بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahmi”. (HR. Al-Bukhari no. 5986).

Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan akan dilapangkan rezkinya bagi yang menyambung silaturrahim , mungkin diantara kita ada yang bertanya:”Bukankah rezki telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala begitu pula dengan ajal ?”.  untuk menjawab pertanyaan tersebut sebagaimana perkataan seorang ulama. Berkata Ibnu Allan dalam syarah riyadusshalihin berkata Ibnu Tin Rahimahullah :”Nampaknya dzahir dari hadist ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wata’ala:

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ

Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya. (QS. Al-A’raaf: 34). Akan tetapi tidak mungkin ayat berkontradiksi dengan hadist Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh karenanya beliau mengatakan:”untuk mengumpulkan 2 nash yang shahih tersebut maka ada 2 penjelasan dikalangan para ulama kita:

  1. Tambahan umur yang terdapat dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kinayah (kiasan) dari keberkahan umur yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada hamba tersebut  disebabkan petunjuk dan taufiq dari Allah Subhanahu wata’ala untuk ia taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, jadi walaupun umurnya pendek namun jika ia senantiasa menyambung hubungan silaturrahim maka umur yang pendek akan berberkah seakan ia menjadi panjang karena umurnya ia habiskan diatas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan Allah Subhanahu wata’ala memberi petunjuk dan taufik kepadanya untuk mengisi waktu – waktunya dengan perkara – perkara yang memberi manfaat untuknya yang bisa semakin mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Hal ini diperkuat dengan perkataan beliau bahwasanya Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan umur ummatnya semakin berkurang dibandingkan dengan umur ummat – ummat terdahulu  yang dipanjangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, kata Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam umur ummatku berkisar antara 60 – 70 tahun dan sedikit yang melampaui batasan tersebut. Adapun ummat – ummat terdahulu dipanjangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana Nabi Nuh ‘Alaihissalam:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim“.(QS. Al Ankabut: 14). Jadi umur Nabi Nuh sebanyak 950 tahun. Oleh karenanya ummat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun umurnya singkat namun umurnya diberkahi oleh Allah Subhanahu wata’ala melalui amalan sholeh yang dilipatgandakan ganjarannya disisi Allah Subhanahu wata’ala yang mana ummat – ummat terdahulu tidak mendapatkannya seperti dalam bulan Ramadhan malam lailatur Qadr yang keutamaannya seakan akan beribadah selama 1000 bulan begitupula dengan amalan sholeh lainnnya.

Pernah salah seorang sahabat melihat 2 orang sahabat yang meninggal dan yang ia lihat dalam mimpinya orang yang kedua lebih dahulu dimasukkan kedalam surga padahal meninggalnya biasa dari pada orang yang pertama meninggal dalam perang jihad kemudian ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukankah ditangguhkan umurnya  selama setahun kemudian dia sholat didalamnya kemudian dia beribadah didalamnya dan berjumpa dengan bulan suci ramadhan sehingga kedudukannya diangkat disisi Allah Subhanahu wata’ala  apa lagi ia berjumpa dengan malam lailatul Qadr.

Jadi ini merupakan penjelasan ma’nawi bahwa tambahan umur dan rezki yang disebutkan oleh Nabi Shalllallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist adalah keberkahan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada umur dan rezkinya, dia diberikan Qana’ah (merasa cukup) karena ketaatannya dan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana hadist qudsi Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

Wahai anak adam perbaiki ibadahmu kepadaku saya akan memenuhi hati – hati diantara kalian dengan kekayaan dan saya akan menutupi kefakiran dan kemiskinanmu jika tidak saya akan menjadikan engkau sibuk terus tapi kefakiranmu saya tidak akan tutupi”. Walaupun hartanya bertambah ia merasa kurang dan miskin sebagai tanda bahwa hartanya tidak diberkahi oleh Allah Subhanahu wata’ala  sedangkan harta yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wata’ala walaupun sedikit terasa begitu banyak dan cukup untuk suatu keperluan dan kebutuhan.

  1. Ditambahkan hartanya secara hakiki begitupula reskinya ditambahkan secara hakiki, beliau menjelaskan bahwa perbuatan telah tertulis di lauh mahfudz (ilmunya Allah Subhanahu wata’ala). Jadi yang dituliskan disisi Allah Subhanahu wata’ala ada yang mutlak dan ada yang muqayyad, yang mutlak yang akan terjadi sampai hari kiamat dan setiap diantara kita dituliskan oleh Allah Subhanahu wata’ala ketetapan umur dan rezki,  adapun yang muqayyad yang tergantung yang disampaikan oleh malaikat – malaikat Allah Subhanahu wata’ala, ketika fulan menyambung tali silaturrahim umurnya sekian jika tidak umurnya sekian dan hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)”. (QS. Ar Rad :39). Namun perubahan- perubahan itu semuanya telah tertulis di ummil kitab yang ada di ilmunya Allah Subhanahu wata’ala.

Sebagian ulama mengatakan bahwa penjelasan yang pertama paling tepat, ini adalah merupakan targib dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam agar amalan ini bisa kita kerjakan dan tentunya yang paling utama dan pertama yang ia hendak lakukan silaturrahim adalah yang masih ada hubungan keluarga atau kekerabatan dengan kita, terutama kepada kedua orang tua kita begitu pula dengan saudara-saudara kita yang intinya masih memiliki hubungan kekerabatan, dimulai dengan yang paling terdekat.

Olehnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih menganjurkan seseorang itu ketika hendak bersedekah hendaklah kepada orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya dibanding orang miskin yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengannya mengapa demikian agar mendapatkan 2 keutamaan yaitu keutamaan sedekah dan keutamaan silaturrahim. Dari Salman bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:

الصَّدَقَةُ عَلىَ الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ؛ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Shadaqah kepada orang miskin itu satu shadaqah. Dan shadaqah kepada kerabat itu dua shadaqah; shadaqah dan penyambung silaturahim.(HR. At-Tirmidzi no. 685, Abu Dawud no. 2335, An-Nasa`I 5/92, Ibnu Majah no. 1844. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan. Ibnu Hibban menshahihkannya).

Secara umum sesama kaum muslimin kita dianjurkan menyambung silaturrahim, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah”. (HR. Bukhari).

Bahkan disebutkan dalam hadist, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“. (HR Muslim no.2567).

Wallahu A’lam Bish Showaab


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Rabu, 25 Jumadil Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi :
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE : mim.or.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.