Home Artikel Adab-Adab Keajaiban Doa dan Hakikat Ujian Kehidupan

Keajaiban Doa dan Hakikat Ujian Kehidupan

0
Sedang berdoa
Ilustrasi seorang sedang berdoa/Unplash

mim.or.id – Allah Subhanahu wa ta’ala telah menetapkan satu kaidah bahwa ada keajaiban doa dan hakikat ujian kehidupan dan ini undang-undang di dalam Al-Qur’an yang berlaku untuk semua hamba Allah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Bahkan keimanan yang tinggi tidak menjamin seseorang terbebas dari ujian; sebaliknya, semakin tinggi dan mendalam keimanan seseorang, semakin berat pula ujian dan cobaannya.

Doa sebagai Jalan Keluar

Lalu, bagaimana cara kita keluar dari ujian dan mendapatkan solusinya?, Di antara cara terbaik yang bisa ditempuh adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Selain itu, berbekal ketakwaan (takwa) juga merupakan janji Allah, di mana siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan (waj’al lahu makhraja).

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah menegaskan bahwa doa itu adalah senjatanya orang-orang beriman (addu’au silahul Mukmin). Doa diibaratkan sebagai senjata yang tidak pernah meleset dan selalu tepat sasaran.

Baca Juga: Pintu Surga: Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Hakikat dan Adab Berdoa

Penting untuk memahami fungsi doa yang sebenarnya. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan, inginkan, dan harapkan. Tanpa diberitahu pun, Allah sudah tahu segalanya. 

Oleh karena itu, fungsi doa bukanlah untuk menyampaikan sesuatu kepada Allah atau memberitahu Allah apa yang kita minta. Doa itu bukan untuk itu, karena hal tersebut salah dan keliru.

Fungsi doa yang sesungguhnya adalah kita berbincang mesra dengan Allah. Ini adalah momen di mana kita bisa berduaan dengan Allah. Terkait adab, kita tidak perlu mengeraskan suara, apalagi sampai berteriak-teriak, ketika berdoa. Kita dianjurkan untuk khusyuk.

Kisah Nabi Zakaria dan Pengabulan Doa

Kisah Nabi Zakaria Alaihissalam yang diceritakan dalam Surah Maryam mengajarkan pelajaran penting tentang keajaiban doa.

Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih dan lembut. Dalam doanya, ia menyampaikan keadaannya yang sudah sangat tua tulang punggungnya sudah payah untuk ditegakkan (bungkuk) dan rambutnya sudah dipenuhi uban.

Meskipun sudah sangat tua, Nabi Zakaria memohon seorang anak: “tapi aku khawatir terhadap keluargaku… sementara istriku ini seorang yang Mandul… maka karuniakan kepadaku seorang anak”. 

Secara ilmu kedokteran saat ini, permohonan seorang pria yang sudah sangat tua dengan istri yang mandul dianggap tidak masuk akal.

Namun, hal paling luar biasa yang disampaikan Nabi Zakaria adalah: “dan saya belum pernah kecewa atas doa-doa yang kupanjatkan kepadamu”.

Baca Juga: Pemuda Taat dan Keistimewaan Santri Penghafal Al-Qur’an

Tiga Bentuk Pengabulan Doa

Pernyataan Nabi Zakaria menunjukkan bahwa beliau memahami hakikat pengabulan doa. Tidak ada doa yang tidak dikabulkan oleh Allah.

Kesalahan banyak orang hari ini adalah menganggap doa baru dikabulkan jika Allah memberikannya sesuai dengan apa yang diminta. Ini merupakan bentuk berburuk sangka (su’uzan) dan durhaka kepada Allah.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa doa itu dikabulkan dalam tiga macam:

Pertama, dipercepat di Dunia (Cash Tunai): Allah menyegerakan doa itu dikabulkan di dunia, entah sesuai dengan yang diminta atau yang lebih baik dari yang diminta.

Kedua, Ditunda ke Akhirat (Pahala): Allah akan mengakhirkan pengabulannya nanti di akhirat dalam bentuk pahala, yang disimpan dan ditabung dalam buku catatan amalan kebaikan.

Ketiga, dihindarkan dari Musibah: Allah akan menjadikan doa tersebut sebagai penghindar dari musibah yang takarannya serupa dengan doa kita.Orang yang mengatakan, 

“Ya Allah saya sudah berkali-kali berdoa kenapa belum dikabulkan,” dianggap sebagai orang yang tergesa-gesa dalam doanya. Kita harus senantiasa berbaik sangka (husnuzan) kepada Allah.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp us
Exit mobile version