بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

5. Ka’ab Bin Malik Diboikot Oleh Rasulullah dan Para Sahabat

Ka’ab bin Malik kemudian melanjutkan ceritanya:

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kaum muslimin untuk berbicara kepada salah seorang di antara kami bertiga yang tidak ikut perang tabuk. Maka orang-orang pun menjauhi kami sehingga seolah-olah kami sangat terasing dan rasanya saya tidak betah lagi hidup di dunia ini. Kami bertiga tinggal dalam keadaan seperti itu selama 50 hari.

Adapun kedua sahabat saya, mereka tetap tinggal dan duduk di rumah dalam keadaan terus menangis. Adapun saya, saya yang termuda dan terkuat di antara kami bertiga. Saya tetap keluar dan ikut shalat bersama kaum muslimin. Saya tetap pergi ke pasar akan tetapi tidak ada seorang pun yang menyapa saya. Bahkan, suatu ketika saya pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau ketika sedang duduk setelah shalat di majlisnya. Aku berkata dalam hati:“Apakah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menggerakkan kedua bibir beliau untuk menjawab salamku?!”.

Lalu saya shalat di dekat beliau sambil sesekali melirik beliau. Apabila saya sedang shalat beliau memandang saya. Tapi apabila saya melirik beliau, beliau berpaling. Sampai ketika peristiwa yang demikian ini semakin menyedihkanku di mana kaum muslimin mengucilkanku sedemikian rupa, maka di suatu sore saya naik dinding rumah Abu Qatadah, saudara sepupuku yang amat sangat kusukai.

Lalu saya mengucapkan salam kepadanya, tapi demi Allah dia tetap tidak membalas salam saya. Lantas saya berkata padanya:“Wahai Abu Qatadah, demi Allah saya ingin mendengar jawabanmu! Apakah kamu mengetahui bahwa saya mencintai Allah dan RasulNya?!”.

Tapi Abu Qatadah tidak mau menjawab juga. Kemudian saya meminta dia lagi dengan nama Allah untuk menjawab salam saya, tapi dia masih tidak mau menjawab salam saya juga. Kemudian saya duduk lagi dan saya bertanya lagi kepadanya tapi dia tetap saja diam. Akhirnya dia menjawab:“Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”.

6. Tawaran Raja Ghassan Di Tolak Oleh Ka’ab Bin Malik

Maka mengucurlah air mataku. Kemudian saya naik dinding rumah Abu Qatadah dan beranjak pulang. Suatu hari, saya pernah berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ada seorang petani dari Syam yang biasa menjual makanan di kota Madinah bertanya:“Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?”.

Maka orang-orang menunjuk diriku. Lalu orang itu pun datang kepadaku seraya memberikan sepucuk surat dari raja Ghassan. Waktu itu saya telah bisa menulis dan membaca. Kemudian saya baca surat itu dan ternyata isinya adalah:

Selanjutnya ingin saya sampaikan bahwa saya telah mendengar kalau teman-temanmu telah mengucilkanmu. Ketahuilah Allah tidaklah menjadikan dirimu sebagai seorang yang hina dan orang yang pantas disia-siakan, maka bergabunglah dengan kami, kita akan saling membantu”.

Inilah ujian lagi”, gumamku setelah membaca surat itu. Kemudian saya melemparkan surat tersebut ke dalam api.

7. Ujian Terberat Harus Berpisah Dengan Istrinya

Setelah sampai pada hari ke-40 di mana saya dikucilkan selama 50 hari dan belum juga turun wahyu, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepadaku di mana dia berkata:“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhmu supaya kamu berpisah dengan istrimu”.

Apakah saya harus menceraikannya atau apa yang harus saya perbuat???”, tanyaku.

Tidak, janganlah kamu menceraikannya tapi kamu jangan mendekatinya (menyetubuhinya)”, jawabnya.

Bersamaan dengan itu Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengutus utusan untuk mendatangi kedua temanku untuk menyampaikan perintah yang sama. Kemudian saya berkata kepada istri saya:“Pulanglah kamu ke keluargamu dulu dan tinggallah di sana bersama-sama mereka sehingga Allah memberi keputusan tentang persoalanku ini”.

Adapun istri Hilal bin Umayyah, maka dia mendatangi Rasulullah.

Wahai Rasulullah sesungguhnya Hilal bin Umayyah seorang yang sangat tua nan lemah dan tidak mempunyai seorang pelayan. Maka apakah engkau tidak keberatan bila mengizinkan saya melayaninya?”, pintanya.

Tidak apa-apa. Tetapi jangan sekali-kali ia mendekati (menyetubuhi) kamu”. jawab Rasullullah.

Demi Allah! Hilal sudah tidak lagi mempunyai nafsu untuk berbuat seperti itu lagi dan demi Allah ia selalu menangis semenjak ia menerima keputusan itu sampai saat ini”. Lanjut istri Hilal.

Kemudian sebagian keluargaku menganjurkan kepadaku agar aku juga minta izin kepada Rasulullah mengenai masalah istriku karena beliau telah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk tetap melayaninya.

Saya tidak akan minta izin kepada Rasulullah mengenai istriku. Saya tidak tahu bagaimana jawaban Rasulullah seandainya saya minta izin masalah istriku sedangkan saya masih muda”. tegas Ka’ab.

8. Kabar Gembira Diterimanya Taubat Ka’ab Bin Malik

Kemudian saya tinggal sendirian selama sepuluh hari. Genaplah lima puluh hari saya semenjak orang-orang tidak boleh berbicara kepada kami. Tatkala saya selesai mengerjakan shalat subuh pada hari kelima puluh di tingkat atas rumahku, di mana kemudian saya duduk-duduk di atasnya dengan mengingat apa yang telah menimpaku. Saya telah merasa sangat sempit hidup di dunia ini karenanya. Tiba-tiba saya mendengar seorang yang naik gunung Sal’in dan berteriak dengan suaranya yang paling keras:“Wahai Ka’ab bin Malik bergembiralah kamu!”.

Maka saya langsung bersujud karena tahu bahwasanya telah datang jalan keluar bagiku. Ternyata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengumumkan kepada manusia bahwa Allah telah menerima taubat kami ketika subuh. Maka orang-orang mulai menyampaikan kabar gembira kepadaku. Begitu pula ada juga yang pergi kepada kedua kawan saya untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.

Ada seorang laki-laki yang datang kepada saya dengan naik kuda, ada yang jalan kaki, ada pula yang naik bukit. Maka terdengar suara orang tadi lebih cepat sampainya kepadaku daripada orang yang berkuda. Ketika sampai kepadaku orang yang menyampaikan kabar gembira tadi, maka segera kulepaskan kedua pakaianku untuk kupakaikan keduanya kepada orang itu dikarenakan kabar gembira tersebut. Padahal demi Allah, waktu itu saya tidak mempunyai pakaian selain itu.

Kisahnya Berlanjut: Kisah Taubat Ka’ab bin Malik (sesi 3)

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Sabtu, 19 Dzulqaidah  1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR