بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Sufyan bin Shakr bin Harb Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang cerita raja Heraklius. Heraklius berkata:”Apa saja yang diperintah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Abu Sufyan berkata:”Aku lalu menjawab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ

“Sembahlah Allah semata dan jangan berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun. Tinggalkanlah perkara jahiliyah yang dikatakan nenek moyang kalian”. Beliau juga menyuruh kami untuk shalat, berlaku jujur, benar-benar menjaga kesucian diri (dari zina) dan menjalin hubungan silaturahim (menjaga hubungan dengan kerabat”. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 7 dan Muslim).

Abu Sufyan bin Shakr bin Harb Radhiyallahu ‘anhu sebelum masuk islam beliau sangat memusuhi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan beliau termasuk komandan yang memiliki pasukan dalam perang uhud dan perang ahzab melawan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, namun pada akhirnya beliau masuk dalam agama islam ditahun – tahun akhir setelah pada perjanjian hudaibiyah (Setelah fathul makkah).

Salah satu sebab Abu Sufyan bin Shakr bin Harb Radhiyallahu ‘anhu masuk islam yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat baik kepadanya, ketika Rasulullah mendapatkan ghanimah yang banyak beliau berikan 100 ekor unta dan pemberian harta yang lain kepada Abu Sufyan bin Shakr bin Harb bersama dengan 2 anaknya Yazid dan Muawiyah.

Suatu ketika Abu Sufyan bin Shakr bin Harb Radhiyallahu ‘anhu kembali dari sebuah perjalanan menuju negeri Syam, beliau dipanggil dan diundang oleh raja Heraklius yang menguasai Roma yang pada saat itu bermukim di syam, beliau pemimpin kaum nasrani yang memiliki laqab yang disebut dengan kaisar, kaisar adalah gelar bagi raja yang menguasai Roma di zaman dahulu, adapun Persia laqab bagi raja mereka adalah Kisra, Habasyah raja mereka bergelar najazy dan Mesir raja mereka bergelar fir’aun, jadi fir’aun banyak dan bukan hanya satu, dan jika disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an maka fir’aun yang dimaksudkan adalah raja yang se-zaman dengan Musa ‘Alaihissalam sebagaimana ketika disebut syaithan maka yang dimaksud adalah Iblis secara mutlak dan jika disebut dengan syayathin maka bermakna banyak yaitu Iblis dan bala tentarannya.

Heraklius adalah seorang raja yang cerdas dan juga dukun, ia telah membaca kitab Taurat dan Injil. Ia pernah bermimpi dalam mimpinya ia melihat telah muncul bintang dari arab cirinya dia berkhitan akhirnya beliau mengumpulkan para dukun dan bertanya:”Siapakah ummat yang berkhitan.?”, sebagian dari mereka berkata:”Mereka adalah orang – orang yahudi”, namun pendampingnya mengatakan:”Orang – orang yahudi sedikit kita bisa membunuh mereka”. Akhirnya ketika kafilah dari Abu Sofyan dari hijaz datang ke negeri Syam dan diketahui oleh Heraklius maka kafilah beliau dipanggil dan diperhadapkan kepada Heraklius, kemudian Abu Sofyan yang memimpin kafilah diperhadapkan kepada raja Heraklius dan ditanya:”Apa yang terjadi dikota hijaz (Makkah)”, maka disampaikanlah kabar tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, hal ini terjadi sebelum Abu Sofyan masuk islam, Heraklius kembali bertanya kepada Abu Sofyan:”Apa saja yang diperintah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam?”, Abu Sufyan berkata:”Aku lalu menjawab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sembahlah Allah semata dan jangan berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun.

Sebagian ulama berkata:”Abu Sofyan sengaja mengucapkan perkataan tersebut untuk membuat herakliaus marah agar ia membenci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam”.

 Tinggalkanlah perkara jahiliyah yang dikatakan nenek moyang kalian.”

Orang – orang Quraisy ketika mereka melakukan perbuatan keji, menyembah berhala mereka berkata, Sebagaimana Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al-Maidah: 104).

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (QS. Az Zukhruf: 22).

 قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

(Rasul itu) berkata:“Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?”, Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya“. (QS. Az Zukhruf : 24).

