Zuhud Bukan Kumuh Nan Kusut


Saudariku muslimah, jika kau pahami hari ini zuhud dengan kesederhanaan maka itu tepat. Saat kau mampu bermewahan tapi memilih sederhana maka itulah zuhud. Yang perlu kau pahami berikutnya adalah sederhana tiap orang bersifat relatif. Dilihat dari mana? Dari jumlah penghasilan, lingkungan hidup, selera, kemampuan financial, dll.

Lalu bagaimana menentukan bahwa kita tidak keluar batas zuhud? Kembali ke kaidah standar berkehidupan, berpakaian, berperilaku.

Pakaian contohnya, bukankah sudah ada syarat dan sifat berhijab? Tidak, jangan mengatakan semua muslimah yang berpenampilan indah: gamisnya mahal, yang hijabnya impor-misalnya-, itu boros, tidak zuhud, tidak sunnah, dll. Itu perlu aturan dan kesabaran untuk menilai.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi kita contoh dalam berpakaian, misalnya. Beliau menyesuaikan pakaiannya dengan kondisi dan tempat beliau berada. Beliau menyukai keindahan, dan tidak mengenakan pakaian robek, kusut, dll.

Terdapat dalam sunnah dan atsar yang teramat banyak tentang baju atau pakaian yang dahulu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengenakannya. Di antara hadits-hadits tersebut adalah sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengenakan pakaian yang sederhana dan lumrah dipakai oleh kaumnya, beliau tidak pernah menolak apa yang sudah ada dan mempersulit diri mencari-cari yang tidak ada, tidak mengenakan pakaian yang berbeda dengan manusia pada umumnya serta tidak terbatas dengan satu macam jenis kain saja. Bahkan beliau mengenakan semua jenis atau semua macam kain kecuali kain yang terbuat dari sutra. Bahkan di antara macam-macam pakaiannya ada bersifat menutup sekaligus indah.(-https://islamqa.info/id/126692)

Khusus muslimah, ingat syaratnya. Menutupi aurat, bukan syuhrah(pakaian kebesaran/ingin terkenal), tidak transparan, tidak harum semerbak(tapi juga hindari bau badan tak sedap), tidak tabarruj(penuh hiasan, warna mencolok, ada gambar hidup). (https://rumaysho.com/163-pakaian-yang-mesti-engkau-pakai-saudariku.html)

Selama syarat terpenuhi, maka jangan serta merta di hari ini menilai pakaian saudari kita “tidak zuhud”.
Adapun menyederhanakan maka itu afdhal. Tidak semua kondisi kita sama, lingkungan kita berbeda, maka jadilah muslimah yang selalu berpegang pada prasangka indah, jika belum mampu berpribadi indah.


Ummu Faari’ AR

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR