mim.or.id – Kembali kami menyajikan Khutbah Jum’at dengan tema ‘Hari-Hari Berdzikir’ (Edisi 119, 12 Dzulhijjah1447 H 1447 H).
Naskah selengkapnya:
‘Hari-Hari Berdzikir…‘
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.
اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Takwa yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi hadir di hati, tampak dalam ibadah, terasa dalam akhlak, dan mengendalikan langkah kita ketika sendirian maupun di hadapan manusia.
Saudara-saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita merenung sejenak tentang satu amal yang ringan di lisan, tetapi agung di timbangan Akhirat nanti. Amal yang tidak membutuhkan harta yang banyak, tidak membutuhkan tenaga yang besar, tidak membutuhkan bantuan manusia untuk mengerjakannya, namun ia akan memberikan kehidupan bagi hati seorang mukmin. Amal itu adalah dzikir kepada Allah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” QS. Al-Ahzab: 35.
Perhatikanlah, dalam ayat ini Allah tidak hanya menyebut orang yang berdzikir, tetapi Allah menyebut orang yang banyak berdzikir. Karena hati manusia mudah lalai. Dunia ini begitu ramai. Urusan keluarga, pekerjaan, perdagangan, media sosial, berita, komentar, percakapan, dan berbagai kesibukan sering menyita lisan serta pikiran kita. Maka Allah memuji hamba-hamba yang di tengah hiruk-pikuk hidupnya tetap mengingat Rabbnya. Tetap berdzikir kepada Allah.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda kepada para sahabatnya:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى.
“Maukah aku kabarkan kepada kalian amal terbaik kalian, yang paling suci di sisi Raja kalian, yang paling tinggi mengangkat derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” Para sahabat menjawab, “Tentu.” Beliau bersabda, “Dzikir kepada Allah Ta’ala.” (HR. al-Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Dzikir bukan sekadar gerakan lisan. Dzikir adalah tanda hidupnya hati. Lisan yang menyebut Allah, hati yang menghadirkan keagungan Allah, dan anggota badan yang diarahkan untuk taat kepada Allah.
Karena itulah Nabi صلى الله عليه وسلم menggambarkan perbedaan antara orang yang berdzikir dan orang yang lalai dengan perumpamaan yang sangat dalam. Seperti kehidupan dan kematian. Beliau bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. al-Bukhari.
Betapa banyak manusia tampak hidup, berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, bahkan sibuk mengejar ambisi dunia, tetapi hatinya jauh dari Allah.
Betapa banyak lisan pandai membahas segala hal: harga, jabatan, politik, usaha, hiburan, pertandingan, dan berita viral, namun kelu ketika diajak menyebut nama Allah.
Betapa banyak jari-jari begitu ringan menggulir layar, menulis komentar, membagikan kabar, tetapi terasa berat membuka mushaf, membaca dzikir pagi-petang, atau beristighfar kepada Allah.
Maka sekarang, marilah kita bertanya kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain.
Dalam sehari semalam, berapa lama lisan kita basah oleh dzikir?
Ketika bangun tidur, apakah yang pertama kita ingat adalah Allah atau layar ponsel kita?
Ketika selesai shalat, apakah kita duduk sejenak berdzikir atau langsung berdiri terburu-buru seakan-akan tidak ada lagi kebutuhan kepada Rabb kita?
Ketika hati gelisah, apakah kita segera mengucap istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan doa, atau justru mencari pelarian yang makin menjauhkan hati dari ketenangan?
Allah تعالى berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” QS. Ar-Ra’d: 28.
Sesungguhnya ketenteraman yang paling dalam bukanlah ketika semua masalah hidup kita hilang, tetapi ketika hati tetap bergantung kepada Allah meski kita berkubang di tengah masalah.
Bukan ketika hidup selalu lapang, tetapi ketika seorang hamba yakin bahwa Rabbnya Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan tidak akan menyia-nyiakan hamba yang kembali kepada-Nya.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Hari ini, kita masih berada dalam rangkaian hari-hari Tasyrik. Maka ketahuilah bahwa hari-hari Tasyrik adalah hari yang Allah muliakan. Hari-hari setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, adalah hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.” (HR. Muslim).
Perhatikanlah keindahan syariat Islam ini!
Islam tidak melarang kita menikmati nikmat makanan dan minuman yang halal. Islam tidak memerintahkan kita memutus diri dari kebahagiaan keluarga. Akan tetapi Islam mengajarkan: jangan sampai nikmat membuat kita lupa kepada Pemberi nikmat. Makanlah, minumlah, bergembiralah dalam ketaatan, namun jangan kosong dari dzikir kepada Allah.
Allah تعالى berfirman:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” QS. Al-Baqarah: 203.
Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa “hari-hari yang ditentukan” dalam ayat ini adalah hari-hari Tasyrik. Maka, di hari-hari yang mulia ini, hendaklah takbir terus hidup, tahmid terus mengalir, tahlil terus menggema, dan hati terus sadar bahwa semua nikmat adalah dari Allah.
Saudara-saudaraku kaum muslimin,
Sesungguhnya seluruh makhluk berdzikir kepada Allah. Langit, bumi, burung-burung, gunung, pepohonan, bahkan makhluk yang tidak kita dengar suaranya, semuanya bertasbih kepada Allah dengan cara yang Allah kehendaki. Allah تعالى berfirman:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” QS. Al-Isra’: 44.
Jika alam semesta bertasbih, mengapa lisan kita lalai?
Jika burung-burung bertasbih dengan cara yang Allah ajarkan kepada mereka, mengapa hati manusia yang diberi akal, wahyu, dan petunjuk justru sering membeku?
Jika makhluk yang tidak diberi beban syariat saja tunduk kepada Rabbnya, maka bagaimana dengan kita yang akan dimintai pertanggungjawaban?
Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Marilah kita mengingat kisah Nabi Yunus عليه السلام. Ketika beliau berada dalam kegelapan perut ikan, kegelapan laut, dan kegelapan malam, beliau menyeru Rabbnya dengan kalimat tauhid, tasbih, dan pengakuan dosa:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” QS. Al-Anbiya’: 87.
Lalu Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kesusahan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” QS. Al-Anbiya’: 88.
Karena itu, dzikir bukan hanya dibutuhkan ketika lapang. Dzikir adalah bekal sebelum sempit, penolong saat sempit, dan penguat setelah sempit. Orang yang terbiasa mengingat Allah ketika lapang akan lebih mudah kembali kepada Allah ketika susah. Orang yang lisannya terbiasa beristighfar saat tenang akan menemukan jalan pulang ketika gelap menyelimuti hidupnya.
Maka jangan menunggu sakit baru berdzikir. Jangan menunggu usia tua baru membaca Al-Qur’an. Jangan menunggu musibah baru mengingat Allah. Jangan menunggu hati keras lalu menangis menyesal.
Mulailah dari sekarang. Basahi lisan dengan subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu akbar. Biasakan istighfar. Jaga dzikir setelah shalat. Jaga dzikir pagi dan petang. Ajari anak-anak kita mengingat Allah. Jadikan rumah kita hidup dengan tilawah, doa, dan kalimat-kalimat yang Allah cintai.
Ibnu Taimiyyah رحمه الله pernah mengatakan bahwa: dzikir bagi hati seperti air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika berpisah dari air? Demikian pula hati seorang mukmin jika jauh dari dzikir kepada Allah.
Kaum Muslimin yang berbahagia,
Di zaman ini, kita sangat membutuhkan dzikir. Bukan hanya karena banyak masalah, tetapi karena banyak hal yang melalaikan. Satu notifikasi bisa mencuri perhatian. Satu berita bisa membuat hati gelisah. Satu komentar bisa menyalakan amarah. Satu tontonan bisa menumbuhkan syahwat. Satu percakapan bisa menyeret kepada ghibah. Karena itu, dzikir adalah pagar. Dzikir adalah cahaya. Dzikir adalah rem bagi lisan, penenang bagi hati, dan pengingat bahwa kita bukan hidup untuk dunia semata.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan doa yang sangat indah kepada Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه. Beliau bersabda:
يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan: Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
(HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i, dan dinilai shahih oleh sebagian ulama).
Maka, perbanyaklah mengucapkan doa ini dengan kesungguhan hati:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فَي القُرْآنَ العَظِيْمِ, وَنَفَعْنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ, قُلْتُ مَا سَمِعْتُمْ وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Pesan khutbah ini sederhana, tetapi sangat penting untuk menjalani sisa usia kita: hidupkan hati dengan dzikir. Jangan biarkan hari-hari kita berlalu hanya dengan urusan dunia. Jangan biarkan lisan kita lebih akrab dengan keluhan daripada istighfar. Jangan biarkan rumah kita ramai oleh suara manusia tetapi sepi dari bacaan Al-Qur’an.
Dzikir bukan alasan untuk meninggalkan kerja. Dzikir bukan alasan untuk lalai dari tanggung jawab keluarga. Dzikir bukan pelarian dari realitas. Justru dzikir membuat seorang muslim lebih jujur dalam bekerja, lebih lembut kepada keluarga, lebih sabar menghadapi manusia, lebih takut berbuat zalim, dan lebih kuat menghadapi ujian hidup.
Maka mulai hari ini, marilah kita jaga dzikir setelah shalat. Marilah kita hidupkan dzikir pagi dan petang. Marilah kita perbanyak istighfar. Marilah kita ajarkan kepada keluarga kalimat-kalimat yang dicintai Allah.
Marilah kita kurangi ucapan yang tidak bermanfaat. Sebelum berbicara, tanyakan kepada hati: apakah ucapan ini mendatangkan pahala atau mendekatkan kepada dosa? Apakah tulisan ini memperbaiki keadaan atau menambah kerusakan? Apakah komentar ini diridhai Allah atau hanya memuaskan hawa nafsu?
Sesungguhnya lisan adalah nikmat besar. Ia bisa menjadi jalan ke surga dengan dzikir, nasihat, doa, dan ucapan yang baik. Tetapi ia juga bisa menyeret kepada dosa dengan ghibah, dusta, celaan, fitnah, dan ucapan sia-sia. Maka beruntunglah orang yang Allah jaga lisannya dan Allah hidupkan hatinya dengan dzikir.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ غَزَّةَ، اَللَّهُمَّ احْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَارْزُقْهِمْ مِنْ حَلاَلِكَ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْيَهُوْدِ الْغَاصِبِيْنَ وَمَنْ عَاوَنَهُمْ فِيْ عُدْوَانِهِمْ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أ نْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا
رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ لْمُسلِمِين وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
