بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara tips dan cara untuk menghindari perbuatan namimah (adu domba) dan ghibah adalah:

  1. Perbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah memberikan kepada kita akhlak yang mulia, diantara doa yang masyur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terdapat dalam hadist Qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

Wahai Muhammad, jika engkau shalat, ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza arodta fitnata qowmin fatawaffanii ghoiro maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba ‘amalan yuqorribu ilaa hubbik (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin, ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah saya, jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum maka wafatkanlah saya dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu)”. Dalam lanjutan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan,Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah”. (HR. Tirmidzi no. 3235 dan Ahmad 5: 243. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Begitu pula membaca doa yang lain:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang“. (QS. Hasyr : 10).

Jadi kita berdoa kepada Allah agar kita diberikan hati yang bersih dari perbuatan dosa dan benci dari salah seorang dari kaum  muslimin karena yang mendorong kita untuk menggibahi seseorang adalah kebencian dan inilah yang diinginkan oleh syaithan, oleh karenanya dalam hadist Rasulullah pernah ditanya:”Siapakah orang yang paling utama?”, Beliau menjawab:”Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya”, Para sahabat berkata:”Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?”, Rasulullah menjawab:”Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah 4216 dan Thabarani, dan dishahihkan oleh Imam Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah).

Naminah atau ghibah adalah kemungkaran yang sangat besar maka hendaklah kita menjauhinya dengan banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala.

  1. Mengetahui bahaya dari namimah dan ghibah agar ketika kita memiliki anak yang masih kecil yang susah untuk dilarang dari perbuatan yang ia kerjakan hal ini disebabkan karena ia belum mengetahui bahayanya. Diantara bahaya ghibah adalah berkaitan dengan kebaikan dan pahala kita kelak dihari kemudian, karena amalan yang kita kerjakan akan diambil oleh orang yang kita ghibahi.  Hakekat perbuatan ghibah dan namimah adalah perbuatan yang melanggar hak saudara kita karena didalamnya ada ke dzaliman dan setiap kedzaliman akan dipertanggungjawabkan pada hari kiamat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab:”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda”. Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka“. (HR. Muslim no. 2581, at Tirmizi no. 2418 dan Ahmad (2/303, 334, 371), dari Abu Hurairah).

3. Tanyakan kepada diri kita maukah kita diperlakukan seperti apa yang kita lakukan kepada saudara kita, tentunya kita tidak mau karena orang lain memiliki perasaan seperti perasaan yang kita miliki, sebagaimana perbuatan yang kita lakukan kepada saudara kita maka begitupula kita akan diperlakukan dikemudian hari. Imam Malik pernah berkata:”Saya mengenal suatu kaum tidak memiliki aib dan cela, karena ia sering menceritakan aib orang lain maka aibnya disingkap oleh Allah Subhanahu wata’ala, sebaliknya saya mengenal ada orang yang banyak dosa dan aibnya, karena ia selalu menutupi aib saudaranya maka aibnya ditutupi oleh Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum beriman dengan hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka, karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka maka kelak Allah akan menyingkapkan kekurangan dia (di akhirat) maka Dia akan membiarkan orang lain tahu aibnya, meskipun di dalam rumahnya”. (HR.Tirmidzi (Tuhfatul Ahwadzi juz 6/180), dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’us Shaghir no.7985 dan shahih Tirmidzi no.1655).

Adapun jika namimah dan ghibah sudah terjadi maka bertaubatlah kepada Allah kemudian meminta maaf kepada orang yang pernah kita ghibahi, jika dia tahu bahwasanya kita mengghibahinya maka minta maaf kepadanya adapun jika dia tidak tahu maka kembali kepada maslahat, jika kita melihat maslahatnya lebih baik jika tidak disampaikan maka jangan sampaikan cukup kita bertaubat dan mendoakan kebaikan untuknya karena jangan sampai ketika disampaikan kemudian ia tahu pada saat itu dapat merusak hubungan kita dengannya.

Beginilah cara berlepas dari ghibah dan namimah,.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 27 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR