بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. An-Nahl: 18)

Diantara nikmat yang paling besar yang kita rasakan sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala yaitu nikmat yang sifatnya dzahir dan batin, Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan”.  (QS. Luqman : 20). Nikmat yang tersembunyi adalah petunjuk dan keimanan kepada Allah dan senantiasa kita berada diatas jalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala yang selalu kita minta dalam sholat – sholat kita:

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim)”. (QS. Al-Fatihah : 6).

Adapun nikmat yang batin sebagaimana ayat yang kita sebutkan tadi ketika kita hendak menghitung – hitungnya niscaya kita tidak akan mampu untuk menghitungnya dan kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah senantiasa bersyukur kepada Allah agar Allah menambahkan nikmat tersebut Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)

Didalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala menceritakan suatu kaum yang dulunya negeri yang tentram dan aman yang mendapatkan rezeki dari berbagai penjuru namun disebabkan kekufuran mereka terhadap nikmat Allah Subhanahu wata’ala maka nikmat tersebut berubah menjadi hukuman dan azab dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلَّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ. وَلَقَدْ جَآءِهُمْ رَسُوْلٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوْهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُوْنَ

Allah telah memberi contoh (perumpamaan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezekinya datang ke negeri itu dari setiap penjuru dengan baik, tetapi penduduk negeri itu kafir kepada nikmat-nikmat Allah. Kemudian Allah timpakan kepada mereka derita kelaparan dan ketakutan karena dosa-dosa mereka. Allah jadikan negeri itu sebagai contoh buruk bagi segenap manusia. Sungguh telah datang kepada kaum kafir seorang rasul dari bangsa mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Oleh karena kezaliman mereka itu, mereka ditimpa azab sampai binasa”. (QS: Al-Nahl : 112-113)

Negeri yang dulunya aman dan tentram mendapatkan rezeki dari berbagai penjuru tiba – tiba berubah dalam sekejab menjadi tempat yang menakutkan dan penduduknya kelaparan dan itu adalah buah dari perbuatan mereka, dalam ayat yang lain Allah menceritakan sebuah contoh di zaman dahulu yaitu negeri saba:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr,
Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”. (QS. Saba’ : 15-17).

Banyak kebaikan yang Allah berikan kepada negeri tersebut bahkan Allah menggambarkannya seperti 2 surga disisi kanan dan disisi kiri mereka, ketika memandang disisi kanan maka sejauh mata memandang tumbuhan, tanaman, persawahan, kebun dan ladang yang begitu subur Allah kemudian berkata:”Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya”. namun tidak lama kemudian mereka mulai berpaling yang dulunya mereka bersyukur yang diwujudkan dalam bentuk ibadah menyembah semata – mata kepada Allah, mereka mulai dilalaikan oleh dunia bahkan mereka menyombongkan diri dengan apa yang mereka miliki

Manusia menyombongakan diri ketika ia merasa dirinya telah berkecukupan atau dibentangkan bagi mereka dunia, diberikan sedikit kemewahan atau diberikan kepadanya pangkat dan jabatan mereka kemudian berpaling, mereka menjadi sombong, mereka menjadi takabbur mereka menjadi lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, kemudian Allah Subhanahu wata’ala mengirimkan kepada mereka hukuman disebabkan karena mereka berpaling, disebabkan karena kekufuran mereka, disebabkan karena kemaksiatan dan kemungkaran yang mereka lakukan. Kebun, sawah, ladang yang dulunya subur memberikan manfaat yang begitu banyak tidak menghasilkan apa – apa kemudian mereka ditimpahkan musibah kelaparan dan rasa takut. Oleh karenanya agar Allah senantiasa menjaga nikmat yang diberikan kepada kita maka jangan kita lupa kepada Allah ketika kita dalam keadaan lapang sebagaimana perintah Nabi:

ﺗَﻌَﺮَّﻑْ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﺧَﺎﺀِ ﻳَﻌْﺮِﻓُﻚ ﻓِﻲ ﺍﻟﺸِّﺪَّﺓِ

Kenalilah (ingatlah) Allah  di waktu senang pasti Allah  akan mengenalimu di waktu sempit.” (HR. Tirmidzi).

Jangan kita lupa kepada pencipta kita karena dialah Allah Subhanahu wata’ala yang mengaruniakan kepada kita berbagai macam rezeki yang dzahir dan yang batin, Rasulullah menyebutkan dalam hadistnya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya”. (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918).

Nabi tidak mengatakan ia memiliki cadangan makanan dirumahnya untuk beberapa hari atau beberapa bulan atau beberapa tahun bahkan ada orang yang menyimpan hartanya untuk anaknya 7 turunan kelak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Ia memiliki makanan pokoknya pada hari itu”, Karena hari esok belum tentu milik kita. Pada hakekatnya semua kita didunia adalah raja pada hari ini, siapa diantara kita yang tidak merasakan nikmat keamanan, kita datang kemasjid untuk melaksanakan ibadah dalam keadaan tenang, kita meninggalkan keluarga kita dirumah kemudian dijalan tidak ada gangguan, tidak seperti pada sebagian belahan bumi ini dimana saudara – saudara kita ada yang senantiasa terancam hartanya, ia tidak merasakan keamanan begitupula ketika ia keluar dari rumahnya ia merasa ketakutan adapun kita diberikan keamanan oleh Allah.

Nikmat kesehatan

Betapa banyak saudara kita yang terbaring diatas ranjang dan kasur yang berwarna putih yang ada dirumah sakit disana ada yang mengeluh dan mengerang kesakitan, disana ada yang berteriak, disana ada yang sekarat adapun kita Alhamdulillah masih diberikan kesehatan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ada makanan yang bisa kita nikmati pada hari ini mungkin kita duduk dimasjid namun keluarga kita dirumah menyiapkan makanan atau kita bisa memilih makanan di warung manapun yang kita inginkan, semua ini adalah merupakan nikmat dari Allah yang diharamkan dari sebagian saudara – saudara kita, oleh karenanya jika kita ingin nikmat itu diberkahi dan dirahmati oleh Allah maka bersyukurlah kepadanya dan kesyukuran kita terhadap nikmat Allah dibuktikan dengan 3 hal:

Pertama: Bersyukur Dengan Lisan

Senantiasa kita memuji Allah Subhanahu wata’ala ketika mendapatkan nikmat dengan mengucapkan Alhamdulillah, Allah Subhananhu wata’ala memuji Nabinya Nuh didalam Al-Qur’an dan disebutkan bahwasanya beliau adalah Abdan Syaqura (hamba yang banyak beryukur kepada Allah Subhanahu wata’ala), disebutkan pada sebuah buku tafsir bahwasanya setiap kali beliau menyuapkan makanan dimulutnya beliau memuji dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah setiap kali beliau menimba air disumur dan mendapatkan air dengan penuh beliau berkata:“Alhamdulillah”. Beliau ditanya:”Mengapa setiap kali anda menimba di sumur anda mengucapkan Alhamdulillah” beliau berkata:”Saya teringat dengan firman Allah:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”. (QS. Al-Mulk : 30).

Kita mendapatkan air yang cukup bahkan lebih dari kebutuhan kita sehari-hari, fasilitas kita rasakan namun disana ada saudara – saudara kita yang berjalan berkilo – kilo meter untuk mendapatkan air satu ember itupun tidak layak untuk dikonsumsi, Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita kelebihan dan kelapangan, oleh karenanya dengan lisan ini mari kita banyak mengucap syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana Nabi Sulaiman yang diberikan kekuasaan oleh Allah yang tidak diberikan kepada siapapun dari raja yang pernah berkuasa didunia ini namun beliau tidak lupa kepada Allah bahkan doanya diabadikan didalam Al-Qur’an:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia“. (QS. An-Naml : 40).

Ketahuilah ujian dari Allah bukan cuma sesuatu yang kita benci berupa takdir yang buruk musibah dan semisalnya yang menimpa kita namun termasuk diantara ujian adalah nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala bentangkan kepada kita, Rasulullah bersabda:

“Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur”. (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73).

Kedua, Kesyukuran Dibuktikan Dengan Hati

Yaitu keyakian kita bahwa setiap apa yang kita rasakan tidak ada sedikitpun kekuatan kita didalamnya melainkan taufik dari Allah:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (QS. An Nahl : 53).

Yang memberi kepada kita kekuatan untuk mencari nafkah dialah Allah Subhanahu wata’ala, yang memberikan kepada kita otak untuk berfikir dan memutar bisnis, menjalankan perniagaan dialah Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya jangan sampai kita seperti Qarun ketika ia ditanya dan disuruh untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah melimpahkan harta kepadanya dengan sombongnya dia berkata:”Apa yang saya dapatkan ini adalah hasil dari kecerdasan saya, hasil kerjasa keras saya”, oleh karenanya jangan sampai kita seperti Qarun. Maka dari itu ketika Allah memberikan nikmat kepada kita yakinlah dalam hati bahwasanya semua itu datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan dalam sekejab Allah berkuasa untuk mencabut nikmat tersebut, lihatlah apa yang terjadi kepada saudara – saudara kita dipalu begitupula yang ada didonggala juga saudara kita yang ada dilombok bertahun – tahun mereka mengumpulkan harta, membangun rumah yang megah namun dalam sekejab diluluhlantahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan tentara – tentara Allah Subhanahu wata’ala.

Kita merasakan betapa lezatnya makanan yang kita makan andaikan Allah mencabut kelezatan itu dan memberikan kepada kita penyakit atau bahkan makanan yang kita makan yang masuk ke perut tidak bisa keluar apa yang akan kita rasakan.

Ada orang yang berobat sampai keluar negeri dengan membayar biaya ratusan juta atau miliaran hanya untuk bisa buang air besar atau buang air kecil, coba bayangkan andaikan Allah mencabut nikmat itu dalam sekejab maka mudah bagi Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya bersyukurlah kepada Allah jangan kita sombong, jangan takabbur bahkan nikmat yang Allah berikan kepada kita seyogyanya menjadikan kita semakin menundukkan diri kepada Allah, semakin rajin menuju ke rumah – rumah Allah, ke masjid – masjid Allah, semakin rajin ruku dan sujud kepada Allah dan bersykur terhadap nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada kita sebagaimana Rasulullah sampai beliau qiyamullail sepanjang malam, kaki beliau membengkak, istrinya berkata:”Ya Rasulullah anda telah mendapatkan jaminan ampun dari dosa – dosa yang lalu dan yang akan datang lalu mengapa anda sampai seperti ini”, Nabi berkata:”Tidakkah pantas saya menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Allah”.

Ketiga, Kesyukuran Dibuktikan Dengan Amalan

Sebagaimana Firman Allah kepada keluarga Daud  

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Wahai keluarga Dawud beramallah sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali di antara para hamba-Ku yang bersyukur”.(QS. Saba’: 13).

Sebagian yang Allah titipkan kepada kita mari kita berbagi kepada kaum muslimin yang membutuhkan pertolongan, Nabi menyebutkan dalam hadist:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَـرَ مُسْلِمًـا ، سَتَـرَهُ اللهُ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ ، وَمَا اجْتَمَعَ قَـوْمٌ فِـي بَـيْتٍ مِنْ بُـيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَـهُ بَيْنَهُمْ ، إِلَّا نَـزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ ، وَغَشِـيَـتْـهُمُ الرَّحْـمَةُ ، وَحَفَّـتْـهُمُ الْـمَلاَئِكَةُ ، وَذَكَـرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ ، وَمَنْ بَطَّـأَ بِـهِ عَمَلُـهُ ، لَـمْ يُسْرِعْ بِـهِ نَـسَبُـهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya”. (HR. Muslim (no. 2699).

Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia membantu dan menolong saudaranya dalam hadist dikatakan:
Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba dan hamba itu mengakuinya dan Allah menjadikan sebagian orang meminta darinya kapan dia menolaknya maka boleh jadi Allah memindahkan nikmat itu kepada orang lain“.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 04 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.