ikut terputus, dan yang mengalir untuknya hanyalah keburukan yang bertambah di catatan amalnya.

Itulah penjelasan detil tentang apa yang Allah Azza wa Jalla sebut sebagai “atsaar” atau “jejak-jejak yang ditinggalkan” di dalam Surah Yasin ayat 12:

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

Artinya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).”

Karena itu, jamaah Jum’at yang berbahagia, pertanyaan penting untuk setiap kita adalah: andai kita meninggal dunia hari ini, kira-kira kita akan menjadi jenis manusia yang mana?.

Ini mungkin kelihatan ringan, tapi ini adalah sebuah pertanyaan yang serius. Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati, maka kira-kira ketika Allah menakdirkan kita mati:

Apakah kita termasuk manusia yang masih meninggalkan jejak kebaikan yang terus mengalir ke dalam catatan amal kita, atau sebaliknya-wal ‘iyadzu bilLah-kita termasuk manusia yang jejaknya terus mengalir, tapi sayangnya itu adalah jejak dosa dan keburukan?

Lebih terperinci, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendetilkan:

مَنْ سَنَّ في الإِسْلام سُنةً حَسنةً فَلَهُ أَجْرُهَا وأَجْرُ منْ عَملَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ ينْقُصَ مِنْ أُجُورهِمْ شَيءٌ، ومَنْ سَنَّ في الإِسْلامِ سُنَّةً سيَّئةً كَانَ عَليه وِزْرها وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعْده مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزارهمْ شَيْءٌ

Artinya:

“Siapa saja yang mencontohkan dalam Islam sebuah contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala siapapun yang mencontohinya sesudahnya, tanpa dikurangi pahala mereka sedikit pun. Namun siapa saja yang memberikan sebuah contoh yang buruk dalam Islam, maka ia akan memikul dosanya dan dosa siapa saja yang mengamalkan itu sepeninggalnya tanpa dikurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.”  (HR. Muslim).

Jika kita adalah seorang ustadz atau ulama, maka pastikanlah contoh yang kita berikan adalah contoh yang punya dasar dan landasan ilmunya dalam Islam. Ada pegangan dalil dan argumentasinya yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena kalau kita mengada-ada tanpa ada pijakan dalil yang jadi pegangan, kita akan memikul dosa para pengamal contoh keliru itu dari generasi ke generasi. Dosa diri sendiri saja begitu berat untuk kita pikul, lalu bagaimana pula dengan memikul dosa generasi demi generasi!

Jika kita adalah seorang pemimpin, maka jika tidak mampu memberi dan meninggalkan contoh yang baik, sekurang-kurangnya jangan pernah meninggalkan contoh buruk yang bagi bawahan atau masyarakat. Jangan tinggalkan contoh buruk dengan menggampangkan soal korupsi dan mengambil harta negara atau rakyat melalui “anggaran-anggaran palsu” yang dibuat-buat. Karena siapapun yang terinspirasi dengan kejahatan itu sepeninggal kita, maka setiap dosanya pun akan menjadi tanggungan kita di Akhirat nanti.

Jika kita adalah orang tua atau guru, maka pastikan untuk meninggalkan jejak dan contoh yang baik untuk anak-anak kita. Jangan pernah menjadi orang tua yang hanya pandai bicara dan menyuruh, tapi paling buruk dalam hal pengamalan.

Maka, jika mau anak-anak kita menjadi ahli shalat, tunjukkanlah pada mereka bahwa kita adalah ahli shalat yang meninggalkan contoh dan jejak teladan sebagai hamba yang memperhatikan shalatnya di atas apapun.

Jika mau anak-anak kita menjadi orang yang jujur dan amanah, maka tunjukkanlah pada mereka bahwa kita juga adalah seorang hamba yang jujur dan amanah.

Jika mau anak-anak kita menjadi anak yang shalih, maka tinggalkanlah jejak untuk mereka bahwa kita juga adalah seorang anak yang shalih kepada kedua orangtuanya.

Dan begitulah, jamaah yang dimuliakan Allah…

Di dalam Islam memang tidak ada yang namanya “dosa warisan”, tetapi jejak-jejak keburukan dan maksiat yang kita tinggalkan akan menjadi contoh dan inspirasi bagi orang-orang yang kita tinggalkan untuk melakukan dosa yang sama atau bahkan lebih besar dari itu.

