بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memangku cucunya yang bernama Al Hasan ibn Ali, beliau berkata”Sesungguhnya anak ku ini adalah seorang sayyid dan Allah Subhanahu wata’ala akan menjadikannya sebagai sebab untuk mendamaikan 2 kelompok yang bertikai”. Pada waktu itu bertikai kelompok Muawiyah dan Ali Radhiyallahu ‘anhu sampai dikenal sebagai peristiwa amul jama’ah karena terjadi persatuan antara kaum muslimin, begitupula jika pertikaian atau perselisihan terjadi dikalangan ikhwah yang satu dengan ikhwah yang lain maka wajib untuk mendamaikan mereka.

Ada penyakit sebagian orang dimana senang melihat ketika orang lain saling bertikai bahkan ia memancing di air yang keruh dan menjadikan perpecahan itu semakin menguat dan membesar sampai pada suami istri, jika ada pertikaian antara suami dan istri  maka dibolehkan pihak ke 3 jika terpaksa untuk mendamaikan mereka, Allah berfirman:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. (QS. An-Nisa’ : 35).

Jika keduanya memiliki keinginan yang baik untuk berdamai maka Allah akan mendamaikan diantara mereka, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan dalam firmannya:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. An-Nisa’ : 128).

Dalam ayat diatas Allah mengatakan:”Dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)”, ayat ini berkaitan dengan perselisihan diantara suami istri namun berlaku secara umum.

Salah satu diantara sebab terwujudnya perdamaian diantara orang yang berselisih adalah ketika mereka saling toleransi dalam menuntut haknya dan tidak menuntut haknya secara sempurna, sebagaimana yang pernah terjadi dizaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pernah mendengar suara yang meninggi dari seseorang yang sedang bertikai didalam masjid, ketika beliau masuk, beliau melihat Kaab ibn Malik Radhiyallahu ‘anhu bertikai dengan salah seorang sahabat disebabkan karena utang diantara mereka, Kaab ibn Malik Radhiyallahu ‘anhu menagih saudaranya tersebut namun orang ini mengatakan:”Saya belum mampu”, Rasulullah kemudian keluar dan memberi syarat kepada Kaab untuk memberikan sedikit keringanan kepada saudaranya, akhirnya Rasulullah memaafkan separuhnya dan memerintahkan yang lain untuk membayar utangnya. Jadi ketika seseorang tidak terlalu menuntut haknya maka perdamaian bisa terjadi, begitupula misalkan jika kita bertikai dengan saudara kita kemudian kita menganggap diri kita berada pada pihak yang benar namun terkadang kita mengalah bukan berarti kalah akan tetapi menginginkan apa yang berada disisi Allah Subhanahu wata’ala, bahkan terkadang kita mendahului saudara kita dan ini bukanlah menunjukkan kekurangan dan kelemahan kita akan tetapi ruju yang menunjukkan bahwa apa yang berada disisi Allah Subhanahu wata’ala jauh lebih baik, apalagi jika sebab perselisihan hanyalah perkara – perkara duniawi.

Terkadang ada 2 orang saudara kandung  se ayah dan se ibu mereka bertengkar sampai ke pengadilan, setelah mereka meninggal pertikaian dilanjutkan oleh anak cucu dari keduanya padahal pertikaian hanya disebabkan sejengkal tanah yang mereka perebutkan, namun jika hati seseorang bergantung dengan akhirat kemudian perselisihan hanya disebabkan perkara – perkara dunia maka ia akan berkata:”Andaikan dunia berserta isinya menjadi sebab perdamaian diantara kita maka silahkan ambil semuanya, karena dunia ini tidak ada nilainya disisi Allah Subhanahu wata’ala”.

Jika salah satu dari 2 kelompok ini sudah berusaha untuk didamaikan dengan cara yang terbaik, misalkan perdamaian telah disepakati tetapi salah satu diantara mereka berbuat dzalim dengan melanggar perjanjian yang telah disepakati maka perangilah kelompok yang berbuat dzalim sampai ia kembali kepada syariat Allah Subhanahu wata’ala, ini sebagaimana sabda dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi”.

فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ « تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ »

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?, Beliau menjawab:”Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya”. (HR. Bukhari, no. 6952; Muslim, no. 2584).

Namun jika ia memaksa untuk berbuat dzalim kepada yang lain maka tidak mengapa kemudian diperangi sesuai dengan hajat dan maslahat yang hendak didapatkan. Ayat ini juga menunjukkan kepada kita bahwasanya pelaku dosa besar itu selama tidak sampai pada derajat kekufuran dan kesyirikan maka mereka tidak kekal didalam neraka dan tidak dikafirkan, kita tidak seperti dengan orang – orang khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar dengan dalil dalam firman Allah Subhanahu wata’ala yang mereka tidak pahami.

Jika pertikaian atau peperangan itu disebabkan karena ijtihad diantara mereka yang ketika ijtihadnya benar ia mendapatkan 2 pahala namun jika keliru mendapatkan satu pahala, seperti fitnah yang terjadi dikalangan para sahabat, Abdullah Ibnu Mubarak ketika ditanya tentang fitnah yang terjadi dikalangan sahabat beliau berkata:”Penghuni surga yang memerangi penghuni surga”, terkadang pertikaian terjadi dengan sebab-sebab yang lain, atau misalkan ada yang mengadu domba.

Seseorang yang hendak mendamaikan 2 orang yang berselisih harus memiliki sifat adil karena Allah mengatakan:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِنْ تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَنْ يَضُرُّوكَ شَيْئًا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil“. (QS. Al-Ma’idah : 42).

Bedakan Muqsit dengan Qasit, Qasit yang berlaku dzalim adapun Muqsit orang yang berlaku adil, sampai dalam keluarga ketika seorang bapak mendamaikan anaknya atau suami istri hendak berdamai dan hal ini pernah dicotohkan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Besambung : Tafsir Surah Al-Hujurat ayat 9 Sesi 3

Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 24 Rajab 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

Print Friendly, PDF & Email

TINGGALKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.