بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Imam Nawawi Rahimahullah menyebutkan secara khusus bab tentang Muraqabah dan beliau mennyebutkan beberapa ayat diantaranya dalam Asy-Syu’ara’ ayat 219 dan ayat 220, Allah berfirman:

وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud, Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Asy-Syu’ara’ : 219-220).

Ayat ini salah satu ayat yang dijadikan oleh para ulama tentang disyariatkannya sholat berjama’ah karena Allah mengatakan yang melihatmu ketika engkau berdiri (sholat) dan sujud bersama dengan orang – orang yang sujud.

Ayat ini juga mengingatkan kepada kita bahwasanya salah satu diantara sebab agar bisa khusyu dalam sholat adalah kita menghadirkan dalam diri kita bahwasanya kita sholat menghadap kepada Allah yang mana Allah melihat kita sedang sholat, dialah Allah yang melihat mu ketika engkau berdiri mendirikan sholat dan sujud mu bersama dengan orang – orang yang sujud.

Salah seorang salaf yang bernama Zainal Abidin ketika azan dikumandangkan berubah wajah beliau menjadi pucat, ketika ditanya:”Mengapa setiap kali mendengar azan kondisi dan keadaan anda seperti ini”, beliau berkata:”Tidakkah engkau tahu kepada siapa sebentar lagi kita menghadap yaitu kepada Allah Subhanahu wata’ala tuhan semesta alam”.

Secara umum Allah Subhanahu wata’ala melihat segala apa yang kita lakukan, dalam sebuah perkataan yang masyur:”Jangan engkau menjadikan Allah Subhanahu wata’ala yang paling remeh di sisimu yang melihat apapun yang engkau lakukan”, ada seseorang ketika hendak melakukan maksiat dia malu kepada manusia bahkan kepada anak kecil yang melihatnya namun dia tidak malu kepada pandangan Allah Subhanahu wata’ala, jadi Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan kita pada ayat diatas bahwasanya dialah Allah Subhanahu wata’ala yang melihatmu ketika engkau berdiri menunaikan sholat dan sujud diantara orang – orang yang sujud.

Dalam ayat yang lain dalam surah hadid ayat 4. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Hadid : 4).

Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, yang bersama dengan kita adalah pengetahuan Allah Subhanhau wata’ala, adapun Allah sebagaimana yang Allah jelaskan didalam Al-Qur’an:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”. (QS. Hadid : 5). Dijelaskan dalam ayat yang lain:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى ,الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk”. (QS. Al-A’la : 1-3). 

Sucikan nama tuhanmu dari penta’wilan, pentatilan, dll yang berkaitan dengan Asma Was Fifat, Allah berfirman:

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Asy-Syura : 11). Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh hambanya walaupun Allah bersemayam diatas arsy.

Salah seorang sahabat pernah menampar pembantunya seorang anak kecil, ia kemudian menyesal dan hendak membebaskannya, maka datanglah ia kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:”Ya Rasulullah saya menyesal dan saya ingin membebaskan budak ini dijalan Allah”, Rasulullah bertanya kepada anak kecil tersebut dengan mengetes dan mengujinya dengan berkata:”Dimana Allah”, dia menjawab:”Di langit”, Rasulullah kemudian berkata:”Bebaskan ia karena dia wanita yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala”.

Allah Subhanahu wata’ala mengetahui segala apa yang dilakukan oleh hamba – hambanya dengan ilmu-Nya. Pada awal surah Al-Mujadilah ketika salah seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan suaminya yang mengintiharnya, (intihar adalah ketika seorang suami berkata kepada istrinya engkau bagiku seperti punggung ibuku), perkataan yang seperti ini adalah perkataan yang dilarang  yang dengannya tidak boleh bagi suami mendekati istrinya setelah ia mengintiharnya kecuali dengan membayar kaffarah dan denda sebagaimana yang disebutkan dalam surah Mujadilah tersebut, adapun seorang suami yang ingin mengajarkan kepada anaknya sehingga ia memanggilnya dengan ummi begitupula sebaliknya abi maka ini tidak termasuk intihar dan dibolehkan namun yang terpenting niatnya bukan sebagai intihar.

Jadi wanita ini datang kepada Rasulullah dan berkata:”Saya telah menjadikan rahim ku sebagai tempat untuk anak- anaknya namun ketika saya telah tua dia mengintiharku”, ‘Aisyah yang mendengar pengaduan wanita tersebut beliau berada dibalik hijab dan berkata:”Maha suci Allah yang maha mengetahui, yang maha mendengar, saya dibalik hijab mendengar pengaduan wanita tersebut ada yang saya dengar dan banyak yang saya tidak dengar dari perkataan wanita tersebut , Allah menurunkan dari langit ke 7 pembelaan kepada wanita tersebut pada saat itu juga”.

Allah maha mendengar dan maha melihat walaupun Allah bersemayam diatas arsy yang sesuai dengan kemuliaan-Nya oleh karena itu jangan permisalkan Allah dengan sesuatu apapun dan nash atau dalil yang datang kepada kita tentang diri Allah Subhanahu wata’ala yang berkaitan dengan Asma Was Sifat maka kita terima sebagaimana pengabaran dari Allah Subhanahu wata’ala, Imam Malik Rahimahullah ketika ditanya:”Allah bersemayam diatas arsy, bagaimana bersemayam dan istiwa.?”, beliau kemudian marah dan mengatakan:”Istiwa ma’lum, namun kaifiyahnya kita tidak tahu dan mengimaninya wajib dan mempertanyakannya bid’ah”, olehnya tidak usah memberat-beratkan diri untuk menyerupakan Allah dengan sesuatu apapun. Jadi ‘Aisyah menceritakan hal tersebut bahwasanya Allah langsung menurunkan ayatnya untuk membela wanita tersebut.

Pada surah yang lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Mujadilah : 7).

Kemudian dalam ayat yang lain:

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali-Imran : 29).

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (QS. Al-An’am : 59).

Allah mengetahui kapan daun itu jatuh, dimana jatuhnya dan dibawa kemana oleh angin yang meniupnya, itulah pengetahuan dan ilmu Allah Subhanahu wata’ala, itulah maha kebesaran Allah lalu mengapa kita tidak mengagungkan Allah dengan sebenar – benar pengagungan, pada hari kiamat bumi seluruhnya berada dalam genggaman Allah dan langit yang kokoh berada ditangan Allah Subhanahu wata’ala.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. Az-Zumar : 67).

Diakhir surah Anbiya Allah berfirman:

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya”. (QS. Al-Anbiya : 104).

Itulah kebesaran, kekuatan dan ilmu Allah Subhanahu wata’ala oleh karenanya setiap saat kita bertakbir “Allahu Akbar” maka semuanya menjadi kecil dihadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Bersambung: Riyadhussholihin “Muraqabatullah” Menjaga Batasan Allah Sesi 3

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.