بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Meninggikan Suara Melebihi Suara Nabi Bisa Menjadi Sebab Amalan Seseorang Terhapus Tanpa Ia Sadari

Mengapa demikian.? karena disebutkan diakhir firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari“. (QS. Al-Hujurat: 02).

Maksud dari ayat diatas adalah jangan sampai Rasul marah dan Allah marah dengan kemarahan Rasulnya, jangan sampai Rasulullah marah walaupun Rasulullah sangat penyabar dengan sahabat –sahabatnya dan kepada ummatnya. Bahkan seorang arabi datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Berbuat adillah wahai Muhammad”, waktu Nabi membagikan ghanimah ada seorang arabi berkata:”Wahai Muhammad berikan aku harta dari Allah bukan hartamu dan bukan harta bapakmu”, Juga Rasulullah pernah disandarkan ke sebuah pohon kemudian berbekas selandang itu di leher Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya kita harus beradab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun ayat diatas (Surah Al-Hujurat ayat 2) tidak menjadikan seseorang murtad atau keluar dari islam karena terkadang ada amalan yang terhapuskan bukan karena syirik sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan“. (QS. Al-Furqan : 23). Di jelaskan dalam hadits Tsauban Radhiallahu ‘anhu di mana Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam bersabda:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan, Tsauban bertanya:“Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka melanggar batasan – batasan Allah”. (HRS. Ibnu Majah). Amalannya terhapus akan tetapi tidak sampai murtad.

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Subhanahu wata’ala memuji orang yang merendahkan suaranya disisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ini pula menjadi ujian para sahabat pada waktu itu, hati mereka diuji dan ternyata hati – hati para sahabat adalah hati – hati yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar“. (QS. Al-Hujurat: 3).

Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah dikirimi surat  oleh seseorang yang berniat untuk mengerjakan kemaksiatan tetapi dia tidak mengerjakannya orang ini bertanya dalam suratnya:”Manakah yang lebih afdhal orang yang memang tidak pernah berkeinginan untuk melakukan maksiat namun ia tidak mengerjakannya, atau orang yang berniat untuk mengerjakan maksiat akan tetapi tidak mengerjakannya ”, beliau kemudian menjawab:”Yang lebih afdhal adalah orang yang berniat untuk mengerjakan maksiat namun dia tidak melakukannya”, Umar kemudian membaca firman Allah Subhanahu wata’ala Surah Al-Hujurat ayat 3.

Oleh karenanya jika ada maksiat didepan kita atau ada peluang bagi kita untuk mengerjakannya, sebagaian ulama kita mengatakan ini belum mendapatkan pahala, yang berpahala adalah ketika kita ada niat dan kemampuan namun kita menahan diri kita karena Allah maka inilah yang mendapatkan pahala yang besar disisi Allah dan inilah orang – orang yang diuji hatinya kemudian lulus dengan ujian tersebut.

Ketika ada kesempatan untuk berbuat maksiat namun ia mengingat kebesaran Allah Subhanahu wata’ala. Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)“. (QS. An-Naziat: 40-41). Apalagi jika ada peluang pada waku itu namun ia meninggalkannya karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah pernah mengatakan:”Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam ketika digoda oleh wanita yang cantik untuk melakukan perbuatan zina lebih besar ketika beliau dicampakkan oleh saudara – saudaranya didalam sumur”, mengapa demikian.? Karena kesabaran ketika beliau dicampakkan ke dalam sumur disebut kesabaran yang harus dipaksa untuk bersabar tidak ada lagi pilihan yang lain, yang kedua adalah kesabaran yang ada pilihan didalamnya dimana Yusuf adalah seorang pemuda, tidak ada yang melihat, beliau berstatus seorang budak dan hukuman orang budak seperdua dari orang yang merdeka, beliau yang digoda oleh wanita yang cantik, kemudian ada peluang untuk melakukannya namun beliau kemudian tidak mengikuti ajakan wanita tersebut sehingga Ibnul Qayyim berkata:”Kesabaran Nabi yusuf ‘Alaihissalam ketika digoda oleh wanita yang cantik untuk melakukan perbuatan zina lebih besar ketika beliau dicampakkan oleh saudara – saudaranya didalam sumur”.

Menuntut ilmu adalah bagian kesabaran yang didalamnya ada pilihan dimana tidak ada yang memaksa kita untuk pergi menuntut ilmu namun karena kita bersabar dan hadir dimajelis ilmu maka pahalanya sangat besar, jadi kesabaran yang ada pilihan didalamnya adalah kesabaran yang pahalanya besar dibanding dengan kesabaran yang memang harus terpaksa untuk bersabar karena tidak ada pilihan lagi.

Mereka Akan Mendapatkan Ampunan Dari Allah Dan Pahala Yang Besar

Jika Allah telah mengatakan pahala yang besar maka tidak perlu kita hayalkan seperti apa besarnya karena Allah maha besar, tatkala kita dijanjikan sesuatu oleh seorang pejabat atau orang yang kaya raya ia berkata:”Saya akan memberikan kepadamu hadiah yang sangat besar besok” mungkin sebagian diantara kita tidak bisa tidur dimalam hari karena kita selalu terbayang dengan apa yang akan ia berikan kepada, jika demikian lalu bagaimana lagi jika Allah Subhanahu wata’ala yang memiliki kerajaan langit dan bumi ketika menjanjikan sesuatu kepada kita. Allah mengatakan mereka akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.

Dalam lanjutan Surah Al-Hujurat ayat 4, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti“. (QS. Al-Hujurat: 4).

Sebagaimana seorang yang memanggil Nabi :”Wahai Muhammad keluar temui kami, Wahai Muhammad keluar temui kami, Wahai Muhammad keluar temui kami”, mereka juga disebutkan dalam ayat ini kebanyakan mereka tidak berakal, maksudnya adalah orang yang menyeru Nabi adalah orang yang berasal dari badui yang tidak memiliki adab ketika bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,  Allah kemudian berkata dalam lanjutan ayat:

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Al-Hujurat: 5).

Jadi dimajelis ilmu kita diperintahkan untuk bersabar bersama dengan ustadz, kiai, syaikh sampai majelis ilmu selesai karena terkadang tabiat seorang ustadz dengan ustadz yang lain tidak sama maka bersabarlah  dengan mereka agar kemudian kita mendapatkan keberkahan dari ilmu mereka terutama dimajelis ilmu. Diantara adab dalam majelis ilmu adalah meninggalkan aktivitas lain selain dari menuntut ilmu, focus mendengarkan nasehat ilmu, karena jika majelis ilmu telah dimulai maka dilarang melakukan ibadah atau amalan yang lain seperti membaca Al-Qur’an dalam majelis ilmu, bermain HP, berbisik dengan teman dalam majelis ilmu, dll.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 12 Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR