بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Anas bin Malik berkata kepada para tabiin:

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar”.(HR. Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6492).

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu adalah pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau juga termasuk sahabat yang dipanjangkan umurnya lebih dari 100 tahun sampai – sampai diakhir hayatnya ia tidak mampu berpuasa pada bulan suci ramadhan dan diakhir bulan ramadhan beliau mengumpulkan fakir miskin sekaligus beliau memberikan makan kepada mereka sebagai fidiyah karena beliau tidak mampu berpuasa , beliau pernah didoakan oleh Nabi dengan keberkahan harta dan anak, beliau pernah berkata:”Saya menguburkan dari ratusan cucu can cicit saya”, ketika beliau berangkat perang terkadang beliau didepan dengan menunggangi kuda kemudian dibelakangnya adalah anak – anaknya, Semua penduduk Madinah kurma mereka hanya berbuah sekali dalam setahun adapun Anas bin Malik kurma beliau berbuah 2 kali dalam setahun.

Anas bin Malik diberikan umur yang panjang sehingga beliau bertemu dengan para tabiin, Anas bin Malik mengatakan ini kepada para tabiin dizamannya lalu apa yang akan dikatakan oleh Anas bin Malik ketika melihat kondisi dan keadaan kita di zaman sekarang, olehnya sebagian sahabat ketika melihat kondisi dan keadaan para tabiin dari amalan yang mereka kerjakan ia berkata:”Adaikan Nabi melihat kalian maka beliau tidak akan melihat kalian yang tersisa kecuali shaff yang lurus dalam sholat adapun yang lain kebanyakan kalian sudah meninggalkannya dan ubah dan seterusnya”.

Ini merupakan tambih agar kita senantiasa muraqabatullah, senantiasa beragama sesuai aturan dan petunjuk dari Allah Subhanahu wata’ala dan tidak berpengaruh dengan zaman, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dalam hadist dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya”. (HR. Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308).

Inilah sifat yang dimiliki oleh orang munafik, jadi apa yang menjadi faktor pembeda antara kita dengan orang munafik adalah muraqabatullah dan jenis jiwa manusia sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an terbagi menjadi 3 yaitu:

1) Al-Muthma’innah (jiwa yang tenang)
2) Al-Ammaarah bi as-suu’ (jiwa yang suka menyuruh kepada perkara buruk)
3) Al-Lawwaamah (jiwa yang suka mencela)

Jiwa Mutmainnah yang senantiasa mengajak kepada kebenaran dimana ketika terjatuh dalam perbuatan dosa ia sangat menyesal atau bahkan ia mengerjakan dosa tanpa ia sengaja akan tetapi ia telah menganggap dosa tersebut sudah bisa menjadikan dirinya binasa. Hudzaifah ibnu Yaman Radhiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika ia ke masjid dan beliau terlambat dalam sholat jama’ah karena sebuah urusan ditengah jalan,  ketika beliau sampai di masjid beliau melihat orang – orang sudah selesai sholat dan balik ke rumah mereka masing – masing, melihat keadaan yang seperti itu beliau kemudian sembunyi dan ketika beliau ditanya:”Mengapa anda sembunyi..?”, beliau berkata:”Saya tidak bisa berjumpa dengan mereka betapa malunya saya, bagaimana mungkin saya yang terlambat berjumpa dengan orang yang telah kembali dari masjid”.

Mari memperbaharui keimanan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, mari senantiasa beristighfar kepada Allah Subhanahu wata’ala dan senantiasa memperbaharui janji kita kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jangan berputus asa, jika kita digelincirkan oleh syaithan maka kembali kepada Allah dan jangan menjadi orang yang berlezat – lezatan dengan dosa dan maksiat dan menyerah dari kondisi dan keadaan yang telah terjadi, seperti ketika ia berkata:”Orang – orang berbuat seperti itu, apa boleh buat sayapun tidak bisa melawannya”, jadilah orang – orang yang quraba diakhir zaman yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seperi orang yang menggenggam bara api, berjalanlah sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan jangan perduli dengan banyaknya orang – orang yang binasa dan ikutilah kebenaran dan jangan mundur dengan sedikitnya orang – orang yang mengikuti kebenaran itu.

Wallahu a’lam Bish Showaab 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.