mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Lanjutkan Kebaikanmu!’ (Edisi 110, 6 Syawal 1447 H).
LANJUTKAN KEBAIKANMU!
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Salah satu tanda kejujuran iman seorang hamba bukan hanya semangat sesaat dalam beramal, tetapi kemampuan untuk bertahan di atas jalan ketaatan. Bukan hanya rajin ketika suasana hati sedang baik.
Bukan hanya giat ketika sedang lapang. Tetapi tetap berjalan menuju Allah, walaupun perlahan, walaupun sedikit, walaupun tidak dilihat manusia. Inilah makna penting dari mudawamah, yaitu terus-menerus menjaga amal saleh.
Tema ini sangat penting, karena banyak orang mampu memulai satu kebaikan, tetapi sedikit yang mampu menjaganya.
Banyak orang yang bersemangat di awal, tetapi gugur di tengah jalan.
Banyak yang rajin ketika Ramadhan, tetapi kemudian menjadi lemah setelahnya. Banyak yang khusyuk ketika musibah datang, tetapi lalai ketika urusan dunia kembali lancar.
Padahal agama ini tidak dibangun di atas letupan sesaat, tetapi di atas jalan keistiqamahan yang panjang sampai ajal datang.
Karena itu, Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (yaitu: kematian).” (QS. Al-Hijr: 99).
Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah tidak mengenal masa pensiun. Selama nyawa masih di badan, selama mata masih terbuka, selama jantung masih berdetak, maka kewajiban kita adalah tetap menghamba kepada Allah. Ibadah dan amal shalih bukan perkara musiman, bukan pula sesuatu yang situasional.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbesar dalam menjaga amal. Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya amalan apa yang paling dicintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab:
الدَّائِمُ
“Yang dilakukan terus-menerus.” (HR. Al-Bukhari).
Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadits ini memberikan pelajaran besar bagi kita. Bahwa Allah tidak menuntut kita menjadi manusia yang meledak-ledak semangatnya, lalu setelah itu padam seketika. Bahwa Allah justru mencintai hamba yang konsisten, tekun, dan sabar, meski amalnya tampak sedikit. Sedikit, tetapi istiqamah, lebih dicintai daripada banyak, tetapi terputus.
Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menjaga amal-amalnya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan suatu amalan, beliau menetapkannya secara terus-menerus.” (HR. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Lihat pula bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga hubungan beliau dengan Allah dalam shalat. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila menghadapi suatu urusan yang berat, beliau shalat.” (HR. Abu Dawud).
Dan beliau bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan penyejuk mataku pada shalat.” (HR. An-Nasa’i).
Ini menunjukkan bahwa orang yang istiqamah dalam ibadah akan menemukan ketenangan di dalamnya. Banyak orang menganggap shalat itu beban, karena ia belum merasakan manisnya munajat kepada Allah. Tetapi Nabi kita justru menjadikan shalat sebagai tempat istirahat hati. Beliau pernah berkata kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:
يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا
“Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk shalat, istirahatkan kami dengannya.” (HR. Abu Dawud).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bukan hanya shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjaga amal puasa sunnah. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Ketika ditanya, beliau menjawab:
ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Itu adalah dua hari ketika amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku suka bila amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i).
Perhatikan, beliau tidak hanya mengajarkan amal, tetapi juga mengajarkan kesinambungan amal.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Ada banyak buah dari menjaga amal saleh secara terus-menerus.
Yang pertama, mudawamah menjadi jalan meraih cinta Allah. Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّىٰ أُحِبَّهُ
“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya.” (HR. Al-Bukhari).
Bayangkan, yang diinginkan seorang mukmin dalam hidup ini bukan sekadar rezeki luas, bukan sekadar umur panjang, tetapi agar Allah mencintainya. Dan salah satu jalannya adalah dengan terus mendekat melalui amal-amal sunnah yang dijaga.
Yang kedua, mudawamah adalah bukti ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mengikuti Nabi bukan hanya yang banyak bicara tentang sunnah, tetapi yang berusaha meneladani cara beliau beribadah: seimbang, ikhlas, dan konsisten.
Yang ketiga, mudawamah melatih jiwa untuk disiplin. Nafsu kita ini mudah bosan. Setan selalu ingin kita berpindah dari satu amal ke amal lain tanpa ada yang benar-benar terjaga. Hari ini semangat tilawah, besok hilang. Hari ini semangat qiyamul lail, besok tidur terus. Hari ini semangat sedekah, besok pelit. Maka istiqamah itu adalah jihad melawan diri sendiri.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69).
Yang keempat, amal-amal sunnah yang dijaga akan menutup kekurangan pada amal wajib kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ… فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ
“Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya… jika ada kekurangan dari shalat wajibnya, Allah berfirman: lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah, maka disempurnakanlah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnah itu.” (HR. At-Tirmidzi).
Lihatlah rahmat Allah. Kita tahu shalat kita banyak kurangnya, khusyuknya lemah, hadirnya hati sedikit, lalai masih banyak. Maka orang yang menjaga rawatib, witir, dhuha, tahajud, itu sebenarnya sedang menyiapkan penambal bagi kekurangan dalam shalat wajibnya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di antara buah besar dari mudawamah adalah bahwa amal yang sudah biasa dikerjakan akan tetap ditulis pahalanya ketika seseorang terhalang oleh udzur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau safar, dituliskan baginya pahala seperti amalan yang biasa ia kerjakan ketika mukim dan sehat.” (HR. Al-Bukhari).
Ini adalah sebuah kabar gembira. Orang yang biasa menjaga witir, lalu suatu malam tertidur, ia tetap mendapatkan pahala. Orang yang biasa menjaga tilawah, lalu suatu hari sakit, ia tidak kehilangan semuanya. Mengapa? Karena amalnya memang punya akar, bukan semangat musiman.
Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan cara mengejar amal yang tertinggal. Beliau bersabda:
مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ، فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الظُّهْرِ، كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ»
“Barang siapa tertidur dari wirid malamnya atau dari sebagian wiridnya, lalu ia membacanya antara shalat Subuh dan Zhuhur, maka dituliskan baginya seakan-akan ia membacanya pada malam hari.” (HR. Muslim).
Ini menunjukkan bahwa orang saleh itu bukan orang yang tidak pernah terputus sama sekali dari amal shalihnya, tetapi orang yang ketika terputus ia segera menyambung kembali.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tetapi ingat, agama ini bukan mengajarkan kita memaksakan diri di luar kemampuan hingga akhirnya jenuh dan berhenti total. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّىٰ تَمَلُّوا
“Lakukanlah amal sesuai kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak bosan sampai kalian sendiri yang bosan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka ambillah amal yang mampu dijaga. Satu halaman Al-Qur’an setiap hari, tetapi jangan putus. Dua rakaat sebelum Subuh, tetapi jangan diremehkan. Dzikir pagi petang, walau singkat, tetapi rutin. Sedekah walau sedikit, tetapi terus berjalan. Itu lebih selamat dan lebih dekat kepada keikhlasan.
Jangan menjadi seperti orang yang diperingatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Janganlah engkau seperti si fulan; dahulu ia bangun malam, lalu ia meninggalkan qiyamul lail.” (HR. Al-Bukhari).
Inilah peringatan keras agar kita tidak mudah memulai lalu mudah meninggalkan amal shalih dan kebaikan.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Maka setelah bulan Ramadhan yang indah pergi meninggalkan kita, mari kita bermuhasabah dan melakukan instrospeksi diri:
Sudahkah kita punya amal harian yang benar-benar terjaga?.
Ataukah hidup kita kembali berantakan, ibadah kita masih menunggu mood, dan taat kita masih tergantung suasana?
Sungguh orang yang bahagia bukan yang semangat ibadahnya hanya sesekali melonjak tinggi lalu hilang. Tetapi hamba yang bahagia adalah hamba yang terus berjalan di atas jalan ibadah dan keshalihan sampai akhir hayatnya.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sekali lagi saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian untuk bertakwa kepada Allah. Ketahuilah, istiqamah di atas amal saleh adalah bekal terbesar menuju husnul khatimah. Banyak orang ingin akhir yang baik, tetapi tidak semua orang mau menempuh jalannya. Padahal akhir yang baik biasanya lahir dari kebiasaan baik yang dijaga terus-menerus.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih.” (QS. Al-Ahqaf: 13).
Jamaah Jumat rahimakumullah…
Di zaman ini tantangan istiqamah semakin besar. Media sosial membuat kita mudah lalai. Kesibukan kerja membuat kita menunda tilawah. Hiburan tanpa batas membuat qiyamul lail terasa berat. Rasa lelah membuat dzikir pagi petang sering dilupakan. Karena itu kita perlu amal yang realistis, terukur, lalu dijaga.
Mulailah dari yang paling dasar. Jaga shalat lima waktu tepat waktu dan berjamaah bagi laki-laki. Tambahkan rawatib. Jaga witir, walau hanya satu rakaat. Biasakan membaca Al-Qur’an setiap hari meski sedikit. Jaga dzikir pagi petang.
Sisihkan sedekah harian atau pekanan. Jaga lisan dari ghibah, dusta, dan kata-kata kasar. Teruskan taubat dan istighfar, karena orang yang istiqamah dalam taat pun tetap butuh ampunan Allah.
Jangan remehkan amal kecil. Bisa jadi justru amal kecil yang dijaga itulah yang menyelamatkan kita di hadapan Allah. Bisa jadi satu rakaat witir yang istiqamah lebih berat dalam timbangan daripada program besar yang hanya hidup sesaat. Bisa jadi dzikir yang terus dijaga menjadi sebab hati tetap lembut. Bisa jadi sedekah kecil yang rutin menjadi sebab dibukakan keberkahan rezeki.
Maka, mari kita pulang dari Jumat ini dengan tekad yang sederhana tetapi sungguh-sungguh: jangan biarkan hidup berlalu tanpa amal shalih yang terjaga secara konsisten. Jalani yang sedikit itu hingga kita dipanggil oleh Allah Ta’ala.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
