بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”. (QS. Qaf : 22).

Pada hari itu mereka baru melihat dan menyaksikan dengan nyata apa yang pernah mereka dengarkan selama didunia tentang hari kiamat atau hari akhirat, mereka berkata kami sudah melihatnya Ya Rabb dan Kami telah mendengarnya. Semuanya telah diangkat dan disingkap, dia sudah melihat malaikat, melihat kondisi dan keadaan dihari kiamat bahkan ia melihat hal tersebut sejak ia dalam keadaan sakratul maut berpindah dari alam ghaib ke alam syahadah. Oleh karenanya dalam keadaan sakratul maut ketika nyawa sudah sampai pada kerongkongan tidak lagi bermanfaat keimanan seseorang karena ia telah melihat secara langsung apa yang selama ini ghaib darinya. Inilah mengapa fir’aun ketika ditenggalamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala ditengah lautan ia baru berkata:

قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Berkatalah dia (Fir’aun):“Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Yunus : 90).

Fir’aun kemudian baru beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, jibril sampai menyampaikan kepada Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam:”Saya mengambil tanah atau pasir wahai Muhammad saya bergegas ke dasar lautan menutup mulut Fir’aun saya khawatir jangan sampai ia mendapatkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala”, Jibril tahu bahwasanya rahmat Allah sangat luas. Tidak bermanfaat sedikitpun keimanan Fir’aun karena ia telah berpindah dari alam ghaib ke alam syahadah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Yunus : 90).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا

“…. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya….”. (QS. Al-An’aam: 158). 

Kesempatan telah ditutup oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karenanya ketika orang beriman atau kaum muslimin dalam keadaan sekarat kita diperintahkan untuk mentalkin dan bacakan kalimat tauhid agar ia meninggalkan dunia ini dengan kalimat tauhid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ini pula yang beliau inginkan untuk pamannya Abu Thalib, adapun cara mentalkin tidak dianjurkan untuk mengatakan:”Ucapkan atau katakan lailaha illallah“, karena jangan sampai dalam kondisi dan keadaan dia sakratul maut ia berkata saya tidak mau maka ini bisa menimbulkan bahaya. Oleh karenanya lakukanlah dengan cara membisikkan:”Lailahaillallah”, tidak usah tambahkan kata ucapkan atau katakan tetapi dengan membisikkan Lailahaillallah, adapun jika ia telah mengucapkan:”LaIlahaillallah, maka berhenti”, nanti ketika ia mengucapkan perkataan lain seperti ucapan:”Mana mamaku, istriku, saudaraku”, maka kembali bisikkan:”Lailahaillallah”, mungkin sebagian diantara kita berkata:”Lalu bagaimana dengan paman Rasulullah yang ketika ditalkin:”Ucapkan Lailahaillallah”, ditambahkan dengan kata:”Ucapkan“. Jawabannya adalah karena paman Rasulullah pada waktu itu belum masuk islam sehingga Rasulullah menambahkan kata ucapkan dan inilah yang diinginkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pamannya.

Jadi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:”Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”. Sebagian ulama dan dzahir dari ayat ini menunjukkan atau menjelaskan bahwasanya ini merupakan perkataan khusus kepada orang – orang kafir walaupun sebagian ulama mengatakan:”Ini berlaku secara umum, baik orang kafir maupun orang yang beriman karena pada hari itu memang disingkap semua atau segala sesuatu yang ghaib dimana ia bisa melihat malaikat, ia bisa melihat apa yang pernah ia dengarkan dan baca ketika ia hidup didunia”. Pendapat yang lain:”Dikatakan pula kepada orang yang beriman agar kemudian ia merasakan penyesalan mengapa selama hidup didunia dia tidak maksimal mengerjakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala karena tidak ada perkara yang paling disesali oleh orang beriman pada hari kemudian melainkan sedetik waktunya yang berlalu tanpa ia isi dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Pada hari itu barulah ia melihat semua dan berharap agar dikembalikan ke dunia sesaat untuk beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala namun kesempatan itu telah ditutup oleh Allah Subhanahu wata’ala, oleh karena itu bersyukurlah Allah memberikan hidayah kepada kita dengan mengabarkan apa yang akan terjadi pada hari kemudian lewat ayat – ayat Al-Qur’an yang disampai oleh Rasulullah sehingga dengannya kita semakin mempersiapkan diri untuk menghadap dan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, disanalah kampung akhirat tempat kembali seluruh manusia. Sebelum berada di kampung akhirat terlebih dahulu kita berada di alam barsakh yang tidak satupun yang tahu berapa lama menunggu dan menanti sampai datangnya hari kiamat. Jika kita mengambil patokan dari zaman Rasulullah yaitu 1400 tahun yang lalu maka keberadaan mereka dialam barsakh selama 1400 tahun, hal ini menunjukkan penantian yang sangat panjang, salah seorang Syaikh bernama Syaikh Ahmad Isa Al Masrawi Hafidzahullah menuliskan dalam statusnya, beliau mengatakan:”Kita hidup didunia ini hanya puluhan tahun tapi kita hidup dialam barsakh kita tidak tahu berapa tahun lamanya, mungkin ratusan bahkan ribuan tahun, kondisi kita dialam barsakh ditentukan dengan puluhan tahun“.

Oleh karenanya bersabarlah pada puluhan tahun yang kita lalui didalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, keberadaan kita didunia adalah untuk diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala, kondisi ketika kita berada dalam sakratul maut juga ditentukan dengan kondisi kita sekarang didunia ini. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan didalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:”Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:”Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS Fushilat : 30).

Ketika ia dalam keadaan sakratul maut malaikat berkata kepadanya jangan takut dengan kematian yang ada didepan matamu (secara tabiat semua kita takut mati), jangan sedih dengan dunia yang akan engkau tinggalkan, istrimu yang akan menjadi janda, anakmu yang akan menjadi yatim, hartamu yang akan dibagikan kepada ahli warismu jangan bersedih bergembiralah dengan surga.

Sehingga pada saat itu andaikan ia diberi pilihan antara tinggal didunia atau kembali kepada Allah setelah ia mendapatkan kabar gembira maka ia lebih memilih untuk kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Syaikh Abdurrahman as Sa’diy Rahimahullah berkata:”Dikatakan perkataan ini kepada orang yang mendustakan ayat – ayat Allah dihari kemudian sebagai bentuk hinaan kepada mereka, engkau mendustakan ini dulu, engkau meninggalkan amalan – amalan sholeh untuk hari yang seperti ini adapun sekarang kami mengangkat penutup itu darimu yang menutupi hatimu, tidurmu terlalu banyak dan engkau terus-menerus berada dalam kelalaian pada hari itu“, ia telah melihat azab yang disiapkan untuknya.  Atau perkataan ini merupakan seruan dari Allah Subhanahu wata’ala kepada seorang hamba yang mana ketika ia hidup didunia ia berada dalam kelalaian dan ia lupa untuk apa ia diciptakan didunia ini, dia diciptakan didunia untuk beribadah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku”. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56).

Namun dihari kiamat nanti dia baru sadar dimana ia tidak mampu dan tidak ada kesempatan yang diberikan kepadanya untuk bisa kembali ke dunia, kesempatan sudah tertutup, semua ini adalah cara Allah Subhanahu wata’ala untuk mempertakut – takuti hambanya: Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Pada hari itu hari ketika tidak ada seorang pun terdzalimi disisi Allah”, Orang – orang kafir berkata:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun”. (QS. Al-Kahfi: 49).

Barulah ia melihat dosa – dosa kecil yang pernah ia kerjakan sehingga membuat ia kaget  belum lagi dengan dosa yang besar dan ini juga perhatian bagi kita agar tidak meremehkan dosa – dosa kecil karena semuanya tercatat disisi Allah Subhanahu wata’ala dan “Sesungguhnya gunung yang tinggi berasal dari tumpukan batu – batu kerikil yang kecil”.

Sebelum kesempatan ini dicabut oleh Allah mari muhasabah diri – diri kita dan mengevaluasi apa yang kita telah kerjakan, mari kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al-Hadid : 16).

Perbanyak istighfar, amalan-amalan sholeh semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuni dosa – dosa kita dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah, insyaAllah.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 19 Syawal 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR