بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kisah dalam Al-Qur’an bukanlah kisah khayalan namun ia dalah merupakan sebaik – baik kisah. Allah berfirman:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. (QS. Yusuf : 03).

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf :111)

Tujuan Allah Subhanahu wata’ala menceritakan kisah – kisah para Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an adalah untuk menguatkan hati dan mengokohkan jiwa terutama bagi orang – orang yang mendakwahkan kebenaran dan meniti hidayah dijalan Allah Subhanahu wata’ala

Nabi Hud ‘alaihissalam salah satu diantara Nabi yang berasal dari bangsa arab, Rasulullah menyebutkan ada 4 Nabi dari orang – orang arab yaitu: Hud, Sholeh,Syu’aib dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagian ulama mengatakan:”Sesungguhnya Nabi Hud dialah pertama kali berbicara dengan bahasa Arab walaupun Wahb ibn Munabbih menyebutkan bahwa bapaknya pertama kali berbahasa arab“.

Allah mengisahkan kisah Nabi Hud bersama dengan kaumnnya kaum aad dalam surah Al A’raf :65

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?“. (QS. Al A’raf’ : 65). 

Disini menjadi pelajaran bahwa tujuan seseorang berdakwah adalah mengajak kepada manusia untuk hanya menyembah kepada Allah dan menjauhi penyembahan selain kepada Allah. Inilah tujuan para Nabi dan Rasul diutus untuk mengajak ummatnya mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala, karena dari zaman ke zaman kesyirikan terus terjadi sampai hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an bagaimana para Nabi dan Rasul mengajak ummatnya untuk menyembah kepada Allah. Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS. An Nahl : 36).

Dalam ayat lain:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. Al Anbiya :25).

Yang dimaksud dengan thaghut sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah :”Sesuatu yang diperlakukan diluar batas, baik yang disembah selain Allah atau yang ditaati dan termasuk yang ditaati adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Suatu ketika Rasulullah membaca firman Allah Subhanahu wata’ala:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah : 31).

Salah seorang sahabat  yang bernama Adi bin Hatim Rahimahullah yang masih beragama nasrani dari kalangan ahli kitab menyampaikan kepada Nabi:”Sesungguhnya mereka tidak menyembahnya”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:”Tidak, Sesungguhnya mereka mengharamkan hal yang halal bagi para pengikutnya dan menghalalkan hal yang haram bagi mereka, lalu mereka mengikutinya  Bukankah kalian  menghalalkan apa yang mereka halalkan dan dan kalian mengharamkan apa yang mereka haramkan”, itulah bentuk ibadah kalian kepada mereka, yang demikian itulah ibadah mereka kepada orang – orang alim dan rahib – rahib mereka. kemudian Rasulullah berkata kepadanya:”Hai adi bagaimanakah pendapatma, apakah membahayakan bila dikatakan Allah Maha besar.?. apakah engkau mengetahui hal yang lebih besar daripada Allah, jika Allah menimpakan bahaya kepadamu, Apakah membahayakanmu bila dikatakan tidak ada tuhan selain Allah.?, Apakah kamu mengetahui ada tuhan selain Allah“. Rasulullah mengajaknya masuk islam, akhirnya beliau bersyahadat.

Jadi, para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk membersihkan peribadatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari segala bentuk kesyirikan, termasuk berlebihan terhadap orang – orang sholeh sehingga mengkultuskannya.

Nabi Hud ‘alahissalam datang memberi peringatakan kepada kaumnya, namun Nabi Hud dicela dan dihina oleh kaumnnya. kaumnya berkata:

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta”. (QS. Al A’raf’ : 66).

Para Nabi dan Rasul sebagian kaum mereka menentang dakwah yang dibawah oleh Nabi yang diutus kepada mereka. Tuduhan – tuduhan yang keji kepada pengusung tauhid serta mendakwahkan aqidah yang shahih, bukanlah suatu yang baru dizaman ini melainkan sejak zaman dahulu para Nabi dan Rasul sudah mendapatkan gelar yang buruk dari kaumnya, padahal mereka para Nabi dan Rasul hanya menyeru untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala, mereka menyeru agar meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah yang tidak memberi mudharat dan manfaat sedikitpun kepada apa yang mereka sembah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

“Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila”.(QS. Adz-Dzariyat ayat: 52).

Nabi Hud kemudian membalas keburukan kaumnya dengan kebaikan dan inilah sifat dan sikap yang harus dimiliki oleh seorang muslim yaitu membalas keburukan dengan kebaikan. Nabi Hud kemudian berkata kepada kaumnya:

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَٰكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“Hud herkata “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu”. (QS. Al A’raf’ : 67-68).

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.(QS. Al A’raf’ : 69).

Nasehat para da’i jika kita melihat kekufuran dan kemaksiatan maka kita harus kasihan kepada mereka agar kita mengambil tangan dan menyelamatkan mereka, karena kebanyakan saudara kita terjatuh dalam kemaksiatan dan kekufuran disebabkan karena kejahilan mereka, jangan kita dikalahkan oleh perasaan kita sehingga ucapan dan ajakan kita membuat orang lari dan menghindar. Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali Imran : 159).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُنْ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya”. (HR. Abu Dawud, sanad: shahih).

Berlanjut Kisah Nabi Hud (Sesi 2)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 16 Dzulqaidah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR