mim.or.id – Dunia tempat kita hidup ini, penuh dengan kesenangan dan kenikmatan. Jika kita memberinya sedikit kecintaan, maka hati akan selalu condong padanya.

Padahal dalam perihal keimanan, kita harus mendahulukan akhirat dan dunia biarlah mengikutinya. Olehnya, jangan sampai masuk tipu daya dunia.

Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa idi radhiallahu anhu, ia berkata:

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia. Beliau lantas bersabda: ‘Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dengan sanad hasan).

Zuhud yang dimaksudkan yakni tidak hidup hanya untuk dunia semata. Memenuhi segala kebutuhan sesuai nafsu syahwat manusia. Menahan jiwa untuk selalu melihat secara ukhrawi. Tidak tamak dan dengki pada rezeki yang diperoleh orang lain, bahkan berlomba-lomba memamerkan harta dan posisi.

Saudaraku, hari ini kita masih berpijak di dunia, esok hari bukan di sini tempat tinggal kita. Carilah ridha ilahi dengan fokus mengumpulkan bekal akhirat dan tidak larut pada gemerlap dunia.

 

Penulis: Ustadzah Rosdiana AR, SPd.I., Lc. ,M.Pd. (Ketua Divisi Muslimah Markaz Imam Malik)

Sumber: harianamanah.com

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR