mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Teguran Itu Bernama ‘Bencana’ (Edisi 094, 14 Jumadil Akhir 1447).
Naskah selengkanya:
TEGURAN ITU BERNAMA “BENCANA”!
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah…
Beberapa hari yang lalu, tanah Sumatra kembali menangis. Hujan yang mengguyur tanpa jeda telah menyeret turun air bah dari dataran tinggi, menghanyutkan rumah-rumah, merobohkan jembatan, dan menenggelamkan perkampungan. Tanah yang kokoh pun pecah dan meluncur sebagai longsor, melumat apa pun yang dilaluinya. Ada keluarga yang terpisah, ada jasad yang ditemukan dalam pelukan lumpur, dan ada harapan yang runtuh bersama rumah-rumah yang terseret air.
Kita berduka untuk mereka. Namun duka seorang mukmin tidak boleh berhenti sebagai emosi. Ia harus berubah menjadi renungan, menjadi rasa takut kepada Allah, menjadi muhasabah yang menyeluruh. Sebab tidak ada satu pun peristiwa besar yang terjadi di bumi ini tanpa izin Allah, tanpa hikmah, tanpa pesan kepada hamba-hamba-Nya.
Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat ulah tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian.” (QS. Asy-Syura: 30).
Ayat ini bukan untuk meletakkan beban kesalahan di pundak korban. Justru boleh jadi korban-korban itu mati syahid, diangkat derajatnya, dan dibersihkan dari dosa-dosanya. Tetapi ayat ini adalah cermin yang Allah letakkan di hadapan kita semua, agar kita melihat diri:
“Apa yang salah dari jalan hidup kita?”
“Apa yang telah kita lalaikan dari hak Allah di muka bumi?”
“Apa yang hendak Allah ingatkan melalui banjir dan longsor ini?”
Musibah tidak pernah turun dengan sia-sia. Ia datang sebagai teguran yang lembut namun tegas; sebagai peringatan yang menyakitkan namun penuh kasih.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!
Walau secara lahiriah kita melihat curah hujan, pergerakan tanah, tekanan air, atau retakan geologis, seorang mukmin tidak pernah berhenti hanya pada penjelasan fisik. Di balik semua itu ada Allah yang mengatur, ada keputusan yang diturunkan dengan hikmah, dan ada pesan yang harus dibaca oleh hati, bukan hanya oleh peta dan data.
Allah berfirman:
وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Kami timpakan kepada mereka azab yang dekat (di dunia), sebelum azab besar (di akhirat), agar mereka kembali.” (QS. As-Sajdah: 21).
Banjir dan longsor bukanlah bentuk puncak kemurkaan Allah, karena jika Allah menghendaki kehancuran, tidak ada yang dapat menahan-Nya. Apa yang kita saksikan justru adalah peringatan yang lembut, agar manusia segera kembali bertaubat sebelum pintu kesempatan tertutup.
Kematian yang datang mendadak melalui bencana sering kali lebih menyentuh hati dibanding nasihat panjang sekalipun. Dalam satu sore, rumah yang telah dibangun bertahun-tahun hilang seketika. Dalam satu malam, seorang ayah kehilangan seluruh keluarganya. Dalam hitungan jam, desa yang penuh tawa berubah menjadi lautan air keruh.
Semua ini agar manusia berhenti dari kelalaiannya. Agar ia berhenti berjalan dalam kesombongan. Agar ia menyadari bahwa ia tidak pernah memiliki kendali atas hidupnya. Hanya Allah yang mengendalikan segalanya.
Jamaah Jum’at yang berbahagia!
Kita seringkali baru menyadari betapa lemahnya kita saat alam berguncang dan bencana hadir. Sebelum bencana datang, manusia berjalan dengan dada membusung: bangga dengan teknologi, percaya diri dengan kekuatan, merasa aman dengan harta dan kekuasaan. Tetapi saat air bah datang, saat tanah runtuh, saat bumi bergetar, saat langit murka, semua kesombongan itu terhempas seketika.
Kita baru sadar bahwa kita hanyalah makhluk kecil. Kita tidak punya daya, tidak punya kuasa, tidak punya apa pun kecuali rahmat dari Allah.
Allah mengingatkan:
إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً
“Tidaklah (kehancuran umat terdahulu) itu kecuali dengan satu teriakan saja.” (QS. Yasin: 29).
Satu tiupan, satu gemuruh, satu luncuran tanah — dan manusia tersungkur tak berdaya.
Musibah membuka tabir kemampuan manusia, memperlihatkan bahwa semua yang kita banggakan selama ini sejatinya rapuh.
Musibah membuat manusia sadar bahwa kematian tidak butuh sebab besar. Ia bisa datang melalui setetes air, sebutir tanah, secuil batu.
Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan lautan disebabkan apa yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia, (itu semua) agar Allah mencicipkan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka Kembali (bertaubat).” QS. Ar-Rum: 41.
Kerusakan bumi-hutan gundul, sungai yang dijejali sampah, bukit yang dikeruk tanpa kendali-hanyalah bagian dari penyebab lahiriah. Tetapi penyebab batinnya jauh lebih berat: dosa-dosa yang tidak diistighfari, maksiat yang tidak disesali, syariat yang diabaikan, dan hati yang semakin jauh dari Allah.
Karena itu, musibah harus membuat kita sibuk mengoreksi diri, bukan mencari kambing hitam. Musibah mengajarkan bahwa urusan bumi dan urusan hati tidak dapat dipisahkan. Saat manusia memperbaiki hubungan dengan Allah, Allah memperbaiki keadaan bumi. Saat manusia memperbaiki ibadahnya, Allah memperbaiki langit yang menaungi mereka.
Di sinilah seorang mukmin menemukan keseimbangan antara tawakkal, muhasabah, dan ikhtiar memperbaiki bumi sebagai amanah Allah.
Jamaah sekalian…
Jadikanlah musibah ini sebagai tanda bahwa Allah masih sayang kepada kita. Sebab Allah masih menegur, masih mengingatkan, dan masih memberi kesempatan. Yang lebih mengerikan dari bencana adalah ketika Allah membiarkan kita dalam kesenangan, sementara hati kita semakin jauh.
Semoga banjir dan longsor yang terjadi tidak hanya menyapu tanah, tetapi juga menyapu kelalaian dari jiwa kita.
Sungguh merugi seorang hamba ketika Allah telah menegur, namun ia tetap sebagaimana sebelumnya. Allah telah mengguncang bumi, namun hatinya tidak terguncang. Allah telah memperlihatkan kematian di depan matanya, namun ia tetap merasa aman. Allah telah menunjukkan betapa cepatnya dunia dapat runtuh, namun ia tetap memperlakukan dunia seakan akan ia tinggal selamanya.
Ketahuilah, tidak ada kondisi yang lebih berbahaya daripada hati yang tidak lagi peka terhadap peringatan Allah. Bahkan bencana terbesar bukanlah banjir yang menghanyutkan rumah, atau longsor yang meratakan desa, tetapi hati yang mati sebelum tubuh dikuburkan.
Karena itu, wahai hamba Allah, bukalah pintu hatimu untuk menerima teguran-Nya. Tidak ada yang lebih indah daripada hati yang lembut ketika melihat musibah, lalu ia merasa takut kepada Allah, menangis dalam sujud, memperbaiki shalatnya, menjaga lisannya, dan kembali kepada Rabb-nya dengan rasa tunduk yang mendalam.
Kaum Muslimin yang berbahagia!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia termulia yang telah diampuni dosanya, beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari, bahkan dalam riwayat lain seratus kali. Maka bagaimana mungkin kita merasa cukup hanya dengan beberapa istighfar di sela kesibukan kita?
Istighfar bukan hanya kata; ia adalah obat bagi hati, penolak bala, penarik rahmat, penyejuk jiwa.
Allah mengajarkan bahwa dengan istighfar, langit akan dibukakan keberkahannya, bumi akan menumbuhkan kebaikannya, dan musibah akan dijauhkan. Betapa banyak bencana terjadi bukan karena hujan terlalu deras, tetapi karena istighfar terlalu jarang.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Jangan biarkan musibah ini berlalu tanpa doa untuk mereka yang menjadi korban. Mungkin kita tidak memiliki harta yang besar untuk disumbangkan, tetapi kita punya doa yang dapat menembus langit. Doakan agar Allah mengganti rumah mereka dengan yang lebih baik, mengganti kehilangan mereka dengan pahala besar, dan mengganti luka mereka dengan ketabahan yang indah.
Mintalah juga kepada Allah agar musibah itu tidak berulang, agar negeri ini dijaga dari bencana yang lebih besar, agar langit dan bumi bersahabat dengan kita, dan agar hati-hati kita bersahabat dengan Rabb-nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Karena musibah yang paling buruk adalah hilangnya nikmat tanpa kita sadari: nikmat iman, nikmat doa, nikmat shalat yang khusyuk, nikmat hati yang lembut. Sebab jika semua itu hilang, maka bencana apa pun tidak akan mampu mengembalikan kita.
Mintalah agar Allah menjaga iman kita, menjaga keluarga kita, menjaga ketenangan negeri kita, dan menjaga seluruh nikmat yang kita genggam hari ini.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
