بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Muhasabah Sebelum Berada dialam Kubur

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk berlindung dari azab kubur, diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk berlindung dari azab kubur adalah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ  ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal”. (HR. Bukhari-Muslim). Setiap tasyahud akhir sholat kita diperintah untuk membacanya.

Suatu ketika Hasan Al Basri berada dikuburan mengantar salah seorang jenasah, berdiri didekat beliau seorang pemuda, beliau bertanya kepada anak muda itu:“Wahai anak muda andaikan engkau berada pada posisi orang yang dikuburkan ini dan engkau diberi kesempatan untuk kembali lagi apa yang engkau lakukan“, anak muda ini berkata:”Tentu saya akan lebih giat untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala”, Hasan Al Basri berkata:”Ketahuilah anak muda engkau sekarang dalam kesempatan itu dan orang yang dimasukkan ke dalam liang lahat tidak mampu berbuat apa – apa, tidak mampu menambah kebaikan dan tidak mampu mengurangi keburukan, lembaran amalannya telah ditutup”, Hasan Al Basri berkata lagi :”Wahai anak muda andaikan ia diberikan kesempatan untuk hidup maka ia akan mengerjakan seperti yang engkau katakan olehnya pergunakan kesempatan itu sekarang”.

Inilah yang menjadi sebab kita disunnahkan untuk bersiarah kubur tujuannya adalah untuk mengingat mati,  sebab mengingat akhirat akan melembutkan hati – hati kita, boleh jadi orang yang berada dalam kuburan adalah orang yang sangat terpandang didunia semasa hidupnya namun didalam kuburnya ia adalah orang yang disiksa sampai datangnya hari kiamat, inilah pentingnya kita muhasabah, dalam hadist Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata:“Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya:”Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’, Rasulullah menjawab:”Yang paling baik akhlaknya”. Kemudian ia bertanya lagi:”Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?”. Beliau menjawab:”Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas”. (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan).

Dalam hadist yang lain:

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”. (HR. Ibnu Majah).

Menundukkan Hawa Nafsu

Jiwa senantiasa mengajak kepada keburukan sebagaimana disebutkan dalam surah Yusuf Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang“. (QS. Yusuf : 53).

Namun barangsiapa yang mampu mengarahkan nafsunya dijalan Allah maka surgalah tempat kembalinya, Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun siapa yang takut kepada kedudukan Rabbnya dan menahan jiwanya dari hawa nafsu, maka sesungguhnya surga adalah tempat kembalinya”. (QS. An-Naziat: 40-41).

Jika seseorang mampu menundukkan hawa nafsunya maka ia tidak menjadi orang yang ikut – ikutan kepada orang – orang yang berbuat maksiat, setiap manusia mampu untuk mengerjakan keburukan dan maksiat serta didukung oleh potensi yang ia miliki seperti harta, kesehatan, kekuatan akan tetapi dia lebih takut kepada Allah Subhanahu wata’ala shingga ia menekan dan menahan hawa nafsunya maka surgalah tempat kembalinya kata Allah Subhanahu wata’ala.

Selisihi panggilan jiwa yang buruk dalam jiwa kita tatkala telah datang waktu untuk mengerjakan ibadah kemudian muncul rasa malas dan parasangka buruk maka lawan penggilan jiwa buruk tersebut agar mudah dan ringan mengerjakan ibadah jika perlu paksa.

Terkadang ketika datang waktu pengajian jiwa kita berkata jangan pergi pengajian karena bisa disimak melalui live streaming oleh karenanya jika bisikan ini muncul lawan dengan mengingat keutamaman menghadiri langsung majelis ilmu dimana langkah-langkah kaki bernilai pahala disisi Allah Subhanahu wata’ala begitupula didoakan oleh para malaikat dan menjadi sebab dosa – dosa berguguran dan seterusnya.

Begitupula ketika bersedekah datang panggilan jiwa bebisik jangan engkau bersedekah nanti engkau jatuh miskin olehnya lawan jiwa yang buruk tersebut karena syaithan senantiasa membisikkan kemiskinan ketika kita bersedekah dijalan Allah Subhanahu wata’ala.

Nafsu tidak dimatikan akan tetapi bisa diarahkan, kemudian Rasulullah berkata :”Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”. (HR. Ibnu Majah). Ini merupakan jalan syaithan agar kita menunda– nunda mengerjakan kebaikan, menunda – nunda taubat, dll.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

 وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui“. (QS. Ali – Imran: 135).

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik”. (HR. Ahmad 5: 363).

Penting bagi kita untuk senantiasa muhasabah diri menimbang antara kebaikan dan keburukan yang kita kerjakan, sebagaimana dalam lanjutan firmanAllah:”Bertakwalah kalian kepada Allah karena Allah Maha tahu apa yang kalian kerjakan“.

