بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diawal kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan beberapa ayat setelah beliau menyebutkan kitab tauhid, beliau memulai dengan firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Az-Zariyat : 56).

Mengapa jin didahulukan..? karena jin lebih dahulu diciptakan dari pada manusia, jin diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dari api,

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas”. (QS. Al Hijr : 27).

Jadi tujuan diciptakan jin dan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah dan mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala, Jin adalah makhluk yang berada di alam yang ghaib yang tersembunyi dan tidak bisa dilihat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al-A’raf : 27).

Ada yang mengatakan Iblis dari bangsa Jin, seperti adam buat manusia, disebut Iblis karena ia telah berputus asa dari Rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan pantas ia berputus asa dari Allah karena ia telah divonis oleh Allah Subhanahu wata’ala termasuk penghuni neraka.

Al-Jin berasal dari rangkaian huruf – huruf yang jika dirangkai menunjukkan sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat seperti Al-Jannah (bumi yang diselimuti oleh gelapnya malam sehingga tidak bisa terlihat), Al-Junnah (Perisai atau tameng, seseorang ketika berperang menggunakan tameng atau perisai untuk bersembunyi atau berlindung darinya), Al-Janin (Bayi yang berada dalam rahim ibu) , Al-Majnun (Orang gila, disebut orang gila karena akalnya tersembunyi dan tidak berfungsi).

Al Ins (manusia), disebut dengan Al Ins karena manusia tidak bisa hidup kecuali bersama dengan manusia yang lain, dia merasa kesepian jika sendiri. Tabiatnya selalu ingin bersama dengan sesamanya manusia. Mereka bersosialisasi untuk hidup bersama dengan orang lain dan mereka bergerak dari yang satu ke yang lain, mereka bermuamalah, berinteraksi, mereka adalah makhluk sosial, mereka tidak bisa berlepas dari saudaranya sehingga disebut dengan Al Ins.

Seluruh manusia diberi oleh Allah Subhanahu wata’ala yang disebut dengan Al-Aql (Akal) Al-Aqli adalah ikatan, mengapa disebut akal karena akal mengikat pemiliknya, adapun orang yang tidak berakal ia berbuat semaunya atau tidak ada ikatan, tetapi orang yang masih menggunakan akalnya maka ia tidak melabrak aturan, didalam Al-Qur’an Allah berfirman:”Apakah kalian tidak berakal”,

هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ

“Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal”. (QS. Al-Fajr : 5).

لِذِي حِجْرٍ

Artinya yang memiliki akal, mengapa disebut dengan

لِذِي حِجْرٍ

karena merupakan sesuatu yang dibatasi sebagaimana dengan hijr ismail di ka’bah musyarrafah karena ini adalah tempat yang dibatasi yang merupakan bagian dari bangunan ka’bah dan seseorang tidak boleh tawaf didalamnya sehingga disebut dengan hijr ismail. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada salah seorang sahabat:”Hendaknya dekat denganku orang yang sudah baligh dan orang yang memiliki akal”. Disebut ulunnuha adalah ulul aqli karena akal itu melarang atau mencegah ia dari keburukan. Olehnya Allah Subhanahu wata’ala menciptakan jin dan menciptakan manusia karena ada tujuan yaitu untuk beribadah kepada Allah sehingga diberikan kepadanya akal, fikiran yang dengannya ia bisa membedakan antara yang haq dengan yang bathil, yang baik dan yang buruk namun tidak cukup hanya dengan itu maka diutus ditengah – tengah mereka Rasul karena akal semata tidak cukup, bahkan banyak yang tersesat karena akalnya, dimana dia menganggap dirinya cerdas sampai ia mengkritisi syariat Allah Subhanahu wata’ala, orang – orang kafir Quraisy adalah orang – orang yang cerdas tetapi didalam Al-Qur’an mereka disifatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan sufaha (Orang bodoh) mengapa..? karena mereka tidak menggunakan akalnya, mereka cerdas dan memiliki akal tetapi mereka tidak mengikuti hidayah yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, makanya cahaya akal tidak cukup, harus ditambah dengan cahaya yang lain dan inilah makna dari firman Allah Subhanahu wata’ala:

نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ

Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis)”, (QS. An-nur 35) maksudnya cahaya akal yang Allah berikan kepada setiap manusia kemudian diatasnya ada cahaya yang lain yaitu hidayah dan petunjuk dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kepada mereka kitab yang menjadi petunjuk bagi orang – orang yang bertakwa, olehnya pada hari kiamat nanti Allah Subhanahu wata’ala memaafkan orang – orang yang tidak berfungsi akalnya, seperti orang gila atau orang yang tidak berfungsi akalnya dengan baik mereka tidak terbebani dengan syariat , juga orang yang tidak sampai kepadanya Rasul atau tidak sampai kepadanya kitab Allah Subhanahu wata’ala, Allah berfirman:

Kami tidak menghukum mereka kecuali setelah mengutus rasul ditengah – tengah mereka”, orang tuli yang tidak bisa mendengar dengan baik dalam riwayat disebutkan ia bisa menjadikan udzur dihadapan Allah pada hari kiamat jika  menjadi penghalang baginya untuk sampai kebenaran walaupun ia bisa menggunakan wasilah dan sarana yang lain seperti penglihatannya untuk membaca akan tetapi jika dia tuli ditambah lagi buta ini bisa mendapatkan ampunan atau ujian secara khusus nanti pada hari kiamat dihadapan Allah Subhanahu wata’ala, inilah keadilan Allah Subhanahu wata’ala.

Allah tidak hanya menciptakan kita begitu saja sebagaimana firmannya didalam Al-Qur’an:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?”. (QS. Al-Qiyamah : 36).

Allah menciptakan manusia dan memberikan kepadanya akal serta menurunkan kepada  mereka kitab, mengutus ditengah – tengah mereka Rasul, Allah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS. Al-Insan : 3).

Tentu manusia tidak sama dengan hewan dan binatang, hewan – hewan dan binatang pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. (QS. Al-An’am : 38).

Mungkin ada yang bertanya apa hikmah dibangkitkannya hewan atau binatang.? dijelaskan oleh Rasulullah ketika ada hewan yang bertanduk pernah mendzalimi hewan yang tidak bertanduk maka akan dibangkitkan pada hari kemudian untuk di qishas  setelah di qishas Allah berkata kepada hewan – hewan tersebut :”Jadilah engkau tanah”, maka tentu tidak dimasukkan ke dalam surga dan neraka akan tetapi dijadikan tanah, pada saat itulah ketika hewan – hewan ini menjadi tanah dengan kekuasaan Allah dilihat oleh orang – orang kafir, adapun orang kafir mereka ketika didunia mendustakan hari berbangkit dan ketika mereka dibangkitkan pada hari kemudian barulah ia mengingat semua apa yang pernah ia dengarkan didunia bahwasanya ada hari berbangkit, hisab, timbangan dan jika sudah dibangkitkan berarti apa yang mereka ingkari seperti surga dan neraka pasti ada, olehnya ketika ia melihat dirinya termasuk orang yang pasti celaka kemudian ia melihat hewan – hewan itu dijadikan tanah oleh Allah Subhanahu wata’ala mereka berkata sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (QS. An-Naba : 40).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ ۚ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَىٰ وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah:”Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Qasas : 85).

Kita hidup didunia ini dan diciptakan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk beribadah kepadanya, mentauhidkannya dan semua ini akan kita pertanggungjawabkan pada hari kemudian.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR