بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ

Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala”. (QS. Qaf : 24).

Sebagian ulama ada yang mengatakan:”Dikatakan kepada 2 penjaga neraka masukkanlah  ke dalam neraka jahannam setiap yang kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala atau semua yang membangkang atas perintah Allah Subhanahu wata’ala, yang banyak mengingkari ayat – ayat Allah Subhanahu wata’ala, yang banyak melakukan perbuatan maksiat dan terang – terangan mengerjakan perbuatan yang diharamkan“. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan:

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:”Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata:”Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu”. Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut”.

Bahkan ia bangga dengan dosanya dengan menceritakan di siang hari atau ia sebarkan lewat medsos atau ia upload perbuatan maksiat yang ia lakukan, ketika ia disoroti atau dicela perbuatannya dengan bangganya ia tersenyum bahkan tertawa.

Ayat selanjutnya Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ

“Yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu”. (QS. Qaf : 25).

مَنَّا artinya menahan dan yang menahan ini salah satu diantara keadaan dan kondisi mereka dihari kemudian. لِلْخَيْرِ dalam Al-Qur’an ditafsirkan dengan Al Mal, Sebagian ulama kita menyebutkan bahwasanya yang dimaksud dengan مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ disini adalah yang menahan hartanya dan dia tidak infaqkan terutama harta yang wajib ia keluarkan seperti zakat sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta”. (QS. Al ‘Adiyat : 7).

Yang dimaksud dengan Al Khair adalah sangat keras cinta mereka terhadap harta, kemudian dalam ayat yang lain:

إِنْ تَرَكَ خَيْرًا

“Jika ia meninggalkan harta yang banyak (khair)”. (QS. Al-Baqarah : 180).

Syaikh Abdurrahman as Sa’diy Rahimahullah mengatakan:”Dia hidup tidak berfikir untuk memberi manfaat kepada orang lain”.

مُعْتَدٍ مُرِيبٍ

melanggar batas lagi ragu-ragu“.

مُرِيبٍ atau Syakh :”Yang maragukan akan janji Allah Subhanahu wata’ala”. Tidak ada keimanan dan kebaikan yang ia lakukan dan kesemuanya didorong karena ia tidak mengimani hari akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ (31) وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ (32) وَآَيَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ (33)

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan”. (QS. Yasin: 31-33).

Salah satu diantara nama hari kiamat adalah yawmiddin:
Malikiyawmiddin”, Karena mereka mendustakan hari kiamat maka dia tidak peduli kepada anak yatim dan tidak memberi makan kepada fakir miskin begitupula menyuruh orang untuk memberi makan fakir miskin sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Maun.

Sifat yang disebutkan dalam ayat ini disebabkan karena mereka tidak mengimani bahwasanya disana ada ganti yang disiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dia tidak mengimani bahwasanya apa yang diinfakkan akan dilipatgandakan disisi Allah, padahal Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Baqarah: 261).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR