بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keutamaan Pahala Jariyah

Disebutkan di dalam hadits shahih dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i).

Ketiga amalan ini akan terus mengalir walaupun ia berada didalam kuburan atau dialam akhirat , oleh karenanya jangan pernah berhenti menebar kebaikan terutama kebaikan yang dapat bermanfaat untuk orang lain.

Ulama kita mengatakan:”Ibadah yang manfaatnya tersebar ke orang lain itu lebih afdhal dari ibadah yang manfaatnya dirasakan oleh orang yang melakukan ibadah itu sendiri”.

Imam Syafi Rahimahullah mengatakan:”Menuntut ilmu, muraja’ah diwaktu malam, mengkaji masalah – masalah fiqiyah dan agama itu lebih afdhal dari pada Qiyamullail”,  beliau menjelaskan betapa besarnya keutamaan ibadah yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang lain.

Menuntut ilmu selain mengangkat kejahilan yang ada pada diri seseorang ia juga mengangkat kejahilan dari orang lain adapun Qiyamullail itu bermanfaat untuk dirinya secara khusus.

Kita harus bersungguh – sungguh dalam meninggalkan dosa jariyah yang kelak akan kita rasakan keburukannya setelah kita meninggal, Dosa Jariyah yang kita kerjakan ketika kita meninggal tidak mampu lagi menambah kebaikan dan tidak mampu lagi mengurangi keburukan lembaran hidup yang telah ditutup oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Yang kita persembahkan didunia ini itulah yang akan kita dapatkan kelak dihari kemudian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist bahwasanya ia  melihat seseorang yang bersenang – senang disurga disebabkan karena ranting atau dahan yang mengganggu jalan setiap orang yang lewat ia kemudian hilangkan dan karena itulah ia dimasukkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kedalam surga karena itu merupakan amal jariyah yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain.

Begitu pula dengan sedekah membangun masjid atau mengajarkian ilmu kepada orang yang lain atau amalan -amalan yang lain yang tujuannya bermanfaat untuk orang lain.

Salah seorang tabi’in pernah mengajar anak – anak para syabab, pemuda dan orang lain membaca Al-Qur’aan dimasjid kurang lebih 40 tahun lamanya ketika beliau ditanya apa yang membuat anda begitu sabarnya untuk duduk dimasjid mengajar orang membaca Al-Qur’an kurang lebih 40 tahun beliau kemudian berkata dengan membawakan hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu berkata:“Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya”. (HR. Bukhari).

Sebagai contoh disetiap pengajian kita sering menyebutkan nama Sahabat dan salaf selalu di iringi dengan Radhiyallahu ‘anhu atau Rahimahullah setiap kita ucapkan maka akan terus mengalir dan akan menjadi amalan jariyah baginya walaupun ia telah meninggal dunia tetapi seakan akan hidup ditengah – tengah kita dan terus kita mendoakannya dan mereka akan mendapatkan itu didalam kubur – kubur mereka.

Jika orang tua kita telah meninggal jangan lupa menyelipkan doa untuk kedua orang  tua, karena bakti kepada kedua orang  tua setelah mereka meninggal sangatlah mereka butuhkan, dibandingkan ketika mereka masih hidup, pada saat mereka masih hidup mereka bisa sholat, berpuasa, berzakat dan bersedekah bahkan andaikan mereka sakit tidak mampu mengerjakan semuanya masih banyak ibadah yang bisa ia lakukan diatas pembaringan, adapun mereka ketika telah meninggal maka terputus amalan mereka adapun kita sebagai anak yang sholeh setelah mereka meninggal maka kita doakan mereka.

Disebutkan dalam riwayat ada seorang lelaki mendapatkan pahala yang begitu besar seperti gunung ketika mereka bertanya:”Dari mana pahala sebanyak ini padahal saya tidak pernah mengerjakan amalan sebanyak ini maka“, dikatakan kepadanya:”Ini adalah permohonan ampun anakmu untukmu”.

Diantara amal jariyah adalah memberikan contoh yang baik kemudian diikuti oleh orang lain maka kita akan mendapatkan pahala darinya tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun atau mengajak orang kepada kebaikan, barangsiapa yang menjadi sebab acara pengajian terlaksana maka ia akan mendapatkan amal jariyah dari seluruh yang hadir tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun disebutkan dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”. (HR. Muslim no. 1893).

Jangan zuhud menshare kebaikan  karena media diibaratkan seperti pedang yang memiliki 2 mata yang tajam bisa untuk hal yang positif atau yang negatif adapun yang positif sebarkan, boleh  jadi ada orang yang membaca yang kita share kemudian hatinya terbuka mendengarkan nasehat kemudian hatinya tergugah dia bertaubat dan kembali kepada Allah maka kita akan mendapatkan pahalanya tanpa kita sadari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadist:”Saya berjalan untuk menunaikan hajat saudaraku itu lebih aku sukai daripada i’tikaf dmasjid”, karena menunaikan hajat saudara kita adalah amalan jariyah.

Bahaya Dosa Jariyah

Dosa Jariyah adalah dosa yang mengalir walaupun kita telah meninggal dunia dimana ketika kita meninggal dunia maka ditutup lembaran kehidupan kita namun seakan akan kita masih mengerjakan dosa tersebut, inilah dosa jariyah yang terus menerus berlanjut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Dan siapa yang melakukan satu sunnah yang buruk lalu diamalkan (orang lain) sepeninggalnya, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah itu sepeninggalnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR. HR. Muslim).

Dalam hadist riwayat Imam Muslim Rahimahullah:

مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ اْلأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا، ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Tidak ada satu pun jiwa yang terbunuh secara zalim melainkan atas Ibnu Adam yang pertama bagian dari darahnya. Karena dialah yang mula-mula melakukan sunnah (tuntunan/ contoh)pembunuhan“. (HR. Al-Bukhari (2/79) dan Muslim (3/1303)

Membunuh jiwa tanpa hak termasuk dosa besar sebagaimana dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Dan barangsiapa membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allâh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya“. (QS. An-Nisa`:93).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (HR al-Bukhari, no. 2615, 6465; Muslim, no. 89).

Kisah Pembunuhan Habil dan Qabil yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.”

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah (Habil). Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal“. (QS. Al-Maidah: 27-31)

Suatu hari Habil terlambat pulang kerumah,  Adam ‘Alaihissalam berkata kepada Habil coba cari saudaramu mengapa jam segini belum pulang, akhirnya ia pergi mencari lalu ia mendapati saudaranya terlentang, tertidur disebuah tempat yang terbuka, ia kemudian mengatakan:”Ini kesempatakan saya untuk melampiaskan dendam saya”, Habil mengambil batu besar kemudian dia hantamkan pada kepala saudaranya sehingga saudaranya meninggal dalam seketika”, inilah kisah pembunuhan pertama yang terjadi dan darah yang tumpah pertama kali didunia, inilah yang disebutkan dalam hadist Rasulullah diatas mencontohkan bagaimana cara membunuh.

Faedah dari kisah ini adalah bahwasnya mencontohkan sebuah keburukan atau menjadi sebab seseorang terjatuh dalam sebuah keburukan maka kita akan mendapatkan setiap bagian dosa darinya.

Dalam kisah yang lain yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu tentang seorang lelaki dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya dalam neraka dengan  menyeret ususnya, dia adalah lelaki yang pertama kali membawa berhala ke jazirah arab, ia bernama Amar Ibnu Luhai.

Sebelumnya penduduk makkah berada diatas millah ibrahim, Amar Ibnu Luhai al khuzai ia termasuk  orang yang kaya banyak membantu dan memberi makan kepada orang, ia  berangkat ke negeri syam dan ketika berangkat ke negeri syam ia melihat orang – orang yang ada disana menyembah berhala, ia kemudian bertanya:”Apa yang kalian lakukan”, mereka kemudian menjawab:”Berhala – berhala inilah yang mendekatkan diri kami kepada Allah, sehingga menjadi sebab kita diberi makan, minum dan rezeki”, Amar kemudian berkata:”Kalau begitu berikan kepada saya satu”, akhirnya ia diberikan satu berhala yang bernama Hubal, berhala inilah ia bawa ke makkah kemudian ia letakkan di dekat ka’bah, maka mulailah kesyirikan terjadi sehingga penduduk makkah mulai mencontoh apa yang dicontohkan oleh Amar Ibnu Luhai, sehinga setelah fathul makkah Rasulullah menghancurkan lebih 300 berhala, Amar Ibnu Luhai mengubah syariat Ibrahim ‘Alaihissalam bahkan dalam pelaksanaan ibadah haji yang sebelumnya jama’ah haji tawaf disekeliling ka’bah sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika orang kafir Quraisy ditanya:”Mengapa engkau menyembah berhala – berhala itu”, mereka kemudian berkata:”Tidaklah kami menyembah berhala – berhala itu melainkan untuk mendekatkan diri kami kepada Allah Subhanahu wata’ala”, makanya tidak ada bedanya dengan orang – orang yang datang kekuburan kemudian meminta kepada penghuni kubur atau datang ke tempat tertentu yang ia anggap keramat kemudian ia mengatakan inilah yang mendekatkan kami kepada Allah, inilah hujjahnya orang – orang kafir yang pertama. Amar Ibnu Luhai mendapatkan siksaan yang pedih karena dialah yang mencontohkan kesyirikan kepada penduduk jazirah arab.

Jadi siapa yang mencontohkan, mensponsori, atau yang menjadi pelopor kemaksiatan kemudian di ikuti oleh orang lain maka iapun ikut menanggung dosanya, begitu banyak keburukan yang terjadi karena mencontoh keburukan antara satu dengan yang lainnya. Diantara salah satu contohnya adalah pesta pernikahan yang didalamnya menggunakan  orkes  lalu berjoget diatas panggung, setengah telanjang disaksikan oleh banyak orang, sehingga dengan adanya pernikahan yang tidak sesuai syariat ini banyak kemudian yang mengikuti dan mencontohkannya, hampir setiap pernikahan  menggunakan musik dengan menghadirkan penyanyi yang setengah telanjang sehingga setiap yang menyaksikan dan mencontohnya maka dosanya akan mengalir kepada orang yang mengadakan acara, yang mendanai, yang menjadi pelopor serta yang mendatangkan musik dan penyanyi biduwanita, oleh karenanya jangan mencontohkan sebuah keburukan karena kita akan menanggung dosa jariyah dari setiap apa yang kita contohkan kepada orang lain walaupun setelah kita meninggal dunia.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu“. (QS. An Nahl : 25).

Ini adalah kebangkrutan yang sangat luar biasa karena ia menjadi pelopor dan sponsor dan menjadi sebab keburukan terjadi dan juga dosa – dosa yang lain termasuk kebid’ahan apalagi kesyirikan dan semua yang hadir ditempat  tersebut  mendapatkan dosa dan mengalir pula dosa tersebut kepada orang yang menjadi sebab kemaksiatan itu terjadi.

Oleh karenanya jangan meninggalkan dosa jariyah yang akan terus mengalir kepada kita yang setiap hari bertambah dan bertambah hingga bertumpuk – tumpuk sampai kemudian dihari kiamat kita memikul dosa jariyah tersebut dihadapan Allah Subhanahu wata’ala .

Bahaya Dosa dan Maksiat 

Dosa dan kemaksiatan adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi diri kita tidaklah bapak kita Adam ‘Alaihissalam dan ibu kita Hawwa terusir dari surga disebabkan karena satu dosa yang mereka kerjakan, akhirnya dengan satu dosa tersebut mereka dikeluarkan dari surga walapun pada akhirnya mereka bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berdoa:

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” Allah berfirman, “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. (QS. Al-A’Raf: 7: 23-24)

Diantara faedah agar doa kita diijabah oleh Allah Subhanahu wata’ala Yaitu adukan kepada Allah Subhanahu wata’ala kondisi dan keadaan kita sebagaimana Adam ‘Alaihissalam dalam doa diatas begitu pula dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat membutuhkan setiap kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashas: 24). Beliau menampakan kondisi dan keadaannya.

Doa Nabi Ayyub ‘Alaihissalam:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiya : 83).

Doa Nabi Zakarya ‘Alaihissalam:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6)

Ia berkata “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (yang mewarisiku) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Rabbku, seorang yang diridhai”. (QS. Maryam: 4-6).

Ini adalah rahasia agar doa kita di ijabah oleh Allah Subhanahu wata’ala bahkan Ya’qub ‘Alahissalam dalam doanya ia mengatakan:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُوْ بثّيْ وَ حُزْنِيْ إِلَى اللهِ

Dia (Ya’qub) menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. (QS Yusuf: 86). Adukan keadaan dan kondisi kita dalam berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala mengabulakn doa – doa kita sebagaimana para Nabinya.

Khawatirlah Semua Dosa Ummat Terdahulu Terjadi dizaman ini

Yang menjadi kekhawatiran kita karena hampir semua dosa ummat  terdahulu yang khas dalam suatu negri yang dengannya dihukum oleh Allah hampir terkumpul dizaman kita sekarang sebagaimana salah satu contoh hukuman yang diturunkan kepada kaum Luth. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi“. (QS. Hud : 82)

Inilah hukuman kaum sodom yang suka sesama jenis yang mana saat ini adalah sebagian manusia yang mau melegalkan dan di pertontonkan, hal ini merupakan musibah kebinasaan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Dalam musnad Imam Ahmad Dari Umar Ibnu Khattab disebutkan bahwasanya lautan setiap hari meminta izin kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk menenggelamkan anak cucu Adam karena kemaksiatan yang mereka lakukan namun Allah masih menahan. Oleh karenanya mari kita memperbaharui tobat – tobat kita kepada Allah Subhanahu wata’ala karena kemaksiatan bisa menghilangkan keberkahan hidup bahkan keberkahan umur, ilmu dan keberkahan rezeki.

Ketika Imam Syafi Rahimahullah pertama kali bertemu dengan Imam Malik Rahimahullah dan Imam Malik takjub dengan kecerdasan Imam Syafi dengan hafalannya , kefasihannya. Imam Malik kemudian dengan firasatnya mengatakan:”Wahai anak muda saya melihat kepada dirimu cahaya ketaatan jangan engkau memadamkannya dengan kemaksiatan, saya melihat pada dirimu cahaya ilmu jangan engkau memadamkannya dengan kemaksiatan“.

Pernah suatu ketika Imam Syafi mengadukan buruk hafalannya kepada gurunya Abu Waqi Ia mengatakan:”Saya mengadukan kepada Waqi buruknya hafalanku dan beliau memberikan nasehat kepadaku agar meninggalkan kemaksiatan karena ilmu adalah cahaya dan cahaya itu tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala”, dalam akhir ayat yang panjang dalam surah Al-Baqarah Allah mengatakan :”Bertakwalah kalian kepada Allah niscaya Allah akan mengajarkan kepadamu ilmu”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:”Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya.(HR. Ahmad dan Thabrani)

Abdullah Ibnu Mubarak Rahimahullah pernah mengatakan:”Jika saya melihat perubahan pada akhlak keluarga istri atau kendaraan saya yang sulit untuk dikendalikan maka saya banyak beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala”.

Ada salah seorang salaf melihat muridnya memandnag yang haram ia kemudian berkata:”Engkau akan melihat akibat pandangan yang haram ini walaupun setelah waktu yang lama”, dan ternyata setelah 40 tahun hilang hafalan Al-Qur’annya.

Mari kita perbanyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala karena dosa yang kita kerjakan akan menjadi penghalang diturunkannya rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan sebaliknya semakin kita banyak beristighfar kepada Allah maka akan diturunkan keberkahan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

Mohonlah ampunan pada Tuhanmu sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit , Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu“. ( QS. Nuh: 10-12).

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 25, Ramadhan 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.