Barangsiapa yang senantiasa muhasabah dirinya didunia ini maka akan diringankan hisabnya pada hari kemudian. Umar Radhiyallahu anhu berkata:”Hisablah diri kalian sebelum dihisab dihari kemudian, timbang – timbanglah amalan kalian sebelum ditimbang dihari kemudian, dan berhislah kalian untuk hari ketika setiap manusia diperhadapkan kepada Allah Subhanahu wata’ala  dimana tak satupun yang mampu bersembunyi dari Allah Subhanahu wata’ala. Jika kita menyibukkan diri untuk menimbang dan menghisab amalan kebaikan dan keburukan kita maka kita akan mendapatkan aib – aib dan kekurangan kita, ulama kita mengatakan perkara yang sangat penting bagi kita untuk muhasabah adalah bagaimana kita mengerjakan perintah-perintah Allah yang wajib , bagaimana kita meningalkan perkara yang diharamkan oleh Allah, bagaimana meninggalkan perkara –perkara yang tidak bermanfaat , kemudian memuhasabah anggota tubuh kita.

Buah dari Muhasabah

Jika kita mendapatkan kebaikan untuk diri kita maka lakukan hal berikut:

  1. Bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wata’ala

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh“. (QS. An‐Naml: 19).

  1. Jangan tertipu dengan melihat diri kita sebagai orang yang paling sholeh

Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah meruqiyah salah seorang yang kesurupan dimana  jinnnya dipaksa keluar dengan dipukul oleh beliau, jinnya berkata:”Saya keluar dari tubuh ini sebagai bentuk penghormatan saya kepada Syaikh”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:”Saya tidak mau tertipu dengan perkataan itu, Jangan engkau keluar karena saya, keluarlah karena taat kepada Allah Subhanahu wata’ala”.

  1. Jika kita melihat diri kita terdapat banyak kekurangan segeralah bertaubat sebelum waktu berakhir, sebelum pintu taubat ditutup oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sebelum kesempatan itu dicabut dari kita. Periksalah diri kita masing – masing dengan ibadah dan amalan sholeh yang selama ini kita kerjakan  ketakwaan dan kesholehan kita kepada Allah , bagaimana semanagat kita didalam membaca Al-Qur’an , bagaimana hubungan kita kepada Allah dan bagaimana hubungan kita kepada manusia terutama kepada kedua orang tua kita, kita merenungi diri – diri kita untuk memperbaiki diri kita dan beginilah para salafhussoleh ketika mereka hidup ada diantara mereka Qiyamullail hanya dengan satu ayat , dan ada yang membaca ayat yang terus ia ulangi sampai subuh,

Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah Qiyamullail hanya dengan satu ayat yaitu ayat pertama dari surah Qasyiah begitupula dengan Umar bin Abdul Aziz pernah Qiyamullail hanya dengan membaca satu ayat beliau kemudian menangis sepanjang malam dan keluarganya juga ikut menangis bahkan tetangganya juga ikut menangis, keesokan harinya beliau ditanya:”Apa yang membuat anda menangis“, beliau berkata:”Karena saya membaca firman Allah yang berbunyi “Sebagian manusia ada yang dimasukkan ke dalam neraka dan sebagian ada yang dimasukkan ke dalam surga dan saya tidak tahu kemana saya akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wata’ala”, muhasabahlah sampai mengeluarkan air mata penyesalan bahkan menangisi kekerasan hati kita, menangislah kalian jika kalian tidak mampu menangis maka tangisilah diri kalian kenapa kalian tidak mampu menangis. Pada hari kiamat ada 3 mata yang tidak disiksa sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya, beliau bersabda:

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang bermalam (begadang) untuk berjaga-jaga (dari serangan musuh) ketika berperang di jalan Allah”. (HR. Tirmidzi. Hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalan lainnya- , sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1229).

Thabit al-Bunani Rahimahullah sampai dalam sirah dan sejarah disebutkan kelopak mata beliau hampir keluar karena beliau banyak menangis, ketika dia periksa ke dokter, dokter mengatakan:”Saya bisa mengobati mata anda ini akan tetapi dengan syarat jangan menangis”, dia berkata:”Anda melarang saya untuk menangis tidak ada kebaikan pada mata yang tidak menangis karena Allah”.

Kita muhasabah dari apa yang selama ini kita sering tangisi apakah karena club sepakbola kesayangan kita kalah atau disebabkan karena kita bangkrut dalam usaha dan bisnis kita atau tidak terwujudnya apa yang kita cita-citakan didunia ini, maka sungguh rendah tangisan yang seperti ini walaupun hal ini wajar dan manusiawi akan tetapi pernahkah kita menangis merenungi dosa – dosa kita, kelalaian kita, mengingat gelapnya kubur, mengingat beratnya perjalanan akhirat, mengingat dimana kita akan ditempatkan oleh Allah, apakah disurga atau di neraka. Oleh karenanya perbaiki diri kita disisa umur yang Allah berikan, ubah kebiasaan buruk yang kita kerjakan selama ini dengan kebaikan dan amalan sholeh serta perbanyak bertaubat kepada Allah Subhanahu wata’ala. 

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Kamis, 18 Rabiul Awal 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR