بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Subhanahu wata’ala berfriman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. (QS. Al Hujarat : 13).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah“. (QS. Az-Zariyat : 49).

Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

جميع المخلوقات أزواج: سماء وأرض، وليل ونهار، وشمس وقمر، وبر وبحر، وضياء وظلام، وإيمان وكفر، وموت وحياة، وشقاء وسعادة، وجنة ونار، حتى الحيوانات [جن وإنس، ذكور وإناث] والنباتات

Setiap makhluk itu berpasang-pasangan. Ada matahari dan bumi. Ada malam dan ada siang. Ada matahari dan ada rembulan. Ada daratan dan ada lautan. Ada terang dan ada gelap. Ada iman dan ada kafir. Ada kematian dan ada kehidupan. Ada kesengsaraan dan ada kebahagiaan. Ada surga dan ada neraka. Sampai pada hewan pun terdapat demikian. Ada juga jin dan ada manusia. Ada laki-laki dan ada perempuan. Ada pula berpasang-pasangan pada tanaman.”

Ada sebuah kisah nyata yang pernah terjadi di arab saudi kisah yang menakjubkan yang diceritakan oleh salah seorang syeikh, beliau mengatakan:” Ada seorang wanita bersaudara ( adik kakak), kakaknya menikah dengan seorang pemuda yang sholeh namun setelah menikah tidak lama kemudian mereka bercerai dan mereka berpisah“.

Namun selang beberapa waktu dan bulan kemudian pemuda tersebut kembali menemuinya dengan tujuan untuk melamar adiknya, mendengar hal tersebut adiknya kemudian terkejut dan penghuni rumah juga terkejut,

Adiknya dengan rasa terkejut menyampaikan kepada kakaknya, kemudian kakaknya berkata:”Terima lamarannya wahai adikku dia lelaki yang baik dan sholeh”, adiknya kemudian dengan keheranan bertanya kepada kakaknya”:”lalu kenapa kalian bercerai.?”, kakaknya menjawab:”Itu adalah rahasia kami berdua, tapi terimalah dia karena dia adalah lelaki yang baik”, akhirnya lamaran pemuda tersebut diterima dan menikahi adiknya dan diberi keturunan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak lama kemudian datang seorang lelaki yang lain menikahi kakaknya dan semua kehidupannya sakinah mawaddah warahmah.

Hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas adalah seorang suami istri apabila telah bercerai maka jangan melupakan kebaikan diantara keduanya dan hendaklah diantara keduanya menceritakan kebaikan yang pernah ia jalani sebelum keduanya bercerai dan jangan saling menceritakan keburukan antara keduanya, sebuah kisah yang lain yang bisa kita mengambil pelajaran didalamnya dimana kisah ini mengajarkan kepada kita agar tidak menceritakan aib (keburukan) yang ada pada pasangan suami istri pada saat sebelum bercerai dan setelah terjadi perceraian.

Ada salah seorang salaf jika memiliki masalah dengan istrinya orang kemudian datang bertanya kepadanya :”Apa masalahmu.?, kenapa istrimu.?”, ia kemudian mengatakan:” Tidak mungkin saya akan menyebarkan aib istri saya”.

Setelah ia menceraikan istrinya, orang kemudian datang dan berkata:”Mengapa  engkau ceraikan istrimu, ada apa dengannya?“, Ia kemudian mengatakan:”Sedangkan pada saat dia masih menjadi istri saya, saya tidak menceritakan keburukannya, apa lagi ketika dia menjadi orang lain, bukan lagi menjadi istri saya, maka saya harus lebih menutup aibnya”.

Demikianlah kisah yang menakjubkan diatas semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah tersebut tentang pentingnya untuk tidak menceritakan aib sesama kaum muslim terkhusus menceritakan aib suami istri, dan hendaklah menceritakan kebaikan diantara sesama muslim begitu pula suami istri agar kebaikan yang kita ceritakan bisa membuat seseorang untuk mengerjakannya jika kebaikan tersebut berhubungan dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa , 17 Rabiul Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.