Ingatlah pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, bahwa sesiapapun yang mewariskan jejak dosa dan maksiat yang menjadi contoh bagi orang lain, maka semua dosa mereka yang mengikutinya akan dipikulnya di Akhirat nanti, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun!

Al-Imam al-Ghazali rahimahullah mengatakan:

طوبى لمن إذا مات ماتت معه ذنوبه، والويل الطويل لمن يموت وتبقى ذنوبه مائة سنة ومائتي سنة أو أكثر، يعذب بها في قبره، ويُسأل عنها إلى آخر انقراضها

“Beruntunglah orang yang saat ia mati, maka ikut mati pula dosa-dosanya. Dan kebinasaan yang besarlah bagi siapa saja yang mati, namun jejak dosanya terus tersisa hingga seratus tahun, 200 tahun, atau bahkan lebih; dengan itulah ia diadzab di dalam kuburnya dan akan ditanyai tentangnya hingga titik terakhirnya.” (Lih: Ihya’ Ulumiddin, 2/74).

Secara khusus, kepada Anda para pembuat konten atau content creator, ingatlah selalu bahwa semua konten yang Anda buat dan publish, semuanya akan menjadi jejak-jejak peninggalan Anda saat Anda telah mati nanti.

Jika itu adalah konten kebaikan yang diridhai Allah, maka itu akan menjadi jejak kebaikan untuk Akhirat kita. Tapi jika itu adalah konten yang melalaikan dari Allah, sekadar membuat orang tertawa, flexing kekayaan atau harta, atau bahkan mengumbar maksiat dan aurat; maka bersiap-siaplah mengikut dosa siapapun yang terpapar dengan konten-konten yang Anda buat itu.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Maka perbanyaklah jejak-jejak kebaikan kita sebelum meninggalkan dunia ini.

Sebarkanlah ilmu yang bermanfaat, karena ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala selama orang lain merasakan manfaatnya.

Perbanyaklah sedekah jariyah dan wakaf di jalan Allah, karena aliran pahalanya akan terus hadir dalam catatan amal kita, meski jasad kita telah hancur di dalam tanah.

Bekerja keraslah mendidik anak yang shaleh, agar saat kita mati ada anak-keturunan yang selalu mendoakan kita di alam kubur.

Tanamlah pohon yang bisa dirasakan manfaatnya oleh makhluk-makhluk Allah, karena itu juga akan mengalirkan pahala berketerusan meski kita telah wafat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Artinya:

“Tidak ada seorang muslim pun yang menanam tanaman, lalu ada manusia atau hewan yang memakan dari (buah)nya, melainkan itu menjadi sedekah untuknya.”  (HR. al-Bukhari).

Jika tidak mampu dengan semua itu, sekurang-kurangnya tinggalkanlah teladan yang baik untuk generasi berikutnya, karena siapapun yang terinspirasi dan termotivasi dengan teladan itu sepeninggal kita, akan menjadi aliran pahala kebaikan dalam catatan amal kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!

Hari-hari ini, kita tidak bosan-bosannya terus mengingatkan untuk: Jangan pernah lupakan Gaza! Jangan lupakan saudara-saudara kita kaum muslimin di bumi para Nabi dan Rasul, di bumi al-Quds, meskipun telah terjadi kesepakatan gencatan senjata, tapi perjuangan membebaskan bumi al-Aqsha sama sekali belum selesai! Karena penjajahan kaum Zionis Yahudi masih tetap eksis di sana entah sampai kapan.

Maka, kita tidak boleh lupa, bahwa keberadaan mereka di bumi jihad Palestina itu lebih dari sekadar mempertahankan negara mereka yang bernama Palestina, tapi lebih dari itu, mereka sedang mewakili kita kaum muslimin untuk mempertahankan dan mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka salah satu jihad kita umat Islam di negeri ini terhadap Palestina adalah memberikan dukungan dalam berbagai bentuknya untuk saudara-saudara kita para pejuang dan umat Islam di Gaza dan Palestina. Jangan putus berdoa untuk mereka dalam setiap kesempatan yang Allah berikan untuk berdoa.

Semoga dukungan kita untuk Gaza juga bisa menjadi sebuah jejak kebaikan yang Allah catatkan dalam lembaran amal kita, insya Allah.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version