Jadi rasulullah menyuruh mereka untuk meninggalkan apa yang menjadi ungkapan – ungkapan dari nenek moyang mereka yang merupakan ungkapan – ungkapan jahiliyah, termasuk diantaranya adalah membangga-banggakan nasab karena kebiasaan orang – orang jahiliyah mereka suka menyebut nama bapak – bapak mereka dan suku mereka, oleh karenanya dalam Al-Qur’an Allah memberikan petunjuk kepada jama’ah haji ketika ke Masjidil haram atau ke arafah untuk memperbanyak berdzikir, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat“. (QS. Al-Baqarah : 200). Jadi jika ada yang membanggakan nasab dengan menyebut bapak – bapak mereka maka ia termasuk dari sifat kebiasaan orang – orang jahiliyah.

Beliau juga menyuruh kami untuk shalat,  

Kemunafikan baru dikenal khususnya dizaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu di Madinah, penyebabnya karena orang – orang yahudi yang terkenal dengan kemunafikannya hidup berdampingan dengan penduduk kota Madinah terutama sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atau sebelum beliau hijrah ke Madinah adapun ketika di Makkah hanya ada 2 yang dikenal yaitu kafir dan mukmin.

Jadi, Abu Sofyan jujur menyampaikan apa yang ia lihat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun ada niat yang lain untuk membuat Heraklius marah sehingga membenci Rasulullah. Salah satu diantara bukti kejujuran mereka orang – orang Quraisy yaitu pada saat perjanjian hudaibiyah dimana mereka mengutus seorang lelaki yang bernama Zuhail untuk menemui Rasulullah, Nabi bertanya kepada sahabat:”Siapa yang menjadi utusan mereka“, mereka (Sahabat) mengatakan:”Zuhail“, Rasulullah berkata:”Jika demikian urusan kalian akan mudah karena yang datang adalah Zuhail“. Zuhail artinya mudah.

Maka terjadilah perjanjian, Ali Radhiyallahu ‘anhu menulis isi perjanjian:”Ini perjanjian antara Muhammad Rasulullah”, Zuhail berkata:”Hapus Rasulullah”, Ali tidak mau menghapus, Rasulullah berkata kepada Ali:”Hapuslah”, Ali tetap tidak mau menghapusnya. Akhirnya Rasulullah sendiri menghapus dengan tangannya, Zuhail berkata:”Andaikan kami beriman bahwasanya dia adalah Rasulullah maka tidak perlu ada yang seperti ini”, hal ini menunjukkan Zuhail jujur dalam kekufurannya.

Inilah makna dari hadist:

 إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (Hadits Shahih lighairihi diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal). Karena orang – orang jahiliyah mereka memiliki akhlak bawaan yang mulia sehingga Rasulullah hanya menyempurnakan akhlak mereka dan menyingkirkan akhlak yang buruk.

Abdullah Ibnu Syaqiq Rahimahullah berkata:”Tidaklah sahabat – sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana mereka melihat tidak ada amalan yang ketika ditinggalkan pelakunya akan kafir kecuali amalan sholat”.

Oleh karenanya perjanjian kita dengan orang – orang kafir adalah sholat siapa yang meninggalkannya maka dia kafir terutama yang meninggalkan dengan cara sengaja, adapun orang yang meninggalkan sholat karena malas tetapi dia meyakini kewajibannya terjadi khilaf dikalangan para ulama namun yang shahih hukumnya kafir, khilaf ini terjadi antara Imam Syafii dan Imam Ahmad dan pelajaran yang bisa kita ambil dari khilaf ini adalah keduanya berselisih dalam masalah prinsip, tapi apakah mereka setelah berselisih saling memboikot antara satu dengan yang lain. Tidak sampai demikian Imam Ahmad berkata:”Imam Syafii kekasih hatiku”, Imam Syafii berkata:”Saya meninggalkan kota Baghdad dan saya tidak melihat seseorang yang lebih faqih, lebih wara dan lebih berilmu dari Ahmad bin Hanbal”. Mereka saling memuji adapun sekarang perselisihan dalam perkara ijtihadiyah hanya karena menyelisihi pendapat panutan atau guru tertentu maka mereka saling mengeluarkan dari Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 25 Jumadil Akhir 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR