بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

4. Gempa yang terjadi secara ilmiah banyak penjelasannya.

BMKG mengeluarkan penjelasan bahwasanya gempa yang terjadi karena ada lempengan bumi yang bergeser, yang jadi pertanyaan siapa yang mengizinkan lempengan – lempengan tersebut bergeser dialah Allah, tidak ada yang mengetahui tentara – tentara Allah kecuali Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berada diatas gunung uhud bersama dengan Abu Bakar, Umar, Utsman tiba – tiba gunung uhud bergetar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghentakkan kakinya dan berkata:”Diamlah wahai gunung uhud, diatas mu ada seorang Nabi, Shiddiq dan 2 orang syahid”, gunung uhud tiba – tiba menjadi diam. Ada diantara kita sering mendaki gunung bukan untuk mentadabburi kebesaran Allah akan tetapi hanya untuk melihat keindahan alam, memandang keindahan alam hanya sampai dimatanya dan tidak masuk ke dalam hatinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ketika ditanya tentang gempa bumi beliau berkata:”Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, sesungguhnya gempa yang terjadi termasuk diantara tanda – tanda kebesaran Allah yang dengannya Allah mempertakut – takuti hambanya sebagaimana Allah mempertakut – takuti mereka dengan gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan, tentu memiliki beberapa sebab, memiliki hikmah, adapun hikmahnya adalah ayat – ayat Allah yang menjadikan manusia semakin takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, adapun sebabnya secara ilmiah apabila telah ada semacam gas yang ada diperut bumi sebagaimana ketika angin dan air itu berada ditempat yang sempit maka dia meminta untuk keluar sehingga bumi bergeser dan terjadilah gempa”.

Imam ibnu Qayyim Rahimahullah berkata:”Ketika angin  yang ada dalam perut bumi yang  telah terkurung begitupula dengan zat – zat yang lain maka mereka meminta untuk bisa bernafas dan diizinkan oleh Allah Subhanahu wata’ala sehingga terjadilah gempa yang sangat dahsyat dan hikmah yang lain adalah bagaimana seorang hamba itu semakin takut kepada tuhannya, kembali kepada tuhannya, ia bertaubat dari segala dosa yang ia lakukan”. Jadi tanda – tanda yang seperti ini jangan cuma kita mengikutinya secara ilmiah, dengan berkata:”ini terjadi karena ini dan begini”, kemudian kita tidak mengambil hikmah dibalik itu.

Ketika gempa bumi terjadi banyak orang menjadikannya sebagai ajang untuk selfi-selfian atau hanya untuk diabadikan dan tontonan tetapi tidak mengambil pelajaran dan ibrah didalamnya, ketahuilah ini adalah musibah yang sangat besar jika kondisi kita sudah sampai seperti itu, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ ۖ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ

“Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka, Dan (juga) kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam”. (QS. Al-‘Ankabut: 37-38).

Allah menghancurkan kaum Syuaib dengan dosa yang mereka lakukan berupa gempa bumi yang sangat dahsyat.

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah:”Jika saja angin kencang yang bertiup bisa membuat kita ketakutan maka gempa bumi hendaknya bisa membuat kita semakin takut kepada Allah Subhanahu wata’ala”.

Umar bin Abdul Aziz berkata:”Sesungguhnya gempa yang terjadi ini adalah sesuatu yang diadakan oleh Allah untuk menghukum sebagian hamba – hambanya”, hal ini diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah ketika terjadi gempa dizaman beliau.

Olehnya dalam kondisi yang seperti ini mari kita semakin kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, semakin takut dan tadarru kepadanya.

Dalam surah Al-An’am ayat 43, Allah berfirman:

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am : 43).

Hati mereka telah menjadi keras, ketika musibah telah turun barulah ia bertaubat sebagaimana yang terjadi pada Fir’aun, ia bertaubat ketika musibah telah terjadi kepadanya padahal taubatnya tidak lagi bermanfaat sedikitpun, ketika musibah telah turun kemudian baru bertaubat maka taubat telah ditutup oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya apa yang kita lihat yang terjadi disekeliling kita hendaknya membuat kita semakin muhasabah dan memperbanyak istighfar kepada Allah, memperbanyak doa, sebagaimana ketika terjadi  tanda – tanda hari kiamat yang lain yaitu api besar yang keluar di negeri Hijaz yang menerangi unta – unta yang berada dibasrah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ ، تُضِىءُ أَعْنَاقَ الإِبِلِ بِبُصْرَى

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga muncul kobaran api dari Hijaz yang menyinari punuk-punuk unta di kota Bushra”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini terjadi pada tahun 654 H sampai – sampai kota Madinah pada saat itu mengeluarkan lahar yang apinya membumbung tinggi sehingga menerangi unta – unta yang ada di negeri Basrah, ketika hal itu terjadi semua penduduk Madinah masuk ke masjid Nabawi mereka beristighfar, berdoa kepada Allah kemudian saling menghalalkan kedzaliman yang pernah terjadi diantara mereka, Allah kemudian mencabut dan mengangkat azab tersebut.

Ada 2 syarat Allah menahan hukumannya

  1. Ketika Rasulullah berada ditengah – tengah kita dan ini telah hilang dan tidak ada lagi.
  2. Dan yang tersisa adalah istighfar

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Allah tidak akan menyiksa mereka selama kamu ada di tengah mereka. Dan Allah tidak akan menghukum mereka, sementara mereka memohon ampun”. (QS. Al-Anfal: 33).

5. Bagi orang – orang yang beriman kejadian yang seperti ini adalah merupakan ujian dari Allah untuk mengangkat derajat disisinya dan jika dia mati insyaAllah matinya dalam keadaan syahid, adapun orang – orang kafir dan ahlu maksiat menjadi hukuman bagi mereka, siksa yang dipercepat didunia sebelum diakhirat untuk mereka, atau sebagai peringatan kepada ahli maksiat agar mereka kembali kepada Allah. Gempa yang terjadi, puting beliung yang terjadi, tsunami yang terjadi dan apa saja yang terjadi bisa membedakan kondisi dan keadaan seseorang, ada yang keadaan mereka diangkat derajatnya disisi Allah, ada yang menjadi hukuman baginya dan ada yang menjadi peringatan baginya, dan juga bagaimana kita mengambil pelajaran dari musibah atau gempa yang terjadi serta apa yang bisa kita berikan kepada saudara – saudara kita yang ditimpa musibah, tentu kita kasihan dengan apa yang terjadi pada saudara – saudara kita diLombok mereka adalah orang – orang yang beriman dan kita merasakan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam”. (HR. Muslim).

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR