بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali ‘Imran: 133).

Diantara faedah yang bisa diambil pada ayat diatas bahwasanya di dalam Al-Qur’an untuk urusan akhirat kita disuruh untuk berlomba – lomba, adapun untuk urusan dunia kita jangan tergesa – gesa, oleh karena itu slogan yang mengatakan jangan tergesa – gesa itu benar dalam urusan dunia akan tetapi dalam urusan akhirat Allah menyuruh kita bercepat – cepat:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan”. (QS. Al-Baqarah: 148).

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jumu’ah: 09).

Ada kebiasaan pada sebagian orang ketika khutbah jum’at dibaca oleh khatib ia berbicara sambil merokok diluar masjid nanti ketika mau iqamah baru mereka masuk ke masjid.

Selalu kita meminta kepada Allah agar diampunkan dosa – dosa kita dan meminta ampun adalah perkerjaan umur setiap saat bukan cuma menjelang bulan suci Ramadhan atau pada saat pergantian tahun baru kemudian mengadakan acara dzikir akbar, muhasabah, taubat berjama’ah, dll.

Jadi taubat dilakukan setiap saat. Jika kita tidak mampu menyaingi orang – orang sholeh dalam ketaatan maka saingilah orang  – orang pendosa dengan banyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dalam riwayat disebutkan nanti dihari kiamat seseorang yang sering atau rajin beristighfar agar gembira dan senang ketika ia melihat pada catatan amalannya banyak tertulis ‘Astagfirullah‘.

Tidak ada dosa besar jika selalu dibarengi dengan istighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada dosa kecil jika terus ditumpuk, diremehkan, dipandang sebelah mata.  Jangan kita berkata:”Ini hanya dosa kecil dan akan berguguran ketika sholat“., jadi harus selalu beristighfar, siapa yang selalu lisannya beristighfar kepada Allah maka dimudahkan segala urusannya:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”. (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Jika bisnis kita yang lagi goyang atau pemasukan berkurang maka perbanyak istighfar agar semua yang menghimpit menjadi lapang bukan hanya itu bahkan diberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka – sangka, sisihkan waktu untuk duduk focus dirumah atau dimasjid beristighfar sampai 100 kali atau lebih dari itu, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam setiap hari beliau beristighfar 70 ampai 100 kali bahkan lebih dari itu padahal beliau adalah seorang Nabi yang telah diampunkan dosa – dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, adapun kita tidak ada jaminan, oleh sebab itu kitalah yang harus banyak beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka dari itu mari kita berlomba dalam kebaikan dan memperbanyak istighfar.

Diberikan Rezeki Dari Jalan Yang Tidak Disangka – Sangka

Semua manusia menginginkan rezekinya diberikan dari arah yang tidak disangka – sangka, jika Allah mau maka tidak ada yang mustahil, Allah Subhanahu wata’ala maha kaya, mungkin diantara kita pernah melihat dimedsos ada seorang penjual buah di Sudan dan tertulis digerobaknya:”Bagaimana mungkin saya takut akan kefakiran sedangkan saya ini adalah hamba yang memiliki dzat yang maha kaya“, orang yang seperti ini memiliki hati yang kaya, walaupun seseorang memiliki banyak uang direkeningnya atau barang – barang berharga dirumahnya tetapi hatinya miskin maka itulah miskin yang hakiki, adapun orang yang hidup pas-pasan ketika makan ada, beli pakaian ada tetapi kaya hati maka itulah kaya yang hakiki ini ditegaskan oleh Nabi dalam hadist:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati”. (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu Hurairah).

Dimasukkan ke Dalam Surga Yang Luasnya Seperti Langit dan Bumi Yang Disiapkan Untuk Orang-Orang Yang Bertakwa

Ciri – ciri mereka disebutkan dalam ayat selanjutnya dan ini jenis tafsir yang paling tinggi, jadi dalam ilmu tafsir dan Ulumul Qur’an pembagian tafsir bertingkat – tingkat, yang paling tingggi adalah tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqity memiliki kitab yang berjudul:’Adhwa’ Al-Bayan Fi Idhahi Al-Qur`an bi Al-Qur`an’ (Merupakan sebuah kitab yang berisi penafsiran Al-Qur`an dengan Al-Qur`an), jadi ayat ditafsirkan dengan ayat seperti dalam surah At Thariq begitu pula dalam surah Al-Qariyah, begitu juga surah Al-Fatihah yang dijelaskan didalam surah An Nisa, Al-Qur’an menafsirkan antara yang satu dengan yang lain seperti firman Allah :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al An’aam: 82). Sahabat berkata:”Ya Rasulullah, siapa gerangan diantara kita yang tidak pernah berbuat dzalim“, sahabat mengira bahwa ayat ini semua bentuk kedzaliman sehingga mereka berkata tidak ada yang aman ya Rasulullah, semua kita pasti pernah berbuat dzalim dan kita selalu melakukan kedzaliman, Nabi berkata:”Bukan yang seperti kalian fahami tidakkah kalian membaca perkataan hamba yang sholeh beliau membaca dalam surah Luqman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman : 13).Ini adalah contoh ayat menafsirkan ayat, Kedzaliman yang dimaksudkan oleh Nabi adalah kesyirikan.

Kemudian Ada Tafsir Ayat Dengan Sunnah Atau Hadist

Hadist Nabi adalah penjelas dari ayat – ayat Al-Qur’an seperti ketika Rasulullah menafsirkan ayat dalam Surah Al-Fatihah:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ

“Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7).

Beliau berkata:”Yang dimurkai adalah orang – orang yahudi dan yang sesat adalah orang – orang nasrani”, begitupula dalam ayat yang lain:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya”. (QS. Yunus :26). Rasulullah menafsirkan tambahan adalah memandang Wajah Allah Subhanahu wata’ala.

Tafsiran Ayat Al-Qur’an Dengan Perkataan Para Sahabat

Yang paling banyak diriwayatkan darinya adalah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana beliau pernah dioakan oleh Nabi agar mahir dalam ilmu tafsir, sehingga beliau pernah dimusim haji dipadang Arafah menafsirkan Al-Qur’an ayat per ayat beliau mengeluarkan kandungannya, versi bahasanya, faedahnya, tadabburnya, balaghanya sampai sahabat mengatakan:”Andaikan orang – orang Roma dan orang – orang Persia melihat Ibnu Abbas menafsirkan Al-Qur’an seperti ini maka mereka semuanya akan masuk ke dalam agama islam karena keindahan dan keagungan Al-Qur’an yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas”.

Tasfir Al-Qur’an Dengan Bahasa Arab

Ibnu Abbas pernah berkata:”Saya ketika hendak menafsirkan ayat Allah Subhanahu wata’ala tentang kata fathir dan dalam Al-Qur’an ada surah Fathir, saya tidak mengerti apa maksud dari fathir sampai saya mendengar ada 2 orang arab yang berselisih pada 2 sumur, salah seorang diantara mereka arab asli berkata:”Ana fathartu hasa bi’ir”,  artinya saya yang buat ini sumur”, jadi fathir adalah yang mencipta atau yang membuat.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Senin, 16 Sya’ban 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.