بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ  لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. (QS. Al Hajj: 27-28). Baik manfaat ukhrawi maupun manfaat duniawi, dan dari ayat ini dijadikan dalil oleh para ulama yang dimaksudkan dalam dalil ini adalah jual beli yaitu mengikutkan keuntungan dunia untuk akhirat.

Berkata Ibnu Abbas tentang ayat diatas:”Ayyamal ma’lumats adalah 10 pertama dibulan dzulhijjah”, dan sepuluh pertama dibulan dzulhijjah juga disebutkan dalam ayat ketika Nabi Musa pergi berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala selama 10 malam kemudian ditambah dengan 10 malam maka cukuplah 40 malam, Kata ulama tafsir 30 malam dibulan dzulqaidah dan tambahan 10 malam dibulan dzuhijjah, inilah waktu yang mulia yang Allah pilihkan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam.

Dalam hadist Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ . يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)”. Para sahabat bertanya:”Tidak pula jihad di jalan Allah?”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun”. (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968).

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang dapat menyamai dengan jihad dijalan Allah, Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ :  لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ . قَالَ : فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا . كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ : لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ . وَقَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ : مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ . لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى

Dikatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:“Amalan apa yang setara dengan jihad fii sabiilillah?”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:“Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad)”. Para sahabat mengulangi pertanyaan tersebut dua kali atau tiga kali, dan Nabi tetap menjawab: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad)”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada kali yang ketiga:“Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, shalat, dan khusyu’ dengan (membaca) ayat-ayat Allah. Dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala itu kembali“. (HR. Muslim dalam Shahiih-nya (no. 1878), Ibnu Abi Syaibah (no. 19542), Ibnu Hibban (no. 4608-at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban)).

Bahkan orang – orang yang meninggal dalam jihad dijalan Allah akan dijamin selamat dari azab dan fitnah kubur, itulah balasan bagi orang-orang yang berjihad dimedan syar’i, ketika Rasulullah ditanya mengapa bisa demikian, beliau menjawab:”Cukuplah kilatan pedang itu menjadi fitnah dan ujian baginya, dan pada hari kiamat tubuhnya mengeluarkan darah yang lebih harum dari bau kasturi”. 

Keutamaan Allah Subhanahu wata’ala sangat luas, semua kita ingin mendapatkan keutaman dan pahala tersebut namun tidak semua diberikan oleh Allah keutamaan tersebut, terutama bagi kaum wanita. Namun jihad bagi seorang wanita bukan jihad dengan menggunakan senjata. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عليهن جهاد لا قتال فيه الحج والعمرة

Bagi mereka (wanita) jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah”. (HR. Ibnu Majah, 2910). Termasuk berkhidmah kepada suami dan anak dirumah. Jadi orang – orang sholeh iri mereka kepada orang lain yang mengerjakan amalan sholeh dimana amalan sholeh tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar.

Oleh karenanya 10 hari pertama bulan dzulhijjah perbanyak amalan sholeh baik yang wajib maupun sunnah.  Bahkan dibolehkan untuk puasa sunnah selama 9 hari mulai dari 1 dzulhijjah sampai 9 dzulhijjah, namun jika tidak mampu maka jangan lewatkan puasa sunnah arafah 9 dzulhijjah keutamaannya sebagaimana disebutkan dalam hadist Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim no. 1162).

Juga perbanyak sedekah dihari hari mulia tersebut, perbanyak tilawah Al-Qur’an, Qiyamullail, dzikir, usahakan lisan kita jangan berhenti dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala,Ibnu Umar dan Abu Hurairah jika sudah masuk 1 dzulhijjah beliau sengaja ke pasar bertakbir sambil membesarkan suara sebagaimana takbir saat sholat idul adha. Orang – orang yang ada dipasar kemudian bertakbir seperti  takbirnya Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anha, tujuan takbir tersebut agar mereka mengingat dari kesibukan mereka berdagang dan jual beli akan kemuliaan 10 hari bulan dzulhijjah. Disebut dengan dzikir takbir mutlak dimanapun dan kapanpun perbanyak takbir di 10 hari bulan mulia tersebut, adapun dzikir muqayyad seperti  mengucapkan takbir ketika selesai sholat wajib.

Salah seorang salaf pernah mengatakan:”Jika telah masuk 1 dzulhijjah janganlah kalian memadamkan lampu – lampu kalian dimalam hari”, maksudnya adalah perbanyak membaca Al-Qur’an dan qiyamullail.

Hukum berqurban dengan berhutang kata para ulama kita:”Jika ia mampu membayar utang tersebut atau ia menunggu gaji dan yang semisalnya maka dibolehkan berqurban dengan berhutang, tetapi setelah berqurban ia harus membayar hutang tersebut”, adapun jika sulit maka tidak boleh, karena berqurban hanya diperuntukkan bagi yang diberi kemampuan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Jumat, 03 Dzulhijjah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR