Home Khutbah Khutbah Jum’at: Ramadhan Saatnya Berubah! (Edisi 106, 9 Ramadhan 1447 H)

Khutbah Jum’at: Ramadhan Saatnya Berubah! (Edisi 106, 9 Ramadhan 1447 H)

0
Sampul Khutbah
Sampul Khutbah Edisi 106

mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Ramadhan Saatnya Berubah!’ (Edisi 106, 9 Ramadhan 1447 H).

Naskah selengkapnya:

RAMADHAN SAATNYA BERUBAH!

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita perkuat takwa: takwa yang bukan hanya di lisan, tetapi takwa yang tampak dalam pilihan-pilihan hidup kita apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita ucapkan, ke mana kaki ini melangkah, dengan siapa kita duduk, dan apa yang kita konsumsi.

Kita sedang berada di hari-hari awal Ramadhan. Sebagian kita merasakan semangat yang menggebu: ingin tilawah lebih banyak, ingin shalat berjamaah lebih terjaga, ingin qiyam dan tarawih lebih sering, ingin sedekah lebih banyak.

Dan semua itu tentu saja sangat bagus. Namun Ramadhan bukan sekadar momen semangat “hangat-hangat tahi ayam”. Ramadhan adalah “madrasah perubahan”: Allah menghadirkan sebulan penuh agar kebiasaan buruk kita bisa diputus, lalu diganti dengan kebiasaan baik yang menetap hingga akhir hayat.

Karena itu, marilah kita menjalani bulan Ramadhan dengan taubat yang jujur dan niat yang kuat. Taubat bukan kalimat manis, tetapi keputusan yang tegas. Allah memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubat nashuha).” (QS. At-Tahrim: 8).

Taubat nashuha itu punya ruh: menyesal atas dosa, berhenti seketika, bertekad tidak kembali, dan bila dosa itu terkait hak manusia—dikembalikan haknya atau meminta maaf. Inilah pintu pertama perubahan. Ramadhan tanpa taubat, seperti orang mandi tanpa melepas pakaian: airnya ada, tapi bersihnya tidak kena.

Jamaah rahimakumullah,

Dalam ibadah, Allah sangat memuliakan niat dan tekad jiwa kita dalam beramal.

Nabi ﷺ menguatkan hati para sahabat ketika kembali dari Perang Tabuk, beliau bersabda:

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ … حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

“Di Madinah ada suatu kaum, kalian tidak menempuh perjalanan dan tidak melewati lembah, kecuali mereka bersama kalian… terhalang oleh uzur.” (HR. Bukhari).

Subhanallah, orang yang tidak ikut perang pun bisa mendapat pahala karena niat yang benar dan tekad yang jujur. Maka siapa tahu—ada di antara saudara kita yang sebelum Ramadhan sudah berniat ingin berubah, ingin menjaga shalat, ingin meninggalkan maksiat, ingin menghentikan kebiasaan buruk… namun ajal menjemput sebelum sempat beramal. Allah insya Allah tetap menulis pahala niatnya.

Lalu bagaimana dengan kita yang masih diberi umur? Apakah kita masih menunda? Apakah kita masih ragu untuk memutus kebiasaan buruk padahal Allah membuka pintu perubahan selebar-lebarnya?.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kita manusia ini hidup dengan kebiasaan. Ada kebiasaan yang dipelajari dari rumah, dari lingkungan, dari pergaulan, dari layar yang dilihat tiap hari. Ada kebiasaan yang terpuji—seperti jujur, disiplin shalat, santun kepada orang tua—dan ada kebiasaan yang tercela—seperti mudah marah, ringan menggunjing, terbiasa berkata kotor, kecanduan sesuatu yang haram, atau duduk di majelis yang penuh sia-sia.

Kekuatan seorang hamba bukan sekadar pada ototnya, tetapi pada kemampuannya menundukkan nafsunya. Orang yang kuat, kata Nabi ﷺ, bukan yang menang bergulat. Yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah sebagaimana dalam hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dan Ramadhan adalah latihan besar untuk itu: kita menahan sesuatu yang halal-makan dan minum-karena Allah. Maka lebih pantas lagi kita menahan yang haram karena Allah.

Di sinilah tema kita hari ini: Ramadhan dan menghentikan kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk itu banyak bentuknya.

Ada kebiasaan buruk di lisan: sebagian orang ringan sekali sumpah-serapah, mencela, melaknat, berkata keji, berdusta, mengadu domba, ghibah. Lama-lama itu menjadi “gaya bicara”, sampai ia tidak malu lagi. Padahal lisan bisa mengantarkan ke surga atau menyeret ke neraka. Nabi ﷺ bersabda:

مَن كان يؤمِنُ باللهِ واليومِ الآخرِ فلْيقُلْ خيرًا أو لِيَسكُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada kebiasaan buruk pada mata: pandangan yang liar, melihat yang haram, menikmati aurat, menatap gambar dan video yang merusak hati, bahkan candu pada tontonan rusak. Padahal Allah memerintahkan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakan kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30).

Ada kebiasaan buruk pada telinga: sebagian orang merasa sulit lepas dari suara yang membakar syahwat, kata-kata yang mengundang maksiat, obrolan yang kotor, atau lagu-lagu yang menghidupkan khayal cinta dan melalaikan hati dari dzikir. Padahal apa yang masuk melalui telinga dan mata akan menggores hati: bila yang masuk cahaya, hati bercahaya; bila yang masuk gelap, hati menggelap.

Ada kebiasaan buruk dalam pergaulan: duduk bersama orang-orang yang kerjaannya hanya qīla wa qāla, gosip, ghibah, merendahkan orang lain, menertawakan aib. Ia sulit meninggalkan karena sudah menjadi “circle”-nya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ والسَّوْءِ، كَحامِلِ المِسْكِ ونافِخِ الكِيرِ ، فَحامِلُ المِسْكِ: إمَّا أنْ يُحْذِيَكَ، وإمَّا أنْ تَبْتاعَ منه، وإمَّا أنْ تَجِدَ منه رِيحًا طَيِّبَةً، ونافِخُ الكِيرِ: إمَّا أنْ يُحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً.

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup tungku api.

Pembawa minyak wangi itu bisa jadi memberimu sedikit darinya, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan darinya aroma yang harum.

Sedangkan peniup tungku api, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan darinya bau yang tidak sedap.” (HR. al-Bukhari).

Ada pula kebiasaan buruk dalam konsumsi dan gaya hidup: minuman memabukkan, obat terlarang, serta kebiasaan merusak seperti merokok yang membakar kesehatan dan harta. Bahkan ada yang merasa “tidak bisa tenang” tanpa itu. Padahal seorang mukmin itu merdeka—ia hanya menjadi hamba Allah, bukan hamba dunia yang fana.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ramadhan datang untuk mematahkan rantai-rantai ini. Dan Nabi ﷺ menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar. Beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).

Artinya, nilai puasa itu rusak bila lisan tetap liar, mata tetap liar, telinga tetap liar, tangan tetap liar. Karena yang Allah inginkan dari puasa adalah takwa.

Maka Ramadhan adalah bulan “menghentikan”. Berhenti dari maksiat, berhenti dari kebiasaan buruk, berhenti dari pergaulan yang menjerumuskan, berhenti dari tontonan yang mengotori hati, berhenti dari lisan yang menyakiti.

Dan indahnya Islam: bukan hanya memerintah berhenti, tetapi mengajari cara berhenti. Saat seseorang memancing emosi kita, saat ada yang menghina, saat konflik rumah tangga menekan—Nabi ﷺ memberi “rem” yang sederhana namun dahsyat. Beliau bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Jika hari puasa salah seorang dari kalian, jangan berkata keji dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat itu bukan sekadar informasi. Itu adalah dzikir yang mengembalikan kita kepada Allah: “Aku sedang berpuasa”—aku sedang dididik Allah—aku sedang menahan diri karena Allah—aku tidak mau puasa ini hangus gara-gara satu emosi.

Jamaah rahimakumullah,

Siapa yang berhasil menahan lisan sebulan, berarti ia sudah mematahkan kebiasaan buruk lisan. Siapa yang berhasil menjaga pandangan sebulan, berarti ia sudah merobohkan benteng candu mata. Siapa yang berhasil menjaga pendengaran sebulan, berarti ia sudah mengganti asupan hati. Siapa yang meninggalkan majelis sia-sia sebulan dan menggantinya dengan masjid, Al-Qur’an, dan majelis ilmu—maka ia sedang menyelamatkan hidupnya dari kesia-siaan. Allah berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kalian mengira Kami menciptakan kalian sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).

Hidup ini bukan main-main. Kita akan ditanya. Maka Ramadhan adalah kesempatan yang mahal: menghentikan yang buruk, menanam yang baik.

Karena itu, isi Ramadhan ini dengan empat perkara besar: taubat yang sungguh-sungguh, menjaga puasa dari yang haram, memakmurkan shalat berjamaah, dan memperbanyak qiyam, dzikir, tilawah, sedekah, silaturahim, serta ihsan. Yakinlah: seorang mukmin didorong oleh tekadnya untuk beramal, dan Allah memberi pahala juga atas niatnya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,  

Maka Ramadhan ini bukan sekadar menahan lapar. Ramadhan adalah kesempatan menghentikan kebiasaan buruk, lalu menggantinya dengan kebiasaan baik yang mengangkat derajat kita di sisi Allah. Dan perubahan itu dimulai dari taubat nashuha dan niat yang jujur.

Sekarang mari kita tanyakan pada diri kita—dengan jujur dan tanpa drama: kebiasaan buruk apa yang paling sering merusak puasa kita?

Apakah lisan yang mudah menyakiti?

Apakah mata yang tidak bisa lepas dari yang haram?

Apakah telinga yang sulit kosong dari hal melalaikan?

Apakah pergaulan yang mengotori hati?

Apakah kebiasaan yang merusak kesehatan dan harta?

Atau kebiasaan yang tampak “sepele” namun menggerogoti iman: menunda shalat, lalai dari Qur’an, tidur berlebihan, marah-marah, dan sibuk menilai orang lain?

Ramadhan bukan sekadar program sebulan, tetapi latihan untuk sebelas bulan berikutnya. Orang yang benar-benar memuliakan Ramadhan akan terlihat bekasnya setelah Ramadhan: shalatnya lebih terjaga, lisannya lebih bersih, matanya lebih tertunduk, sedekahnya lebih ringan, dan akhlaknya lebih lembut.

Dan ingat, kita tidak hanya berurusan dengan kesehatan dan dunia. Kita berurusan dengan hisab di hadapan Allah. Bila kebiasaan buruk itu terkait hak manusia—menggunjing, memfitnah, menzalimi, mengambil hak—maka bahayanya berlipat: dosa kepada Allah, dan tuntutan dari manusia.

Maka selesaikan di dunia, minta maaf, kembalikan hak, tutup pintu-pintu permusuhan, karena di akhirat tidak ada lagi “maaf” dengan kata-kata; yang ada adalah pemindahan pahala dan dosa.

Semoga Ramadhan ini menjadi awal yang baik untuk kita segera berbenah dan memperbaikinya, serta menggantinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang dicintai dan diridhai Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ramadhan mengajari kita satu prinsip penting: kebiasaan buruk itu bisa diputus bila kita serius membangun sebab-sebab perubahan. Dan sebab perubahan itu bukan sekadar motivasi, tetapi iman dan amal.

Pertama, jaga hubungan dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menghidupkan hati. Bila hati hidup, maksiat terasa pahit. Bila hati mati, nasihat terdengar biasa. Maka jadikan setiap hari ada bagian untuk tilawah yang konsisten, meski tidak panjang. Karena Allah mencintai amal yang kontinu.

Kedua, tegakkan shalat berjamaah. Shalat adalah tiang agama. Orang yang shalatnya beres, lebih mudah meninggalkan maksiat.

Ketiga, ganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Banyak orang gagal berhenti bukan karena tidak tahu haramnya, tetapi karena ia meninggalkan sesuatu tanpa pengganti. Maka jika lisan kita terbiasa dengan hal sia-sia, gantilah dengan dzikir, istighfar, shalawat, membaca Qur’an.

Jika mata terbiasa dengan tontonan haram, gantilah dengan mushaf, kajian, dan hal-hal yang menumbuhkan iman. Jika waktu kita terbiasa habis untuk nongkrong tanpa manfaat, gantilah dengan majelis ilmu, menemani keluarga, membantu orang tua, atau amal sosial.

Keempat, rapikan pergaulan dan lingkungan. Siapa teman dekat kita, akan menarik kita ke arah tertentu. Nabi ﷺ mengingatkan: “Seseorang itu di atas agama temannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi; hadits hasan).

Maka Ramadhan ini saatnya memilih: apakah kita ingin dekat dengan orang-orang yang mengingatkan Allah, atau orang-orang yang mengingatkan maksiat?

Kelima, jangan remehkan doa. Kita lemah. Dan kebiasaan buruk itu terkadang seperti rantai. Maka minta kepada Allah dengan sungguh-sungguh, terutama saat sahur, saat berbuka, dan di sepertiga malam. Minta agar Allah memudahkan meninggalkan maksiat, meneguhkan hati di atas ketaatan. Karena hati ada di antara dua jari ar-Rahman, Allah membolak-balikkan hati sesuai kehendak-Nya.

Jamaah rahimakumullah,

Sekarang marilah kita panjatkan doa, semoga Allah menerima Ramadhan kita dan menjadikannya titik balik perubahan.

Ya Allah, sempurnakan Ramadhan ini untuk kami dalam keadaan iman dan sehat.

Ya Allah, jadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kami.

Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa kaum muslimin seluruhnya.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Gaza dan di setiap negeri yang tertindas.

Ya Allah, lindungi anak-anak mereka, sembuhkan yang terluka, kuatkan yang lemah, dan berikan kesabaran kepada mereka.

Ya Allah, perbaiki keadaan kaum muslimin dan satukan hati-hati mereka di atas tauhid dan sunnah.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

   رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ  اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version