بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

2. Zainal Abidin

Zainal Abidin merupakan cucu dari Ali bin Abi Thalib,  setiap malam beliau keliling kota Madinah sambil memikul makanan yang beliau bagikan kepada orang – orang fakir dan miskin, ia termotivasi dengan hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Allah tabaroka wa ta’ala”. (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532]).

Amalan yang beliau lakukan barulah diketahui setelah beliau meninggal, ketika jenazah beliau dimandikan terlihatlah 2 garis hitam yang terdapat pada pundaknya, disebutkan bahwasanya orang – orang fakir berkata:”Kami senantiasa mendapatkan sedekah rahasia sampai meninggalnya Zainal Abidin”. 

Ada yang membayarkan utang saudaranya tanpa ia ketahui, amalan ini merupakan amalan yang paling mulia yaitu membayarkan hutang saudaranya dan ia berpesan:”Jangan sampaikan kepada saudaraku bahwasanya saya yang melunasi utangnya“, semua amalan yang telah kita sebutkan diatas mereka tidak mengerjakannya kecuali mengharapkan wajah Allah Subhanahu wata’ala sebagai bentuk untuk menjaga keiklasannya. Karena amalan yang dikerjakan dengan ikhlas itulah yang diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Huzaifah Al Mar’azy Rahimahullah mendefinisikan keikhlasan dengan berkata:”Amalan seorang hamba baik ketika ia kerjakan secara terang – terangan atau pada saat ia mengerjakannya dengan secara sembunyi“. Jadi kondisi dan keadaannya sama dimana ia tidak tersanjung dengan pujian manusia sebagaimana ia tidak mundur dengan celaan manusia, dia beramal dan bekerja karena Allah Subhanahu wata’ala mereka dipenuhi dengan amalan – amalan rahasia. Salah seorang salaf pernah mengatakan:”Orang yang ikhlas dan beramal karena tuhannya seperti orang yang berjalan diatas pasir terlihat bekasnya walaupun tidak terdengar suaranya”, inilah bentuk orang yang ikhlas beramal karena Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian ulama yang lain ada yang mengatakan:”Keikhlasan yaitu ketika engkau tidak mengharapkan  ada orang yang melihatmu kecuali Allah Subhanahu wata’ala dalam mengerjakan sebuah amalan dan tidak mengharapkan ganjaran selain dari Allah Subhanahu wata’ala“.

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak peduli walaupun orang – orang mencabut semua pujian untuknya demi untuk menjaga hatinya hanya semata – mata karena Allah dan ia tidak senang ketika amalannya dilihat oleh siapapun walaupun seberat biji dzarrah”.

Kata ikhlas sering disamakan maknanya dengan niat walaupun beberapa ulama membedakan antara ikhlas dengan niat akan tetapi memiliki persamaan, jika disebutkan niat dalam tinjauan ilmu fiqih maka yang dimaksudkan adalah apa yang diikrarkan dari dalam hati dari keinginan sehingga yang membedakan antara sebuah amalan dengan amalan yang lain dan yang membedakan antara sebuah ibadah dengan kebiasaan inilah yang dimaksud dengan niat. Sebagai contoh, sholat dhuhur dan sholat ashar bacaannya sama, wiridnya sama, gerakannya sama dan yang membedakannya adalah niat.

Ketika kebiasaan kita mandi diwaktu pagi atau sebelum subuh namun pada saat suatu malam kita dalam kondisi junub kemudian kita mandi sebelum subuh kemudian kita sholat dan setelah sholat baru kita ingat bahwa ketika kita mandi tidak disertai dengan mandi janabah hanya disebabkan kebiasaan maka kita harus mengulangi mandi kita dengan mandi janabah dan mengulangi sholat subuh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist:

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah”. (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits). Jika ditinjau dari sisi akhlak kemudian ilmu aqidah dan tauhid maka niat juga bisa mengandung arti sebab apa kita mengerjakan sebuah amalan.

Didalam Al-Qur’an begitu banyak ayat yang mana Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan untuk senantiasa menjaga keikhlasan, diantaranya dalam surah Al-Bayyinah pada ayat yang ke 5, surah ini diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril, kemudian Jibril berpesan kepada Rasulullah agar dibacakan oleh salah seorang sahabat yang bernama Ubay bin Kaab maka datanglah Rasulullah ke rumah Ubay bin Kaab. Ubay bin Kaab kemudian terkejut ada apa gerangan mengapa Rasulullah mengunjungi rumahnya dan ternyata Rasulullah mendatangi beliau karena ada pesan dari Allah Subhanahu wata’ala  agar ia membacakan surah itu kapada Rasulullah yaitu surah Al Bayyinah. Ubay bin Kaab kemudian terharu dan berkata:”Apakah Allah Subhanahu wata’ala langsung menyebut namaku dari langit ya Rasulullah”, Rasulullah berkata:”Ya, Allah yang langsung menyebut namamu dari langit”, kandungan surah Al Bayyinah tentang keikhlasan pada ayat ke 5 Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah : 05). Jadi tujuan kita hidup didunia ini sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas adalah untuk beribadah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku“. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56).

Allah Subhanahu wata’ala hanya menerima amal ibadah seorang hamba yang dikerjakan dengan ikhlas, disebutkan dalam surah Al An’am pada ayat yang 162 Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-An’am : 162).

نُسُكِي mengandung 2 arti yaitu ibadah secara umum dan sembelihan, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah“. (QS. Al-Kautsar : 2).

Allah telah mempersaksikan seluruh manusia sebelum ia diciptakan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“. (QS. Al-Araf : 172).

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini diatas fitrah sebagaimana disebutkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Muslim).

Diatas fitrah maksudnya adalah diatas islam, oleh karena itu Allah tidak mengatakan dalam hadist diatas “Menjadikannya muslim” karena manusia memang terlahir dalam keadaan muslim, sebagian ulama kita menyebutkan bayi atau anak orang kafir yang terlahir kemudian meninggal sebelum baligh maka tempatnya didalam surga, walaupun ada khilaf dari sebagian ulama mereka berkata:”Mereka akan diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala”, dan sebagian ulama yang lain mengatakan:”Mereka akan menjadi pelayan – pelayan didalam surga“, ada yang mengatakan:”Mereka ikut kepada orang tuanya dengan berdalilkan firman Allah:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (QS. At – Tur : 21).

Bersambung (Ikhlas (Silsilah Amalan Hati) sesi 3)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 08 Jumadil Awal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR