بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

2. Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang

Sesungguhnya kemarahan terjadi disebabkan karena perkara dunia dan kemarahan  datangnya dari syaithan sehingga Nabi Shalalllahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita meminta perlindungan dari Allah jika kemarahan telah mulai muncul dalam diri kita dengan mengucapkan ta’awuz terutama ketika kita marah dan kita mampu melampiaskannya, jika kita marah kemudian mampu menahan karena mengharap ganjaran disisi Allah Subhanahu wata’ala maka Allah Subhanahu wata’ala pun akan memadamkan amarahnya kepada kita.

Dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya”. (HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani).

Kemarahan atasan kepada bawahannya, seseorang kepada anggota keluarganya dan seorang pemimpin kepada yang dipimpinnya ketika ia menahannya karena Allah maka pada hari kiamat ia akan memilih bidadari yang ia inginkan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kepada kita tips untuk meredam kemarahan ketika marah diantaranya adalah:

  1. Membaca isti’aza

Ketika marah dalam keadaan berdiri maka duduk, jika marah dalam keadaan duduk maka berbaring,  bahkan jika perlu dianjurkan berwuduh atau menghilangkan kemarahan kita dengan ruku dan sujud kepada Allah Subhanahu wata’ala didalam sholat.

  1. Orang yang senantiasa memaafkan saudara-saudaranya

Dalam islam barangsiapa yang berbuat buruk dan berbuat dzalim kepada kepada saudaranya maka merupakan hak baginya untuk membalas dengan sekedarnya saja selama tidak berlebih –lebihan sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala didalam Al-Qur’an:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim“. (QS. Asy-syuara :40).

Diantara sifat Allah Subhanahu wata’ala adalah yang maha pemaaf dan balasan sesuai dengan amalan yang kita kerjakan, siapa yang memaafkan saudaranya maka Allah akan mengampunkan dosa – dosanya, oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan didalam Al-Qur’an ayat yang memuji sahabat Abu Bakar as Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu dimana beliau sempat marah kepada sahabat yang lain yang berada dalam tanggungannya dan keluarganya yang bernama Mistho yang ikut menyebarkan berita dusta orang – orang munafik yang menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha selingkuh dengan sahabat Shafwan bin Al Mu’aththal dimana ‘Aisyah adalah putri Abu Bakar as Shiddiq.

Tuduhan keji tersebut sempat menggegerkan kota madinah dan ketika Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firmannya yang menunjukkan bersihnya dan sucinya ‘Aisyah dari tuduhan keji orang – orang munafik, maka Abu Bakar as Shiddiq yang sebelumnya sempat bersumpah dan berkata:”Saya tidak akan lagi memberikan tanggungan dan nafkah kepada Mistho”, pada waktu itu Mistho berada dikota madinah maka Abu Bakar as Shiddiq yang senantiasa membantu kehidupannya karena Mistho termasuk orang yang fakir dan miskin dari kaum muhajirin. karena ia turut menyebarkan berita dusta tersebut akhirnya Abu Bakar as Shiddiq marah, Allah Subhanahu wata’ala kemudian menurunkan firmannya dan sekaligus menegur Abu Bakar as Shiddiq, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, (QS. An Nur : 20).

Setelah ayat ini turun Abu Bakar berkata:”Tentu kami mau ya rabb”, akhirnya beliau memaafkamn mistho dan kembali memberi nafkah kepada mistho bahkan beliau tambahkan nafkah yang diberikan kepadanya sebagai bentuk ketundukan pada perintah Allah Subhanahu wata’ala”, ini adalah sesuatu yang berat akan tetapi pahalanya telah dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan pahala yang besar.

  1. Allah Subhanahu wata’ala menyukai orang – orang yang berbuat baik

Al Ihsan sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”. (HR. Muslim 102).

Mengerjakan amalan sholeh seperti puasa, sholat, berbakti kepada kedua orang tua, bersedekah dijalan Allah, menunaikan umrah dan ibadah haji  kesemuanya kita megerjakannya tulus karena Allah Subhanahu wata’ala , bukan karena riya , sum’ah, mengharpakan pujian orang, sanjungan dari manusia , karena barangsiapa yang mengerjakan amalan yag niatnya bukan karena Allah maka dihapuskan pahalanya pada hari kiamat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (QS. Al Furqan: 23).

Dalam ayat yang lain:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi“. (QS Az Zumar: 65). Riya dan sum’ah termasuk bagian dari syirik.

4. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka

Orang– orang yang beriman dan bertakwa tidak menunjukkan bahwa mereka tidak pernah melakukan dosa dan maksiat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (Hadits hasan riwayat Ahmad (III/198), At Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Majah (no. 4251) dan Al Hakim (IV/244). Lihat Shahih Jami’ush Shaghir (no. 4515), dari sahabat Anas). 

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”(QS. Ali Imran : 135).

Oleh karenanya Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membukakan pintu ampunan bagi hamba – hambanya yang bermaksiat kepadanya dan menerima taubat orang – orang yang tulus dan jujur dalam taubatnya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam hadist qudsi:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas Radhiyallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “.(HR. Tirmidzi dan ia berkata : Haditsnya Hasan Shahih).

Jadikan amalan yang keluar dari lisan dan hati kita adalah amalan untuk senantiasa meminta ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala karena kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput karena taubat ditutup oleh Allah Subhanahu wata’ala ketika nyawa telah sampai pada kerongkongan , sebesar apapun dosa yang pernah kita lakukan dimasa silam maka senantiasalah meminta ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memperbaiki sisa umur yang Allah berikan kepada kita.

وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

“Dan barang siapa yang melakukan dosa-dosa itu niscaya dia akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka menjadi berbagai kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. Al Furqaan: 68-70).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Seorang yang bertaubat dari suatu dosa sebagaimana orang yang tidak berdosa”. (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al Albani).

Allah menutup firmannya:

أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal“. (QS. Ali- Imran: 136).

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 01 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR