بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rahimahullah, At Tirmidzi bisa disebut At Turmudzi namun yang masyur adalah At Tirmidzi Rahimahullah, dari Ali Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُوْدُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلاَّ صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ، وَكَانَ لَهُ خَرِيْفٌ فِي الْجَنَّةِ

Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain di pagi hari melainkan 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di sore hari. Dan jika ia menjenguknya di sore hari maka 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya) hingga ia berada di pagi hari. Dan ia memiliki buah-buahan yang dipetik di dalam surga”. (HR. At-Tirmidzi no. 969, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5767 dan Ash-Shahihah no. 1367)

Oleh karenanya tidak mengapa kita mencari teman yang sakit agar kita mengunjunginya dan sekaligus mendapatkan keutamaan hadist diatas, atau menjenguk siapa saja dirumah sakit baik yang kita kenal dan yang tidak kita kenal dengan memasuki kamar pasien satu persatu kemudian mendoakannya, diantara adab menjenguk orang yang sakit adalah dengan meletakkan tangan kita tepat pada sakit orang yang sakit kemjudian meruqyahnya, perlu diketahui bahwasanya ruqyah bukan hanya diperuntukkan kepada orang yang kesurupan tetapi juga kepada penyakit apa saja. Dalam meruqiyah hendaknya lelaki sesama lelaki dan perempuan sesama perempuan jangan kemudian seorang lelaki menjenguk wanita yang sakit lalu menyentuhnya dalam rangka meruqiyahnya kecuali hubungan keluarga atau muhrim, jadi kita meletakkan tangan kita kepada orang yang sakit tepat pada sakitnya lalu kita membaca doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

ALLAHUMMA RABBAN NAAS MUDZHIBAL BA’SI ISYFI ANTASY-SYAAFII LAA SYAFIYA ILLAA ANTA SYIFAA’AN LAA YUGHAADIRU SAQOMAN.

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi”. ( HR. Bukhari, no. 5742; Muslim, no. 2191)

Ditambah dengan surah Al-Fatihah sambil membesarkan suara (Tidak terlalu besar) kemudian meniup ditempat yang sakit sambil mengeluarkan sedikit air liur, selanjutnya membaca 3 surah yaitu Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, Surah An-Naas masing – masing setelah dibaca surah tersebut ditiup pada sakit pasien setelah itu membaca ayat kursi kemudian ditiup dan juga membaca akhir dari surah Al-Baqarah kemudian tiup. Jadi setiap selesai membaca surah atau ayat tiup pada sakit pasien sambil mengeluarkan sedikit air liur.  Hal ini tidak khusus dilakukan oleh seorang ustadz dan kiai akan tetapi semua bisa melakukan hal tersebut.

Begitupula ketika kita yang merasakan sakit maka letakkan tangan kita tepat pada tubuh yang sakit kemudian membaca doa sebagaimana yang telah kita sebutkan diatas atau membaca doa sebanyak 7 kali:

أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku dapati dan yang aku khawatirkan) dibaca 7x”. (HR. Muslim no. 2202).

Setiap selesai dibaca tiupkan pada tubuh yang sakit, Rasulullah bersabda:”Siapa yang sakit dan membaca doa itu dan belum ajalnya maka ia akan disembuhkan oleh Allah Subhanahu wata’ala”.

Disunnahkan untuk menghibur orang yang sakit dengan ucapan:

لاَ بَأْسَ، طَهُورُ إِنْ شَاءَ اللهُ

Laa ba’sa thoharun InsyaAllah (Tidak mengapa, Insya Allah sakit yang kamu derita sebagai pembersih dari segala dosa). Atau ucapan berikut:

شَفَاكَ اللهُ

Syafakallah (Semoga Allah memberi kesembuhan kepadamu). Sabarkan ia walaupun sakitnya sangat parah dan jangan membuat ia putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala.

Tidak dianjurkan lama menjenguk orang yang sakit karena orang yang sakit membutuhkan istirahat, hendaknya mengunjungi orang yang sakit dengan membawa makanan atau buah – buahan untuknya dan yang paling penting adalah kehadiran kita dan mendoakannya, oleh karena itu jangan lalai dan lupa akan keutamaan mengunjungi orang yang sakit

Dalam hadist disebutkan 70.000 malaikat bershalawat atasnya (memintakan ampun untuknya), terkadang kita datang kepada seorang ustadz atau kiai untuk minta agar mendoakan kita dan keluarga kita yang sedang sakit karena kita berfikir bahwa orang yang sholeh dikabulkan doanya oleh Allah, lalu bagaimana lagi jika yang mendoakan kita adalah 70.000 malaikat yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah, apalagi ketika  mengunjungi saudara kita yang sakit kemudian mendoakannya maka malaikat juga akan berkata:”Amin walaka mitsluh” (amin dan untukmu balasan sebagaimana doamu untuk saudaramu).

Salah seorang suami pernah datang kepada istrinya bahwasanya ada temannya yang menelepon dia minta didoakan agar dimudahkan pernikahannya dan ia mengatakan dalam telepon:”InsyaAllah nanti saya doakan agar Allah memudahkan pernikahanmu”, tetapi istrinya ini marah, suaminya berkata:”Mengapa engkau marah”, ia berkata:”Jangan doakan dia”, ia berkata:”Kenapa”, karena malaikat akan berkata:”Untukmu balasan sebagaimana doamu untuk saudaramu”, ia khawatir suaminya menikah lagi.

Doa orang yang sakit sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam bukhari dan imam muslim dari aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwasanya rasulullah menjenguk sebagian keluarganya yang sakit beliau meletakkan tangan kanannya kemudian ia berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

ALLAHUMMA RABBAN NAAS MUDZHIBAL BA’SI ISYFI ANTASY-SYAAFII LAA SYAFIYA ILLAA ANTA SYIFAA’AN LAA YUGHAADIRU SAQOMAN.

“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi”. ( HR. Bukhari, no. 5742; Muslim, no. 2191)

Setelah mendoakannya maka ingatkan kembali kepada pasien untuk banyak berdzikir kepada Allah apalagi jika ia sakit keras dan ingatkan pendamping dari pasien untuk senantiasa membimbing dan mengingatkannya agar menjaga sholatnya dengan baik karena jangan sampai ada yang sakit keras kemudian tidak sholat sehingga ketika ditanya mengapa engkau tidak sholat ia berkata:”Saya sakit keras”, padahal justru lebih menjaga sholat ketika sedang sakit keras karena tidak lama lagi ajalnya jika memang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, inilah fungsi bagi yang mendampingi pasien agar terus membantu dan  mengingatkannya apalagi jika telah nampak pada dirinya bahwasanya ajalnya tidak akan lama lagi.

Ketika pasien dalam keadaan susah maka pendamping hendaknya mentalqinkan ditelinganya dengan mengucapkan berulang – ulang:”Laa ilaha illallah”, agar ia mati diatas perkataan tersebut, cara untuk mentalqinkan adalah dengan perlahan dan tidak cepat bukan pula dengan memaksa dan menekan untuk mengucapkannya, kemudian tidak menambah kata:”Ucapkan”, contoh :”Ucapkan Laa ilaha illallah”, akan tetapi langsung membisikkan ditelinganya dengan ucapan:”Laa ilaha illallah”, karena jangan sampai ketika ditambah kata:”Ucapkan”, sedang ia dalam kondisi yang genting lagi susah justru berkata:”Saya tidak mau” maka bisa menjadi bahaya, oleh karenanya cukup bisikkan:”Laa ilaha Illallah”, jika sudah mengucapkan maka diam, kecuali ketika ia telah mengucapkan:” Laa Ilaha Illallah“, kemudian ia berkata hal yang lain seperti:”Mana anak ku, mana orang tuaku, dll“, maka kembali bisikkan:”Laa Ilaha Illallah”, hal ini dilakukan ketika pasien telah nampak tanda – tanda bahwasanya ia akan meninggal dan bukan diperuntukkan kepada pasien yang masih agak sehat karena dapat membuat ia tersinggung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah “laa ilaha illallah”, maka dia akan masuk surga”. (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621). Semoga kita diberikan kesempatan untuk mengucapkan laa ilaha illallah diakhir hidup kita, insyaAllah

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR